Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
Thu*148


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul enam pagi, Andra masih diam di bandara dengan tas ransel di pundaknya, tekad hatinya untuk bertemu Zara yang membawanya ke pulau kecil itu.


Beruntunglah tak lama datang satu mobil sejuta umat yang rupanya adalah kerabat Juned yang datang menjemputnya.


Setelah berkeluh kesah dengan sahabatnya hati Andra sedikit lega, apalagi saat Juned menganjurkan untuk Andra datang menyusul Zara karena tempat lokasi pemotretan tak jauh dari kediaman salah satu kerabatnya.


"Bang, Abang temannya Bang Juned kan?" tanya seorang pemuda berusia belasan tahun yang turun dari mobil dan menjulurkan tangan padanya.


Andra mengangguk menyambut uluran tangannya, ia memberikan poto selfinya pada Juned sebelum keberangkatannya.


"Panggil saja Amir Bang."


"Andra."


Lalu Andra pun masuk ke dalam mobil menyusul Amir.


"Bang kita langsung pulang saja ya, laper Gue belum sarapan tadi" ucap Amir santai.


Usia remaja memang selalu santai dan cuek.


Andra merogoh tasnya lalu mengeluarkan dua bungkus roti sobek yang selalu ia bawa untuk persediaan di kala darurat dan memberikan pada Amir.


"Makan lah, lumayan buat ganjal perut Lu."


"Wah makasih bang."


Amir mengemudikan mobil sambil mengunyah rotinya.


"Mir, bisa kita ke alamat ini dulu" ucap Andra sambil menunjukan Map lokasi dari ponselnya.


Jarak yang hanya beberapa menit dari bandara membuat Amir menganggukan kepalanya setuju.


Sampailah mereka di lokasi setelah lima belas menit.


Rupanya di lokasi tersebut sedang ada kegiatan pemotretan, panyak penduduk yang bergerumbul menyaksikan acara pemotretan tersebut.


"Wah, ada shooting nih, pasti ada artisnya."


Mata Amir berbinar terang lalu mulai memarkirkan mobilnya.


"Ati-ati Mir, takut lecet mobilnya" ucap Andra gusar.


"Tenang Bang, udah mahir" jawab Amir santai.


"Ck, umur Lu berapa?"


"Bulan depan swit sepentin bang."


Andra membulatkan matanya, belum punya KTP dan SIM, tapi sudah mahir mengendarai mobil.


Dan dari cara ia memarkirkan mobil pun bisa di lihat kalau jam terbangnya memang sudah cukup tinggi.


Andra bergegas mengenakan jaket kulit dan topi hitam plus masker untuk menutupi wajahnya.


Amir yang melihat pun tertegun.

__ADS_1


"Wah keren Bang, kaya telik sandi aja" ucapnya.


"Hah, telik apa?" tanya Andra yang tak fokus jadi tak mendengar ucapan lengkap Amir.


"Abang keren mirip telik sandi, tapi sayang Bang, wajah tampan Abang jadi nggak keliatan, mubazir."


Andra yang tak begitu tertarik dengan ucapan Amir pun melangkah menuju kerumunan tersebut.


Amir hanya mengikuti dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Dalam hati, jika ia memiliki wajah tampan seperti Andra sudah tentu dengan penuh percaya diri akan memamerkannya pada dunia, agar semua tahu ketampanan yang di milikinya, namun sayang, wajahnya hanya tampan kadang-kadang.


Andra terus memasuki kerumunan dan terus menyelusup ke dalam pusat keramaian.


Amir hanya bisa garuk-garuk kepalanya yang tak gatal, Andra begitu bersemangat melihat proses pemotretan, apa mungkin di kota tidak pernah lihat artis, batinnya.


Akhirnya setelah perjuangan panjang berdesakan dan saling sikut, Andra dapat juga sampai di depan barisan hingga bisa jelas melihat pusat kerumunan.


Dari jarak sepelemparan batu, sebuah jembatan dengan sisi kanan sebuah air terjun dengan pepohonan rindang dan berselimut kabut tipis sungguh pemandangan yang indah.


Namun ada pemandangan lebih indah dan mempesona berdiri di tengah jembatan.


Dengan gaun putih dan buket bunga indah di tangan, Zara berpose anggun dan sungguh cantik bak bidadari.


Amir mengerjapkan matanya beberapa kali, bahkan memajukan wajah untuk memastikan penglihatannya.


