
Dengan berkas perusahaan yang sudah di tanda tangani Zara, Manu melajukan mobil menuju perusahaan.
Dari pintu gerbang sapaan para satpam menyambutnya.
"Selama siang Tuan."
"Siang, apa tamu langgganan kita sudah datang hari ini" Sindir Manu.
"Sudah Tuan, mereka ada di kantin karena kami tak membiarkan mereka masuk ke ruangan Tuan."
Manu mengangguk, mungkin sebaiknya pertemuan Menteri itu dengan Gunawan di lakukan sekarang saja, pikir Manu.
Sementara di kantin sepasang suami istri paruh baya tampak duduk dengan kesu di kursi kantin.
Karena memang bukan jam istirahat tentu saja keadaan kantin sepi.
"Pak ...bagaiman nanti nasib kita, apakah Tuan Awan benar-benar akan menarik semua sahammya?"
"Entahlah Bu, aku pun hanya bisa ber do'a semoga beliau masih mau mengampuni kita."
"Benar Pak dan kesalahan Putri kita pun bisa di maklumi."
"Tidak, aku nggak mau lagi urusin anak tak tahu diri itu Bu, aku sudah muak akan kesombongan dan keserakahannya, itu semua gara-gara kamu Bu."
Wanita paruh baya itu tertunduk lesu, ia memang bersalah karena selalu memanjakan Fitri dengan harta dan kasih sayang berlebihan, yang kini akhirnya menjadi bumerang baginya.
Fitri tumbuh menjadi gadis manja dan arogan, bahkan kini sifatnya semakin menjadi, tingkahnya sudah membahayakan keselamatan orang lain.
Mereka kini hanya bisa pasrah jika Gunawan dan Zara akan menuntutnya ke ranah hukum.
"Mungkin memang sudah tamat nasib kita Bu, tahun depan pun aku tak akan bisa lagi mendapatkan kursi di pemerintahan dan semua perusahaan bangkrut, bisnis kita yang lain pasti akan ikut terkena imbasnya, Tuan Awan bisa dengan mudah melumpuhkan semua bisnis yang aku kelola selama ini."
"Sudahlah Pak, kita harus tetap berdo'a dan mencoba meminta agar Tuan Awan mau memaafkan kita, tapi aku masih ragu apakah benar gadis itu putrinya" ucap wanita paruh baya itu sambil menerawang jauh.
Tak tok tak.
"Maaf ....Tuan dan Nyonya di minta datang ke kantor sekarang juga" ucap seorang satpam ramah.
"Apa Tuan Awan sudah datang.." tanya Pak Menteri penuh harap.
"Bukan wewenang kami untuk menjawap pertanyaan Tuan, kami hanya di beri perintah agar menjemput kalian berdua" jawab satpam itu bijak.
Bergegas sepasang suami istri itu mengikuti langkah satpam tersebut.
Wajah keduanya tampak tegang, bahkan pucuk jemari wanita itu terasa dingin.
Ruangan yang kosong tampak hening, Manu belum datang ke ruangan yang di janjikan.
__ADS_1
Suami istri itu duduk berdampingan dan saling diam membisu, dengan berbagai fikiran memenuhi kepalanya, bunyi nafas terdengar jelas, berkali-kali Pak Menteri mengambil nafas lanjang dan menghempaskannya dengan kasar.
Sekian tahun bekerja sama dengan perusahaan besar itu, tak sekalipun Tuan Awan menampakkan diri, semua urusan kantor di tangani sepenuhnya oleh asistennya Manu.
Dan baru kemarin lah ia bisa melihat langsung sosok Awan yang tak lain adalah Gunawan Ayah dari Zara.
Tok tok tok.
Ketukan pintu membuyarkan lamunan keduanya.
Ceklek.
Sepersekian detik keduanya menahan nafas.
Benar saja, kali ini Gunawan benar-benar muncul untuk menemui mereka.
Senyum lega terbit dari bibir Pak Menteri.
Ia menunduk hormat di ikuti sang istri yang ikut membungkukan kepalanya.
Gunawan hanya membuang pandangan, hatinya masih ada rasa kesal pada kedua orang yersebut.
Manu menarik kursi untuk Gunawan lalu ia berdiri di sampingnya.
"Beberapa hari ini kalian selalu datang ke perusahaanku, ada hal penting apa yang membuat kalian begitu ingin menemuiku" tanya Gunawan tanpa basa basi.
Pak Menteri menelan ludah kasar.
"M ..maafkan kalau keberadaan kami sudah menganggu Tuan, kami hanya ingin Tuan mau mengampuni kami, tolong maafkan kami tuan."
