Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*74


__ADS_3

Wajah muram terlihat di raut wajah Andra, Jika pagi hari ia begitu bersemangat karena bisa berdekatan dengan Zara sepanjang hari, namun kenyataan pahit membuat matanya terbuka.


Andra menyaksikan tatapan para pria yang menatap kagum ke arah Zara, bahkan ada seorang ibu-ibu yang secara terang-terangan memintanya untuk menjadi menantunya.


Geram hati sang putra terbaca oleh Maharani.


"Bagaimana situasi butik Joy, apa Zara betah di sana?"


Andra mengangguk, karena memang penjualan di butik sejak kehadiran Zara mengalami peningkatan.


Maharani tersenyum puas, data yang tertulis di buku sungguh membuatnya senang, baru beberapa hari Zara bekerja sudah membuat butik mengalami omset kenaikan hampir lima puluh persen.


Namun entah kenapa Andra seakan tak rela jika para pengunjung butik dapat melihat wajah manis Zara sepuasnya, Andra tak ingin berbagi, Zara adalah miliknya meski sedikit egois tapi Andra tak ingin Zara menjadi konsumsi publik secara langsung.


Apa aku harus memecatnya, batin Andra.


Tapi Zara tentu akan sangat sedih jika ia tanpa alasan memecat gadis itu.


"Joy, kenapa kamu nak?" tanya Maharani, wajah murung putranya sungguh berbeda saat pagi tadi ia berangkat.


"T tidak apa-apa mom, aku mau ke kamar mom."


Maharani menautkan alisnya, apa ada sesuatu terjadi yang membuat hati putranya menjadi murung, batinnyĆ .


Apakah karena keinginanya tidak terpenuhi, pikirnya lagi.


Beberapa hari lalu putranya bersikeras untuk membuat ukuran rok yang lebih panjang dari karyawan lain untuk di pakai Zara, tapi Maharani tak bisa mengabulkannya karena Zara pun menginginkan perlakuan yang sama dengan karyawan lain.


"Apa mommy punya salah sama kamu nak?" ucap Maharani pelan.


Andra menggeleng lemah.


Yang salah putramu ini mom, aku yang sangat takut kehilangan dia.


Merasa sang putra tak ingin membagi keresahan hatinya, Maharani pun memaklumi hal tersebut.


Dia hanya berharap semoga kini Joy dapat lebih dewasa dalam menyikapi suatu masalah.

__ADS_1


Masih teringat kala Joy mengamuk tanpa henti, bahkan sampai menyakiti tubuhnya sendiri dengan mengurung diri di kamar tanpa makan dan minum.


Hancur hatinya saat mengetahui ternyata Shanum, gadis pemilik cinta pertamanya sudah menjadi milik orang lain.


Remuk redam hati Maharani kala melihat kondisi sang putra yang sangat memprihatinkan.


Setelah dua tahun ia berhasil menyembuhkan luka hatinya, Joy kembali pulang ke tanah kelahiran dengan jiwa dan semangat baru.


Hanya tatapan iba pada sang putra dan berdo'a semoga apa yang menjadi impiannya menjadi kenyataan, tanpa ingin mencampuri urusannya, Maharani melangkah memasuki kamar.


"Mom.." panggil Andra pelan.


"Heum, ada apa sayang?"


"Aku mau bicara bentar."


Maharani pun membalikan tubuhnya dan menuju ke ruang tengah di ikuti Andra.


"Bicaralah, akan mommy dengarkan."


Maharani menatap sang putra intens, mencoba menyelami isi hati putra satu-satunya itu.


"Kenapa memangnya Joy, apa Zara tidak betah di tempatnya sekarang?"


Andra menggeleng perlahan.


"Lalu?"


"Ehm, aku cuma nggak mau Zara banyak yang liatin mom, bukannya nggak rela, cuma kesal aja, mereka datang ke butik bukannya beli baju malah cuma ingin liat wajah Zara, kan jadi riweuh mah" jelas Andra yang tanpa sadar sudah mengatakan tak langsung bahwa dirinya merasa cemburu.


Kedua alis Maharani terangkat, rupanya inti dari permasalahan yang mengganggu sang putra adalah sifat posesifnya.


Joy tak ingin berbagi keindahan kekasihnya itu dengan orang lain, meski profesinya sebagai seorang model yang tentu saja wajah dan tubuhnya sering terpampang di berbagai majalah, batin maharani.


