Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*160


__ADS_3

Dengan langkah perlahan, Gunawan mendekat ke arah Zara, putri kecilnya yang dulu ia tinggalkan.


Kedua mata pria paruh baya itu tampak berkaca lalu tiba-tiba ia duduk bersimpuh dengan wajah menatap intens wajah sang putri.


"Maukah kau me maafkan Ayah nak?" kalimat dengan suara bergetar keluar dari mulut Gunawan.


Bibir Zara bergetar namun terkatup rapat.


"Maafkan Ayah yang telah menyakiti kalian, hanya kau yang sekarang ayah punya, kau lah harta satu-satunya yang Ayah miliki huu huu ...."


Andra mengulum senyum dengan memalingkan wajahnya, tubuh tegap dan wajah tegas Gunawan terlihat luruh tak berdaya, isak tangisnya terdengar menggema di ruangan apartement.


Cih cengeng juga Ayah mertuaku ternyata, ucap batin Andra.


Gunawan meraih tangan Zara dan menciuminya berkali kali.


"Ara ..maafkan Ayahmu nak, Ayah tak sanggup terus menderita karena sesal yang begitu dalam, jangan siksa Ayah lebih lama lagi nak, mohon maaf kan lelaki tua ini huu huu..." Gunawan tak lagi menghiraukan harga dirinya, ia terus menangis sambil tangannya meremas jemari Zara.


"K kenapa baru sekarang Ayah datang" suara Zara lirih terdengar.


"Maafkan Ayah Ara, semuanya akan Ayah jelaskan, tapi tolong maafkan Ayah .."


Zara menatap pria yang masih bersimpuh didepannya dengan tajam.


Wajah yang sudah mulai keriput dan basah karena air mata, wajah yang selama ini ia rindukan dalam diam.


"Bagaimana aku bisa memaafkan Ayah jika selama ini Ayah tak pernah perduli padaku, aku sendiri dalam kesunyian Ayah, sedih dan derita ku simpan dalam hati, saat hatiku hancur, saat aku rapuh bahkan saat aku membutuhkan bahu untuk bersandar, di mana kau Yah, di mana saat aku membutuhkan mu hiks hiks.."


Kini ruangan itu riuh dengan sahutan suara tangis keduanya.


Andra hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal karena tak bisa berbuat apa-apa.


"Sayang maaf kanlah Ayahmu, kasihanilah dia, di hari tuanya biarkan dia bahagia" bisik Andra lirih.


Kini tatapan Zara beralih ke Andra dengan tatapan tajam, ia pun merasa kesal pada sang kekasih yang ternyata sudah lebih dulu mengetahui keberadaan Gunawan namun tak memberitahukan padanya.


"Kau juga, kenapa harus menyembunyikannya dariku Babe" tanya Zara penuh selidik.


Glek.


Bagai senjata makan tuan, Andra kini mengunci rapat mulutnya, ia tak mau menjadi pelampiasan rasa kesal Zara.

__ADS_1


"Dia tak bersalah Ra, Ayahlah yang me minta calon suamimu untuk merahasiakan hal ini, aku takut kau akan menolak Ayah dan menghindar dari Ayah, rasanya tak sanggup lagi jika Ayah harus menahan semua rasa rindu ini nak, Ayah sayang padamu..."


Greep.


Tiba-tiba Gunawan bangkit dan memeluk Zara begitu erat, tangisnya semakin kencang dan tubuhnya pun berguncang.


Lelaki tua itu tak dapat lagi membendung rasa rindunya pada sang putri yang amat di sayanginya.


Ceklek.


Manu tertegun di tempatnya berdiri.


Beberapa saat keheningan memenuhi ruangan, hanya isak tangis Ayah dan anak itu yang terdengar kian melemah.


Merasa tubuhnya gerah, Zara bermaksud mengurai pelukannya namun Gunawan malah semakin memper erat pelukannya.


Andra hanya bisa menelan ludah kasar, andai Gunawan bukan Ayah kandung Zara sudah pasti lelaki itu habis di hajarnya.


"A ayah, tolong lepas..aku sesak nafas" suara Zara lirih dan terbata.


Pelukan Gunawan yang erat sungguh membuat dadanya serasa mau meledak.


Zara menggeleng pelan sambil mengatur nafasnya.