Semua harga diri telah ia tanggalkan demi kelangsungan hidupnya, Menteri itu tak lagi menampakan kesombongan yang selalu ia perlihatkan di balik sikap hangatnya, ia terus menunduk dengan wajah penuh penyesalan, begitupun sang ustri, wanita paruh baya yang selalu bergaya glamor kini tampak lusuh dan kusam.
Tak ada lagi wajah glowing shimering splendid seperti biasanya, baju, tas, dan sepatu ber merk yang selalu ia pakai kini tak lagi melekat di tubuhnya.
Wajah ibu menteri bahkan terlihat sayu dan tak bercahaya.
Mana mungkin ia masih memikirkan untuk pergi ke salon atau shoping saat semua bisnis suaminya terancam bangkrut.
"Bagus kalau kau masih memiliki rasa bersalah dan berniat meminta maaf, tapi ketahuilah, untuk saat ini semua perusahaan dan bisnisku bukan aku lagi yang memilikinya .."
Sepasang suami istri itu saling pandang, jika Gunawan sudah tak lagi memiliki hak maka siapakah yang menggantikannya.
"Nu aku pergi, untuk rapat ini semua aku serahkan padamu" Gunawan lalu pergi tanpa menghiraukan kedua orang yang kini masih diliputi berbagai pertanyaan.
"Maaf Tuan Manu, apakah yang di katakan Tuan Gunawan tadi benar adanya?"tanya Pak Menteri.
Manu menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Benar Pak Menteri, sekarang semua perusahaan dan bisnis Tuan Awan sudah beliau serahkan pada putrinya, dan hanya dialah yang saat ini berhak atas semua transaksi perusahaan."
"Lalu apakah benar putri Taun Awan adalah Nona Zara, seperti yang di jatakan tempo hari?"
Manu mengangguk.
"Maaf Bapak dan Ibu, saya mohon pamit, ada urusan lain yang harus saya sekesaikan" Manu mengangguk lalu melangkah pergi meninggalkan pejabat negri yang sudah tak memiliki nyali lagi itu.
"Tuan Manu tunggu.."Pak Menteri berteriak dan mengejar Manu.
"Kenapa Pak?"
"B bagaimana kami bisa bertemu dengan Nona Zara, di mana kami bisa bertemu dengannya."
"Hm Nona Zara sekarang mungkin sedang di rumah keluarga suaminya."
"A apa...jadi mereka sudah menikah?" tanya Ibu Menteri tak percaya.
"Benar, mereja sudah menikah kemarin, meski belum ada pesta perayaan tapi pernikahan mereka sah di mata agama dan hukum, dan tak ada lagi yang bisa memisahkan mereka, dan satu lagi, saat ini dia juga berhak untuk memenjarakan putri anda karena telah melakukan kejahatan yang sudah mengancam jiwanya, semua saksi dan bukti sudah kami dapat, berdo'a lah agar Nona Zara tak menuntut hukuman mati pada putri kalian" Manu berucap sinis lalu pergi meninggalkan ruangan.
Jederr.
Sepasang suami istri itu terhuyun, wajah keduanya memucat, tubuh lemas bagai tak bertulang membuat keduanya saling berpegang erat.
"Pak bagaimana ini Pak?.."
"Entahlah Bu..., entah bagaiman nasib putri kita nanti."
Pak menteri berusaha memapah sang istri menuju ke mobil mereka.
"Ayo kita langsung pulang" ucapnya pada sang sopir.
keduanya menyandarkan tubuh di sandaran kursi tanpa bisa berkata-kata, suasana mobil tampak hening, sang sopir yang beberapa kali melirik dari kaca pun segan untuk bertanya.
Andra yang masih fokus pada kemudi melirik ke sampingnya.
"Apa yqng sedang kau pikirkan sayang?" tanya nya lembut.
"Entahlah Babe, aku bingung dengan keputusan Ayah, aku ragu dan rasanya aku tak bisa menggantikan Ayah untuk mengurusi perusahaan, aku sama sekali tak paham dunia bisnis Babe."
"Tenang lah sayang, mana mungkin bisa kalau kau belum belajar dan mencoba, aku yakin kepintaran Ayahmu pasti akan menurun padamu, jangan berkecil hati sayang aku akan selalu mendukungmu."
Zara tersenyum masam, mana mungkin ia akan menguasai bisnis jika mengenal pun tak pernah.
"Apa sebaiknya aku batalin saja ya Babe ....aahhh awas " teriakan Zara melengking saat tiba-tiba sebuah mobil memotong jalur dan berhenti di depan mereka.
Untung Andra reflek langsung menginjak rem hingga benturan tak terjadi.
__ADS_1
"Brengsek...siapa yang berani mencari mati denganku..."