"Hm nanti akan mommy pikirkan, dimana posisi yang tepat untuknya" ucap Maharani lembut agar hati Joy menjadi tenang.


"Aku minta kalau bisa Zara kerjanya di belakang layar mom."

__ADS_1


"Maksudnya kayak sutradara gitu?"


"Ya nggak gitu juga mom, ya paling enggak di depan meja deh, yang nggak bisa di lihat oleh semua orang yang tidak berkepentingan."


"Kamu itu ya Joy, buat mommy bingung, dia kan model ya tentu saja orang-orang biasa melihatnya di majalah, maupun media lain, dan kamu seharusnya bangga dong memiliki seorang kekasih yang cantik dan di sukai banyak orang."


Maharani sungguh gemas dan ingin menggoda sang putra posesifnya itu.


"Ish mom, ah mommy nggak asik" ujarnya kesal dan melangkah pergi meninggalkan mommy yang tertawa lirih.


Sementara itu Zara terlihat mendesis dengan tangan memijit kedua betisnya perlahan.


"Pake ini, biar kaki lu nggak bengkak" Dewi menyodorkan es batu yang di bungkus dengan sapu tangan.


"Terima kasih" ucap Zara haru, perhatian sahabatnya itu memang sudah seperti saudara kandung sendiri.


"Lu emang nggak gantian Ra, bukannya bisa rolling sama karyawan lain?" Dewi yang berpengalaman di tempat kerja pun memiliki pemikiran aneh, bagaimana mungkin seorang karyawan di biarkan berdiri berjam-jam tanpa istirahat sedangkan butik tersebut adakah salah satu butik ternama yang tentu saja keamanan dan kenyamanan para karyawan terjamin.


"Ehm tidak tahu Wi, tadi pun saat gue minta pada Septi untuk menggantikan sebentar karena gue mau ke kamar kecil malah dia marah-marah, katanya gue nggak profesional dan nggak disiplin" ujar Zara dengan kesal.


"Ya elaahh ubur-ubur...terang aja lu di omelin sama tu nenek sihir, masa si lu nggak ngerti tatapan mata penuh iri dan dengkinya, lu tu ya Ra, jadi orang jangan terlalu polos dan lugu, bisa-bisa lu mati berdiri tau, lu nggak boleh diem aja di injak-injak, meski karyawan baru lu harus memiliki sikap tegas, berani karena benar dan takut karena salah, selama kita tak melakukan sesuatu yang melanggar aturan di butik, ya kita fine-fine aja, nggak usah takut sama yang lain, meski mereka senior tetapi kita tak harus selalu tunduk pada perintah mereka, jangan biarkan kita di jadikan alas kaki oleh mereka, toh bukan dia yang nge gajih elu" dada Dewi naik turun karena kesal.


Memang Zara adalah gadis yang berhati lembut, itulah yang menjadi bumerang untuk dirinya.


Kelembutan sikapnya membuat orang lain bisa melakukan hal seenaknya pada Zara, karena mereka tahu Zara tak akan berani menolak apalagi membantah apapun yang nereka titahkan.


"Ra, lu denger gue ya, mulai besok lu harus tegas, lu nggak boleh lemah, apalagi menye-menye lemah gemulai di depannya, lu harus berani berontak, kalau lu masih saja lemah dan nurut apa yang tu nenek sihir perintahkan, gue akan bilang pada kak Andra gue a..."


"Iya, iya gue akan nurut ..." Zara cepat menimpali kalimat Dewi, ia tak ingin Andra mengetahui apa yang di alaminya di butik.


"Lu nurut ama siapa hah, mau nurut sama Septi si nenek sihir itu heum?"


"Kagak Wi, gue maksudnya mau nurut kata-kata elu, gue harus tegas dan nggak boleh terlihat lemah di depan Septi, gitu kan?" ujar Zara dengan tatapan menyala.


Dewi tersenyum masam, meski tatapan Zara begitu penuh amarah namun ia tahu hati sahabatnya itu tak akan pernah bisa bersikap keras meski pada orang yang telah menyakitinya, hati Zara begitu lembut selembut sutra.


Jika lu tak sanggup membalasnya maka biar tangan gue yang akan membuatnya jera.

__ADS_1


__ADS_2