Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*103


__ADS_3

"Teman? maksudmu Fitri?" tanya Andra semangat.


Jika benar dugaannya bahwa Zara mendiamkannya karena sedang marah dan cemburu pada Fitri.


Oh alangkah senang hatinya.


Bukankah cemburu datang karena adanya rasa cinta, batin Andra bahagia.


"Ra, dia itu teman ku, teman semasa aku kuliah di X, kami baru bertemu setelah beberapa tahun berpisah" terang Andra antusias.


Zara membuang pandangannya jengah.


Mana ada, teman tapi selalu berpegangan tangan erat, terus bergandengan bak sejoli yang sedang di mabuk cinta, ucap batinnya geram.


Andra tersenyum melihat Zara yang masih tak mempercayai kata-katanya.


"Dia hari ini bahkan mau datang ke mansion, mau ketemu sama mommy, karena mommy sudah menganggap dia itu teman akrabku Ra" ucap Andra panjang kali lebar, tak merasa bahwa kalimatnya justru menjadi bumerang baginya.


Wanita mana yang senang melihat kedekatan ibu kekasihnya dengan gadis lain.


Ups, hati Zara mencelos saat menyadari bahwa sekarang dirinya tak suka jika ada gadis lain lebih akrab dengan keluarga prianya.


Benarkah ia sudah menganggap Andra sebagai pria nya, pikir Zara dalam hati.


"Ehm baiklah, aku akan jelaskan."


Andra dengan tenang dan rinci, menceritakan tentang asal mula kisah persahabatannya dengan Fitri yng terjalin saat dia pergi meneruskan kuliah di negara x .


Di tengah keterpurukan hidupnya karena hatinya yang hancur saat cintanya berlabuh di hati yang telah berpenghuni.


Berkenalan dengan Fitri merupakan sebuah kebetulan, itupun di karenakan hanya Fitri lah yang bisa tetap menerima dirinya yang selalu menolak kehadiran orang lain, meski mereka hanya ingin bersahabat.


Andra menghela nafas panjang, saat mengakhiri kisahnya di negeri seberang.


Di tatapnya mata bening Zara, memastikan jika benar perasaan itu adalah setitik rasa cemburu karena miliknya sedang terancam terenggut dari sisinya.


"Ra, aku ingin menanyakan sesuatu padamu, dan ku harap kau menjawab dengan jujur."


Zara menatap pria tampan di depannya dengan sedikit gugup, sekeras apapun ia berusaha menguasai hatinya namun menatap pria yang diam-diam telah menempati singgasana hatinya, ia pun tak kuasa.


"Apakah kau cemburu pada Fitri?" tanya Andra serius.


Zara menggeleng cepat, malu rasanya jika ia mengakui terus terang.


Andra menghela nafas panjang, sungguh sulit memancing isi hati gadis manis di depannya.


"Ehm sebenarnya siang ini ia akan datang ke mansion, jadi mungkin aku tidak bisa menemanimu sampai sore" ucap Andra jujur.


Zara tampak tertegun lalu menatap Andra dengan tatapan tajam.


"Ya sudah, nggak apa-apa, sekarang pun Kakak bisa pergi, aku tidak keberatan aku..." Zara tak bisa meneruskan ucapannya saat Andra tiba-tiba merengkuhnya ke dalam pelukannya erat.


Detak jantung Zara berdegub kencang.

__ADS_1


"Ra jangan kau pungkiri hati kecilmu, jangan pernah berdusta di depan mataku, karena aku pasti tahu, katakan bahwa kau tak suka jika aku berdekatan dengan Fitri, dan larang aku agar jangan bertemu dengannya berdua, maka aku akan menuruti semua apa yang kau mau."


Andra berucap lantang dalam dekapan Zara, lalu dengan lembut ia mengurai dekapannya.


Di tatapnya mata indah itu, seakan ingin ia menyelami kedalaman hatinya paling dalam, Andra sungguh ingin tahu apa sebenarnya yang ada di hati Zara, benarkah sudah tumbuh benih-benih cinta di hatinya.


"Kenapa diam Ra?" Andra sungguh takut jika ternyata yang ada dalam pikirannya salah, ia belum siap jika ternyata cintanya untuk yang kedua kali harus bertepuk sebelah tangan.


Zara memberanikan diri untuk menatap Andra, lalu perlahan ia pun mengangguk.


Kedua alis Andra mengerut.


"K kenapa Ra?" tanyanya bodoh.


"Benar Kak, aku tidak suka Kakak dekat-dekat dengan dia, aku tidak suka gadis itu selalu menggenggam tangan Kakak dan aku tidak suka jika kalian bertemu berdua" kalimat panjang Zara sungguh sangat indah terdengar di telinga Andra.


Greeep.


Andra kembali merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, sungguh hatinya begitu bahagia mendengar penuturan gadis manis itu.


