Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*163


__ADS_3

"T tapi kan rencana masih beberapa hari lagi Ayah, k kenapa harus hari ini" Zara menjawab cepat, memang pernikahan hanya tinggal beberapa hari lagi tapi jika ternyata Gunawan memintanya untuk di laksanakan hari ini ia masih belum siap.


"Baik Ayah mertua" seringai tipis dari bibir Andra membuat bulu halus di tengkuk Zara meremang.


"Bagus, Nu bagaimana semua syarat yang aku minta, apakah sudah kau siap kan?"


"Sudah semua Bos, kita tinggal menunggu Pak penghulu datang sebentar lagi."


Zara membulatkan matanya, ternyata sang ayah memang serius dengan perintahnya.


"Ini baju yang harus kalian pakai" Manu menyerahkan masing-masing satu totebag berisi jas dan gaun untuk Zara.


"Gunakan kamar Ayah Ra, dan kau pakai kamar tamu" titah Gunawan pada Andra.


Cih, ngapain harus terpisah toh sebentar lagi putrimu sah jadi miliku, umpat Andra dalam hati.


Masih dengan langkah ragu, Zara menuju kamar Gunawan, namun berbeda dengan Andra, langkahnya ringan dan panjang bahkan senyum tak henti terbit dari wajah tampannya.


Andra hanya membutuhkan waktu tak lebih dari sepuluh menit, dengan setelan jas hitam ia keluar dari kamar tamu.


Satu orang penghulu beserta saksi yang di minta Gunawan pun sudah datang.


Tok tok tok.


"Sayang, apa kau belum selesai?" Andra mengetuk pintu kamar Gunawan.


"I iya sebentar lagi."


Andra tersenyum masam, tak sabar ia ingin segera menikmati namanya pengantin baru, ia lalu menghampiri Gunawan dan penghulu serta tim yang bertugas.


Sementara Manu menyiapkan hidangan yang telah mereka pesan ke atas meja makan.


Tok tok tok.


Ceklek.


Manu membuka pintu, ternyata Nardi sudah berdiri tegap sambil memandang ke arah anak angkatnya.


Hatinya merasa trenyuh melihat Manu menyiapkan jamuan di hari pernikahan gadis yang ia cintai.


Nardi menepuk bahu Manu lembut.


"Sabarlah, terima semua ini dengan ikhlas, mungkin dia memang tercipta bukan untukmu, relakan dia bahagia..." bisiknya.


Mendengar kalimat bijak Nardi, kedua mata Manu berembun.


Pemuda tampan itu lalu membuang matanya agar air matanya tak jatuh.


Dari sudut matanya Gunawan menangkap interaksi keduanya.


Maafkan aku Nu, aku terlambat menyadari perasaanmu pada putriku, Gunawan membatin.


Manu mengambil sebuah jeruk kecil di atas salah satu piring di meja makan lalu membelahnya, dan dengan cepat ia mengucurkan air jeruk tersebut ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Sensasi rasa asam sangat membantunya untuk mengusir air mata yang hampir jatuh dari sudut matanya.


Seoramg wanita pembantu apartement Gunawan terkekeh melihat tingkah Absurd Manu.


Nardi hanya bisa menghela nafas panjang, Manu memiliki cara tersendiri untuk menyembuhkan luka hatinya.


"Sayang apakah kau masih lama?" panggil Andra.


Ceklek.


Gaun putih sederhana namun tampak anggun dan elegan di tubuh Zara, make up pun sangat minimalis, karena memang Zara tidak mempersiapkannya.


Hanya sebuah lipstik natural yang ia aplikasikan ke bibir tipisnya agar tampak lebih segar.


Semua mata tertuju pada Zara, mereka bagai terhipnotis dengan penampilan calon mempelai wanita.


"Ehmm hmm, kita mulai sekaramg saja Pak" titah Gunawan pada penghulu.


Andra duduk berhadapan dengan pria ber peci hitam, sementara di tengahnya terdapat meja kecil.


"Untuk mempelai lelaki apakah sudah menyiapkan mas kawin?" tanya Penghulu.


Wajah Andra memucat, mas kawin yang telah ia persiapkan di mansion tentu saja tak ia bawa, jangankan mas kawin yang sudah ia persiapkan, di nikahkan saat ini pun, ia masih belum percaya.


"Keluarkan dompetmu" titah Gunawan tegas.


Andra pun mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan pada Gunawan.


"Kau ambil lah seberapa pun untuk mas kawin" titah Gunawan.


"Tidak perlu banyak, ambil saja yang ada di dompetmu, Zara tak butuh harta ia hanya butuh mahar agar pernikahan kalian Sah."


Andra tak bisa menolak lagi, dengan ragu ia mengeluarkan isi dompetnya.


Baru kali ini ia merasa kartu tanpa limitnya tak berguna.


Akhirnya pria berpeci hitam itu pun memulai acara inti.


"Saya terima nikahnya Zara Zanita Binti Gunawan dengan mas kawin uang sejumlah tiga ratus lima puluh ribu rupiah di bayar tunai..."


