
Tok tok tok.
Ceklek, Fitri mrmbuka pintu saat pelayan mengantarkan pesanan yang di pinta Sandy.
Di sebuah hotel mewah kini Fitri berada, menjelang hari pesta pernikahan Andra, Sandy mengajaknya menghabiskn waktu di sebuah tempat wisata yang terletak di pegunungan.
"Siapa Honey...?"
"Pelayan yang membawakan pesananmu."
Sandy yang masih bermalasan di atas ranjang setelah melakukan kegiatan panas dengan Fitri akhirnya bangkit.
"San..pakai baju mu!."
Sandy tersenyum tipis, suasana yang dingin membuatnya selalu ingin bercinta, ia membiarkan tubuhnya polos hanya berbalut selimut.
"Hhmm ngapain pakai baju, nanti juga di buka lagi" ujarnya santai.
Fitri hanya menggeleng kesal, namun dirinya pun selalu tak bisa menolak Sandy, pria itu begitu memuaskannya di atas ranjang.
Sandy merengkuh Fitri agar duduk di pangkuannya.
"Hmm suapi aku" Andra berucap manja.
Fitri mencebik namun akhirnya tetap menyuapi Sandy makan.
Jika memang kau tak bisa menerimaku, mungkin dengan adanya kehidupan lain dalam perutmu, kau bisa menjadi miliku, Sandy membatin sambil mengunyah makannya.
"Honey...apa kau senang di hotel ini?"
Fitri mengangguk pasti.
"Aku akan ikut senang kalau kau senang."
"Teeima kasih San."
Sementara di tempat lain.
Zara bangun dengan penuh semangat, pesan dari Gunawan sangat mengejutkannya.
"Ada apa sayang...dan mau ke mana kau sepagi ini?"
"Aku mau ke apartement Ayah, mereka sudah datang ke sini."
"Mereka, siapa mereka?"
"Om Ikhsan dan bibi...mereka yang telah merawatku waktu kecil."
Rona bahagia jelas terlihat di wajah Zara, ia begitu rindu pqda kedua orang itu, juga ke tiga keponakannya.
"Oke tunggu sebentar, aku pun tentu ingin bertemu mereka dan mengucapkan banyak terima kasih karena telah mau merawat bidadariku" ujar Andra sambil berlalu untuk bersiap.
Senyum tipis Zara mengembang, kalimat Andra membuatnya haru.
Swpanjang perjalanan Andra berkali-kali melihat sang istri tampak gelisah, teelihat saat ia meremat jemari tangannya.
"Sabarlah, sebentar lagi kita sampai"Andra menenangkan Zara dengan menggenggam tangannya erat.
Dengan langkah cepat Zara keluar dari mobil menuju lift.
"Sstt, pelankan langkahmu, hati-hati lah" ujar Andra lembut.
__ADS_1
"Maaf aku sudah tak sabar bertemu mereka."
Dan Andra hanya bisa menggelengkan kepalanya saat Zara berlari kecil menuju pintu apartement Gunawan.
Teet.
Ceklek.
"Kau sudah datang nak?"sapa Gunawan.
"Heum, mana Om ikhsan Yah?"
Gunawan menunjuk dengan dagunya.
"Om...apa kabar Om" Zara berlari menghambur memeluk pria paruh baya yang sudah terlihat keriputan di wajahnya.
"Bi...apa kalian sehat mana adik-adiku?" tanya Zara bersemangat.
"Dini sedang ujian akhir, jadi nggak bisa ikut, begitu pun Raka dan Adi tak mau ikut kalau tidak bersama kedua Kakaknya" terang Ikhsan.
Gunawan terpaku melihat pemandangn tersebut, ada rasa haru dan sesak di dadanya.
Mereka hidup sederhana memiliki tiga putra dan putri namun masih mau menerima dan merawat Zara dengan penuh kasih.
Dari cara Zara memperlakukan kedua orang itu dengan hangat maka sudah di pastikan mereka pun merawat Zara pun pasti dengan ikhlas dan penuh kasih sayang.
"Ehm hm" sura deheman Andra membuat ketiganya tersadar.
"Oiya Tante, om...ini suamiku Joyandra Sabastian, kalian panggil saja Andra" Zara menggandeng tangan Andra.
"Ikhsan.."
"Andra.."
"Andra.."
Ketiganya saling bersalaman.
"Kau sangat pintar mencari suami Ra, dia sangat tampan "ucap Icha sang bibi.
"Ah saya yang beruntung mendapatkan cinta Zara bi" balas Andra jujur meski dalam hatinya pun sebenarnya berbunga-bunga.
Tok tok tok.
Ceklek.
Andra bergegas membuka pintu dan wajah tampan setengah bule membuat senyumnya menghilang.
"Bagaimana Nu? Apa sudah siap semuanya" tanya Gunawan.