"Bang, cantiknyaa..." bisiknya.


"Heum" jawab Andra santai.


Jika Amir tengah memandang penuh rasa kekaguman berbeda dengan Andra, ingin rasanya ia berlari dan menutup tubuh Zara yang terbuka di bagian pundak.


Meski wajahnya selalu berhias senyum manis, namun masih terlihat sesekali bibirnya bergetar menahan hawa dingin yang merasuk tubuhnya.


Kedua tangan Andra mengepal keras, gerahamnya pun mengembung.


"Bang, baru kali ini Gue lihat bidadari secara langsung Bang, oh cantiknya..alangkah bahagia hatiku ini kalau menjadi kekasihnya Bang" ucapan Amir polos.


"Nggak akan mungkin" jawab Andra ketus.


"A apa Abang tahu dia?"


"Heum."


"Apa Abang juga kenal dia?"


"Heum."


"Apa dia sudah punya kekasih Bang?"


"Heum."


Untuk ke tiga kalinya Andra mengangguk membuat Amir kesal.


"Ah bohong Lu Bang."

__ADS_1


Andra menoleh ke Amir heran.


"Bohong apanya?" tanyanya.


"Abang nggak tahu dia kan, Abang nggak kenal dia kan? pasti Abang asal jawab aja kalau dia sudah punya pacar."


"Bener Mir, Gue kenal dia, gue tahu dia jadi tahu lah dia sudah punya pacar" jawab Andra santai kini memandang sang kekasih.


Amir menggelengkan kepalanya kesal.


"Kenapa Lu Mir?"


"Kalau Gue punya pacar seperti dia, Gue nggak bakal biarin dia kedinginan seperti itu, gue bakal peluk dia, gue nggak akan biarin dia menggigil dan bibir pucat seperti itu, lihat Bang, bibirnya bergetar, pasti kedinginan banget, bajunya terbuka gitu, kan...." kalimat Amir menggantung saat Andra tiba-tiba berlari menuju jembatan di mana Zara tengah berpose.


"Zaraa...." teriaknya.


Sepersekian detik saja ia terlambat, entah bagaimana tubuh Zara jadinya.


Andra berlari saat Zara memejamkan matanya beberapa kali tampak wajahnya memucat dan tubuh terhuyun.


Brug.


"Zaraa..." teriakan Dewi melengking lalu berlari menuju Zara yang kini sudah berada di pelukan Andra.


"Sayang, bangunlah sayang sst .."


Andra segera membuka jaket dan menyelimutkannya pada tubuh sang kekasih.


Bergegas ia melangkah ke tenda yang terletak di dekat lokasi yang memang di sediakan oleh krew.


Kejadian tersebut sontak membuat para krew dan pengunjung panik.


Untunglah Andra datang di saat yang tepat.


Sementara Amir hanya bisa mengerjapkan mata, tak percaya apa yang di lihatnya, lalu ia pun ikut mendekat ke sekitar tenda di mana Andra membawa Zara ke dalam.


Wah ternyata kau tidak bohong Bang, kau benar-benar kenal dia rupanya, ucap batinnya.


Dewi sibuk menggosokan minyak angin ke hidung dan tengkuk Zara berharap sahabatnya segera sadar.


Sedangkan Andra dengan lembut terus menggosokan tangannya ke telapak tangan Zara.


"Kak Andra..kapan datang?" tanya Dewi.


"Hmm aku baru datang Wi" Andra menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari Zara.


Para kru yang bertugas pun semakin panik, karena Zara tak kunjung sadar.


Kesal karena lambatnya respon para kru, Andra membopong tubuh lemah Zara ke arah mobil Amir.


"Mir cepat kita ke rumah sakit terdekat" teriaknya.


"Siap Abangku" ucap Amir spontan, bangga rasanya karena baru kali ini mobilnya di tumpangi seorang artis, meski dalam keadaan tak sadar.


Dengan gesit Amir pun membuka pintu mobil agar Andra mudah memasukinya.

__ADS_1


Para kru yang memang tak cukup siap hanya bisa diam membiarkan Zara di bopong Andra.


Mereka percaya pada Andra saat Dewi pun ikut bersama satu mobil, mereka tak bisa berbuat banyak karena mobil yang membawa perlengkapan sedang mengambil peralatan di vila.


__ADS_2