Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU *87


__ADS_3

Andra sudah menyiapkan segalanya agar kencannya kali ini berjalan lancar dan berkesan.


Sengaja Andra membawa baju gantinya agar sesudah selesai bekerja bisa langsung mandi dan berganti baju tak harus kembali ke mansion.


Dan di sinilah sekarang Andra berada, berdiri di sebelah mobilnya dengan pose penuh percaya diri, celana jeans hitam dengan kemeja lengan panjang yang di lipat sebatas siku, hanya baju casual namun terlihat sangat pas dan serasi di tubuh Andra.


Zara melangkah ke mobil Andra setelah melihat lambaian tangan pemuda tampan itu, dan keningnya mengerut, di lihatnya baju dan dandanan Andra tampak sudah di persiapkan.


"Kak Andra curang" protesnya kesal, mana mungkin mereka pergi sedangkan dirinya sama sekali belum mandi dan tidak membawa baju ganti.


"Curang? apanya?" tanya Andra.


Zara hanya memajukan bibir tipisnya tanpa menjawab ucapan Andra.


"Ra, aku curang kenapa?" Andra mengulang pertanyannya.


"Kak Andra sudah rapi, wangi, mandi dan berganti baju, sedangkan aku, masih bau dan pakai baju kerja dari pagi" ujarnya kesal.


Andra tersenyum tipis, sebenarnya tak ada bedanya Zara belum mandi ataupun sudah, ia selalu terlihat cantik dan manis, batinnya.


"Ya udah, kita pulang dulu ke apartemen kamu? Gimana?" tanya Andra yang tak ingin kencannya kali ini tak berjalan lancar karena suasana hati Zara memburuk.


Zara menatap Andra sekilas lalu menganggukan kepalanya, ia pun ingin berdandan cantik di depan Andra kali ini.


Andra melajukan mobil menuju apartement Zara, dan tak lebih dari tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di parkiran gedung apartement.


"Aku tunggu di sini " ujar Andra lalu duduk di sofa lobi apartement.


Zara pun mengangguk lalu melangkah cepat menuju pintu lift yang beberapa saat lagi akan tertutup panel pintunya.


Untuk memecah kejenuhan Andra membuka gawai dan mulai berselancar ke dunia maya.


"Bro, ngapain Lu di sini?" sapaan Diego yang baru pulang kerja.


"Heum nunggu Zara, baru pulang Lu?" tanya balik Andra, Diego pun mengangguk lalu duduk di samping Andra.


"Gi mana kerjaan Lu?."


"Lumayan, karyawan lain welcome ke gue cuma satu yang yang bikin gedeg, asistennya, kalau nggak mandang Revan, udah gue ajak one on one tu orang" ucap Diego dengan wajah kesal.


Andra tersenyum, memang tingkah sahabatnya itu terkadang se enaknya sendiri, tak heran jika ada orang yang tak cocok dengannya.


Tak berapa lama keduanya pun memandang ke satu arah saat terdengar langkah sepatu mendekati mereka.


Glek.

__ADS_1


Zara tersenyum manis, dengan jeans high waist hitam dan kaos lengan panjang berwarna biru langit yang ditarik sebatas siku, terlihat indah di pandang, tak lupa topi hitam dan tas selempang menambah modis gayanya kali ini.


Andra hanya bisa diam dengan sedikit rasa sesal, andai tadi ia tak ke apartement Zara tentu nya ia tak harus melihat tampilan Zara yang memukau dan tentunya akan banyak menarik perhatian orang.


"Kak Diego baru pulang?" tany zara.


"Heum" Diego menjawab dengan tatapan lekat ke Zara.


Andra hanya berdecak dalam hati, sahabatnya pun jelas-jelas terpukau pada Zara.


"Ayo babe," Andra meraih tangan Zara menuju mobilnya, tak rela rasanya ada pria lain yang memandang Zara dengan penuh kagum, meski itu adalah sahabatnya sendiri.


"Bro kita berangkat dulu bye" Andra melambai ke Diego.


Zara hanya bisa diam saat tangannya di tarik Andra dengan posesif.


"Kita ke mana kak?."


"Nonton, ada film bagus."


"Hmm, tapi aku lapar Kak."


Andra memandang Zara intens, ia lupa bahwa mereka belum mengisi perutnya dari sepulang kerja.


Di hentikannya mobil di sebuah cafe yang tak terlalu besar, sengaja ia pilih cafe tersebut karena berdekatan dengan bioskop yang ia tuju.