"Sudah semua bos."
"Ra...ke marilah " titah Gunawan menyuruh Zara memeriksa berkas dari Manu.
"Apa ini Yah?" tanya Zara, rupanya berkas itu berisi selembar sertifikat tanah dan bangunan rumah siap huni.
"Aku sudah menyiapkan ini untuk keluarga Om Ikhsanmu, sebagai tanda terima kasih Ayah untuk mereka yang telah merawatmu."
Kedua mata Zara tampak berembun, rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu.
"Terima kasih Ayah." ucapnya lirih sambil memeluk erat Gunawan.
__ADS_1
Sementara Ikhsan dan sang istri hanya memandang penuh kebingungan.
Mereka saling peluk tapi Zara tampak mengeluarkan air mata.
"Om Ayah mau bicara dengan Om dan Bibi."
Gunawan lalu mendekati Ikhsan lalu menyodorkan map yang tadi di bawa Manu.
"Ikhsan...dari dasar hatiku terdalam, aku mengucapkan beribu terima kasih padamu, terima kasih telah menerima dan merawat putriku dengan penuh kasih, tolong terima lah pemberianku yang tak seberapa di banding kasih sayang yag telah kalian beri untuk putriku."
Ucap Gunawan bijak.
"Apa ini Bang?" tanya Ikhsan bingung.
"Aku sudah menyiapkan tanah beserta bangunan untuk kau tempati bersama kelurgamu dan untuk biaya kuliah putrimu biar semua menjadi tanggunganku."
Ikhsan memandang Gunwan tak percaya.
"T tidak aku tak bisa menerimanya, ini terlalu besar."
Ikhsan menyodorkan kembali map tersebut pada Gunawan.
"Om..aku mohon kalian mau menerimanya meski budi kalian tak akan bisa terbalaskan tapi ku harap pemberian kecil ini bisa sedikit meringankan beban Om"
"Ini bukan kecil Zara, ini bahkan terlalu besar, tak pantas aku menerianya"
"Tidak Om, tak tahukah kalau Ayahku adalah seorang pengusaha besar dan uang sejumlah itu belum seberapa bagi Ayahku Om" ucap Zara terpaksa menyombongkan keadaan sang Ayah agar Ikhsan mau menerima pemberiannya.
"Benar San, dan aku sengaja memilih rumah di pedesaan agar kau tak harus pindah ke kota, juga tanah yang cukup luas cukup untukmu menanam sayuran atau kau mau membangun ruko atau warung kecil untuk usahamu, untuk modalnya tak perlu takut aku yang akan mengurusnya."
"Iya Om benar kata Ayah, dan Dinda biar kuliah di sini aja tinggal di apartement ku."
Zara berucap antusias.
Ikhsan dan icha saling pandang, keduanya lalu memeluk Zara dan menyalami Gunawan bergantian, mereka menangis haru dan penuh rasa bahagia.
"Teruma kasih Bang, terima kasih banyak atas apa yang Abang berikan pada kami."
"Tidak, aku yang harusnya berterima kasih pada kalian, tanpa bantuan kalian entah bagaimana nasib putriku Zara....terima kasih atas semua yang telah kalian lakukan untuk putriku, dan mulai saat ini kalian adalah keluargaku" Gunawan memeluk Ikhsan erat, ada rasa hangat di hatinya, ia dapat merasakan sikap dan perlakuan sepasang suami istri itu memang tulus.
"Nanti malam sampai besok pesta biarkan mereka tidur di mansion saja sayang" tiba-tiba Andra memberi usul.
"Hmm iya betul, tapi kita harus ijin Mommy dulu Babe."
"Mommy pasti tidak keberatan, bahkan Mommy pasti merasa senang, mansion tak lagi sepi."
Zara mengangguk setuju.
"Yah, nanti malam mereka akan tidur di mansion."
"Apa tidak sebaiknya di hotel saja?" tanya Gunawan karena tak mau jika nanti akan merepotkan mertua Zara.
"Tidak Yah, biarkan Zara puas melepas rindunya dan Mommy pasti akan senang dengan kehadiran mereka, Mommy senang jika mansion rame banyak orang" ujar Andra.
"Bagaiman San, apa kalian mau menginap di mansion?"
"Kalau kami bagaimana baiknya saja, tidur di mana pun kami mau, kami terbiasa tidur beralaskan tikar, satu kamar kami berlima, kadang kalau hujan pun genteng bocor" Ikhsan menjelaskan sambil tersenyum masam.
"Baiklah kalian tidur lah di mansion."
Gunawan menepuk bahu Ikhsan, dadanya berdenyut nyeri mendengar cerita hidupnya, dan Gunawan tak mau lagi terus mendengarkan kisah pilu tersebut karena mungkin air matanya pun akan jatuh bercucuran.
__ADS_1