Kruuuk kruuk.


Suara terdengar nyaring dari dalam perut Zara.


Waktu yang memang sudah sore apalagi Zara yang melewatkan makan siang membuat cacing di perutnya berdemo.


"Ah kau lapar sayang" Gunawan berucap lembut dan penuh semangat.


Pria itu melangkah ke lemari pendingin berharap ada sesuatu yang bisa di makan untuk putrinya.


Namun hatinya mencelos karena hanya melihat kulkasnya berisi berbagai soft drink dan beberpa buah.


"A aku pulang saja" ucap Zara gugup.


"Ah tidak, kita ke restoran saja" ucap Gunawan lalu meraih jas nya.


"Bagaimana kalau kita ke tempat Ayah Nardi , jaraknya tak terlalu jauh dari sini dan Zara pun sangat menyukai masakan Ayah" Manu menyela.

__ADS_1


Gunawan dan Andra saling pandang, mereka tak tahu jika Zara pernah datang ke rumah Nardi.


"Kapan kau datang ke sana sayang, apakah dengan pria ini" tanya Andra penuh selidik ke Zara.


Zara mengangguk jujur, saat itu ia pun tak sengaja datang karena di ajak Manu.


"Aku yang mengajaknya saat kau sibuk dengan putri Pak Menteri itu" jawab Manu sinis.


Andra hanya bisa menahan rasa kesal di hatinya karen ia pun merasa telah di hianati oleh Nardi yng sudah di anggapnya sebagai guru nya.


Gunawan tersenyum mendengar usul Manu, meski ia terkejut saat pemuda itu mengatakan bahwa pernah membawa putrinya ke rumah nardi tanpa sepengetahuannya, mungkin memang benar asistennya itu mengajak Zara untuk menghibur hatinya yang sedang sedih.


Dengan semangat ia mengandeng tangan Zara dan keluar dari apartement.


"Ayo kita pesta di rumah Nardi, Nu hubungi dia agar menyiapkan makanan istimewa untuk putriku" ujar Gunawan pada Manu.


Andra hanya bisa membayang di belakang Zara dan Ayahnya, karena Gunawan tak membiarkan tangan Zara terlepas darinya.


Manu mengemudikan mobil dengan santai sementara Andra di sampingnya, berkali-kali ia melirik lewat sudut matanya ke bangku belakang di mana Gunawan tengah asik bercerita tentang kisah hidupnya selama berpisah dengan sang putri.


Begitupun sesampainya di kediaman Nardi, Gunawan selalu di samping Zara, bahkan tak membiarkan Andra mendekatinya.


Berkali-kali Andra menghela nafas kasar, kini Zara seakan mutlak hanya milik Gunawan.


Nardi tersenyum gemas, wajah Andra sangat muram, rautnya menggambarkan kekesalan yang begitu besar.


"Sabarlah, beri dia kesempatan bersama putrinya, toh sebentar lagi kalian akan menikah dan saat itu kau adalah pemilik Zara seutuhnya" bisi Nardi bijak.


"Tapi dia sangat egois guru, aku calon suaminya bahkan tak di beri kesempatan meski hanya untuk memegang tangannya" jawab andra kesal sambil memandang Ayah dan anak itu bercengkerama di teras samping rumah.


"Dasar pelit sekali kau, masih untung yang menyita Zara adalah Ayah mertuamu bagaimana kalau lelaki lain yang mendekatinya" sela Manu.


"Heum langkahi dulu mayatku" ujar andra dengan tatapan tajam ke arah Manu.


Manu hanya membuang pandangannya, ia hanya bisa mengumpat dalam hati, walau bagaimana pun ia tak akan tega memisahkan Zara dengan pria yang di cintainya.


Hidangan beraneka macam telah tersaji di atas meja membuat air liur seakan hendak menetes.


Tak menunggu waktu lama dan kembali Andra di liputi rasa kesal tak terkira, Gunawan memperlakukan Zara bak seorang ratu, pria itu seakan tak melihat orang lain di sekitar mereka.


Zara yang masih terlihat canggung hanya bisa tersenyum tipis, tingkah sang Ayah begitu manis dan hangat, andai saja mereka tak pernah terpisah tentu ia akan sangat beruntung memiliki seorang Ayah seperti Gunawan.

__ADS_1


__ADS_2