"Ehm yang cepet aja Kak, nasgor."


Andra mengangguk lalu memesan dua porsi nasi goreng seafood, best seller di cafe tersebut.


Suasana Cafe ramai oleh pengunjung yang sedang asik menikmati hidangan maupun mereka yang masih sedang menunggu pesanan.


Dan pandangannya berhenti pada sebuah meja di mana terdapat satu keluarga kecil.


Sepasang suami istri yang masih terlihat muda dengan seorang anak kecil berumur sekitar lima tahun.


Mereka terlihat begitu menyayangi buah hatinya yang tengah asik memakan es krim.


Ibu muda yang dengan telaten membersihkan lelehan es di bibir sang putri kecilnya dengan tisu, lalu dengan sigap suaminya membuang tisu tersebut ke tempat sampah yang tak jauh dari meja mereka.


Pemandangan yang begitu indah dan sederhana namun membuat dadanya sesak, begitupun saat anak kecil tersebut yang tak sengaja menumpahkan minuman di gelas nya.


Sang ayah dengan lembut mengelap dan membersihkan baju putrinya dengan penuh perhatian.


Zara mengerjapkan matanya yang tiba-tiba ber embun.

__ADS_1


Dadanya semakin sesak, memorinya kembali berputar dengan jelas saat ia masih begitu di sayang oleh ayah dan ibunya, ia pun pernah merasa begitu di peehatikan oleh ayah dan ibu seperti anak kecil itu.


Sering Ayah mengajaknya bermain menghabiskan akhir pekan bersama, bermain di pinggir pantai dengan ibu yang selalu membawa perbekalan makanan untuk mereka makan.


Meski sederhana, tapi itu adalah masa-masa terindah di sepanjang hidupnya.


Kebersamaan meski dalam kesederhanaan yang kini bahkan hatinya merasa perih bagai tersayat sembilu jika mengenangnya kembali.


Kenangan indah yang telah hilang sejak kehadiran nenek sihir yang telah merampas kebahagiannya.


Kasih sayang dan cinta tulus dari sang ibu tak dapat membuat Ayah nya setia, bahkan diam-diam rupanya Ayah bermain hati di belakang ibu.


Tiba-tiba dunia Zara seakan runtuh, saat Ayahnya tega meninggalkan keluarga kecilnya demi wanita lain.


"Ra, ayo kita makan" Andra menatap Zara yang tadi terdiam melamun.


"A ehm iya Kak" gugup Zara menjawab Andra.


Andra melirik sekilas ke arah di mana pandangan Zara tertuju.


Sepasang suami istri dengan seorang anak kecil yang tampak bahagia.


Andra tersenyum smirk, andai kau mengatakan 'iya' saat ini pun aku akan mewujudkan impianmu memiliki keluarga kecil yang bahagia Ra, Andra membatin penuh percaya diri.


Dengan lahap Andra menyantap hidangan dengan bibir tersenyum, tanpa menyadari bahwa di hadapannya Zara tampak berusaha untuk menghapus kesedihannya agar air matanya tak jatuh membasahi kedua pipinya.


"Kenapa tidak di habiskan Ra?" tanya Andra heran, bukannya tadi gadis itu bilang bahwa perutnya lapar, batinnya.


"Ehm sudah cukup Kak, takutnya kalau ke kenyangan nanti ngantuk saat nonton."


Andra mengangguk pelan.


Setelah membayar makanan mereka pun segera berangkat ke gedung bioskop yang berada tak jauh dari cafe, dan setelah lima belas menit jalan kaki, Andra pun ikut mengantri untuk membeli tiket.


Film ber genre komedi romantis di pilih Andra, berharap Zara akan menyukainya di hari pertama mereka kencan.


Setelah kurang lebih dua jam film pun selesai, mereka berjalan keluar dari gedung bioskop, dan kembali pandangan Zara tertuju di satu arah, rupanya keluarga kecil itu juga menonton sebuah film keluarga yang akhir-akhir ini sedang viral.


Andra menatap Zara tersenyum.


"Ada apa Ra, dengan mereka?" tanyanya.


"Aku pun pernah memiliki keluarga yang bahagia seperti anak kecil itu, tapi akhirnya hancur karena seorang wanita yang tak punya hati" ucap Zara lirih namun suara tampak bergetar.


Deg.

__ADS_1


Hati Andra mencelos, rupanya yang ada dalam pikirannya salah.


__ADS_2