Dengan satu tarikan nafas Andra akhirnya menyelesaikan kalimat keramat yang akan merubah statusnya menjadi seorang suami.


Kedua mata Zara berkaca saat mencium tangan Andra yang kini sudah sah menjadi suaminya.


Dan tangis pun pecah saat Zara dan Andra bersimpuh menyalami Gunawan.


Pria bertubuh tegap itu menangis terisak, rasa haru, bahagia dan sedih, bercampur menjadi satu, bahagia karena bisa melepas putrinya untuk mengarungi bahtera rumah tangga dengan seorang pria yang telah me minangnya.


Sedih karena ia harus menerima jika sekarang kasih sayang Zara pasti akan terbagi, untuk dirinya juga untuk suaminya.


"Zara huu huu ..akhirnya Ayah harus melepasmu nak, kau sekarang harus mematuhi pria itu yang sekarang menjadi suamimu, patuhilah semua perintahnya karena surga dan restunya ada di tangannya, Ayah hanya bisa ber do'a semoga kalian bahagia dan langgeng huu huuu..."


Pria ber peci dan tim nya tampak tersenyum gemas, mereka tak menyangka Gunawan masih bisa menangis saat nemberi wejangan pada putrinya, beberapa kali ia tampak mengusap air mata yang seakan tak henti keluar dari sudut mata keriputnya.

__ADS_1


"Dan kau...jaga dan bahagiakanlah putriku dengan sebaik-baik yang bisa kau lakukan, jika suatu saat kau berfikir akan menyerah, maka kau bisa kembalikan putriku padaku, jangan pernah kau sakiti hati dan raga nya, karena sungguh aku akan membalasnya beribu-ribu kali lipat padamu."


Glek.


Andra hanya bisa mengangguk dan menelan saliva kasar, wejangan yang lebih cenderung ke ancaman membuat hatinya ketar-ketir.


"Baik Ayah, aku tak bisa berjanji aku hanya akan berusaha sebaik yang aku mampu, aku akan bahagiakan Zara putrimu, dan akan ku bahagiakan dia di sepanjang sisa umurku hingga menua kami akan selalu bersama."


Zara menitikan air mata haru, Andra yang biasanya bersikap santai dan cuek ternyata bisa melakukan pelafalan ijab kabul dengan satu tarikan nafas dengan lancar.


Jika Pak penghulu dan yang lain tengah asik menyantap hidangan, Gunawan terlihat duduk dengan tangan terus menggenggam tangan Zara.


Lelaki itu seakan tak mau berpisah dengan sang putri yang akan pergi bersama suaminya.


"Sayang kita harus pulang sekarang dan mengabarkan hal ini lada Mommy" ujar Andra lirih, ia masih belum mempunyai cukup keberanian untuk menggugah singa tidur itu.


"Ehm baiklah, Yah aku pulang sekarang" ucap Zara.


Dengan berat hati Gunawan mengurai genggamannya.


"Hati-hatilah, datanglah besok ke sini, ada hal penting yang akan ku bicarakan denganmu" ujar gunawan.


"Baik Yah."


Suasana apartemen kembali hening setelah semua tamu pulang, hanya seorang pelayan dan satu kerabatnya yang ikut membantu membereskan perabotan sisa makan.


Andra pulang kembali ke mansion memakai mobil Gunawan.


Entah kenapa keduanya merasa canggung bahkan setelah mereka sah untuk melakukan apapun yang mereka mau.


Tiba di mansion Maharani berteriak girang menyambut kedatangan Zara.


"Oh akhirnya kalian datang juga, mana menantuku yang cantik?" tanya Maharani antusias, Zara yang berada di belakang Andra tersenyum bahagia, lalu menyambut pelukan hangat sang mertua.


"Hmm makan lah Mommy sudah siapin hidangan istimewa untuk kalian."


Andra melirik meja makan, perutnya sama sekali tak merasa lapar meski di apartement tadi ia tak sempat mengisi perutnya, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah menikmati siang pertama bersama Zara istrinya.


"Kami sudah makan tadi Mom" ujar Andra sambil menarik lengan Zara hendak melangkah ke kamarnya.


"Eh mau ke mana kamu Joy" ujar Maharani panik, ia masih ingin mendengar cerita tentang pernikahan mendadak itu.


"Tentu saja aku akan membawa istriku ke kamarku kami akan membuat cucu untukmu" Andra menyeringai tipis.


Zara mencubit bahu Andra kesal, pria cuek itu kenapa tiba-tiba berubah begitu mesum.


"Sayang mulutmu ih..kayak nggak ada rem nya" bisik Zara kesal.


"Hemm nggak ada rem nya, karena rem nya ini.."


"Emmpph..." Andra membungkam Zara dengan pagutan panas bibirnya, ia mencium sang istri dengan buas setelah terlebih dulu menutup pintu kamarnya.


Masih dengan bibir yang menyatu Andra membopong Zara menuju ranjang besar miliknya.

__ADS_1


Tak perlu tunggu malam pertama, siang pertama pun jadi, pikirnya dalam hati.


__ADS_2