Zara dengan jujur akhirnya mengungkapkan semua kekesalan yang mengganjal di hatinya, untuk saat ini ia ingin egois, ia ingin Andra selalu bersamanya, ingin Andra hanya perhatian padanya.


Andra mengusap punggung Zara lembut, debaran jantunganya jelas terdengar olehnya.


"Apa itu artinya kau sudah menerima perasaan cintaku selama ini Ra?" tanya Andra.


Zara mengangguk pelan, wajahnya terasa panas, entah apa warnanya saat ini, rasanya begitu malu ia mengungkapkan perasaannya pada pemuda yang telah membuat hatinya tidak menentu.


Wajahnya merah merona, begitu cantik dan menggemaskan.


Cupp, Andra mengecup ringan bibir Zara.


Kali ini ia tak mau ambil pusing, tak mau lagi mengingat apakah ciumannya yang pertama bagi Zara ataupun yang kesekian kali, yang penting saat ini hati Zara adalah miliknya.


"Kak, jangan pandang aku seperti itu?" ucap Zara yang merasa jengah, Andra selalu menatapnya dengan tajam.


"Kau tahu Ra, aku sangat bahagia saat ini" ujar Andra sambil menggenggam tangan Andra.


"Kak Andra tidak ke resto?" tanya Zara.


Andra menggeleng ringan.


"Aku ingin selalu berada di dekatmu."


Zara tersenyum senang, entah mengapa hatinya begitu bahagia, di dada nya penuh dengan kupu warna warni beterbangan, baru kali ini ia merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya, setelah sekian lama berpetualang dengan banyak hati yang mendamba padanya.


Akhirnya hati yang selama ini tandus kering tak berpenghuni, kini telah tumbuh taman indah penuh dengan bunga beraneka warna.


"Mau aku kupasin buah?" tanya Andra lembut, dan gadis manis itu hanya bisa mengangguk, karena hatinya masih sibuk dengan perasaannya yang berbunga.


Andra dengan penuh telaten mengupas satu buah jeruk dan menyuapinya ke mulut Zara setelah sebelumnya ia buang seluruh serat buah manis itu.


"Aku bisa sendiri Kak."

__ADS_1


"Biarkan aku memberi pelayanan terbaik untuk kekasihku."


Zara tertunduk malu, gombalan Andra sukses membuat ia senam jantung.


"Ra."


"Heum."


"Tolong bilang ke Dewi agar nanti setelah bekerja, dia tidak usah datang ke sini, biar aku yang akan menunggu dan menemanimu."


Zara menaikan alisnya dan kepalanya menggeleng pelan.


"Tidak boleh Kak."


"Kenapa, siapa yang melarang?"


"Tak ada yang melarang, hanya saja tidak enak, lagian kata pepatah, jika ada dua orang laki-laki dan perempuan sedang berduaan, maka yang ketiganya adalah setan" terang Zara sungguh-sungguh.


Andra hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Ia hanya ingin menikmati sehari berdua dengan sang pujaan, setelah Zara mengungkapkan isi hatinya maka hari ini adalah ikatan mereka terjalin secara resmi bukan lagi sandiwara, seperti rencana semula.


Tok tok tok.


Keduanya saling pandang.


"Mungkin itu Dewi" ucap Zara setelah melihat jam di dinding rumah sakit, memang sekarang waktu kerja Dewi sudah selesai.


Ceklek.


Dewi memasuki ruangan dengan wajah penuh semangat, tujuannya selain menjenguk Zara adalah untuk bertemu dengan dokter tampan Wisnu, adalah suatu keberuntungan yang jarang ia dapat, karena hanya di rumah sakit itulah ia bisa melihat dokter setampan dokter Wisnu.


"Sudah makan Ra?" tanyanya lalu membuka bungkusan makanan yang ia bawa.


"Heum" deheman Zara dan anggukan kepala.


"Kak Andra belum makan Wi, apa kau bawa makan lebih?"


Dewi memandang sahabatnya heran, bukannya kemarin ia begitu marah pada pria tampan itu, kenapa malah sekarang ia sangat perhatian, Dewi membatin.


Zara bangun dari kasur pasien dan mencari apa ada makanan untuk Andra yang di bawa Dewi.


"Ah, rupanya kau membawa banyak, buat Kak Andra satu ya?"


Zara tanpa menunggu jawaban Dewi langsung membuak bungkusan, lalu dengan pelan menyuapinya ke mulut Andra.


Dewi yang melihat adegan itu hanya membulatkan mulutnya lebar.


"Apa-apaan ini, kenapa kalian begitu romantis, apa ada cerita yang telah ku lewati?" tanya Dewi penuh penasaran.


Andra dan Zara tersenyum smirk, keduanya saling tatap dengan sejuta rasa, yang kini mereka rasakan,


Indahnya dunia bagai milik mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2