
Zara berangkat menggunakan mobilnya,
Andra yang sibuk dengan restoran beberapa kali menghubungi lewat panggilan vidio tadi malam membuat waktu istirahat Zara berkurang.
Sehari tak berjumpa dengan pria bermata indah itu membuat hati Zara berbunga warna-warni saat Andra menghubunginya, hanya menanyakan kabar dan keadaan tempatnya bekerja, hal-hal kecil namun akan berarti besar jika yang bertanya adalah orang yang di kaguminya.
Hah kagum? ,hati Zara bergetar lirih.
Benarkah hanya rasa kagum yang ada di hatinya tanpa tercampur dengan sedikit rasa suka, kangen atau pun sejumput cinta.
Zara menggelengkan kepalanya yang tertutup helm fullface hingga letak penutup kepala tersebut kini bergeser ke samping.
Ish fokus Ra, fokus, batinnya sambil membetulkan penutuo kepalanya.
Ish nggak usah baper, nggak usah mikir macem-macem sebelum cita-citamu kau gapai, pikirnya.
Setelah me markirkan motir matic di area parkir khusus karyawan Zara segera masuk ke ruang ganti untuk berganti baju seragam.
Drrt drrt.
Senyum manis terbit dari bibir mungil Zara, Andra sore ini akan menjemputnya.
Entah kenapa hati Zara begitu girang, tak berjumpa dengan pria tampan itu harinya terasa hampa dan sepi.
Meski terkadang sifat narsis dan jahilnya selalu membuatnya kesal.
Apa dirinya kini mulai membutuhkan Andra di sisinya, batin Zara.
"Mbak Zara di panggil mbak Septi."
Ibu Parno bagian kebersihan dengan langkah tergopoh menghampiri Zara yang baru saja selesai makan siang, hari ini ia mendapat giliran jam kedua untuk istirahat.
"Ada apa mbak Septi panggil saya ya bu."
"Tidak tahu saya mbak, tolong cepat ke sana mbak, takut dia marah-marah" ujar ibu tukang kebersihan yang biasa di panggil Bu Parno itu dengan wajah panik.
Zara pun mengerutkan keningnya, rupanya sosok Septi begitu di takuti di butik tersebut.
"Permisi, mbak Septi tadi panggil saya?"
"Heum" wajah masam dengan tatapan penuh intimidasi menatap Zara.
__ADS_1
"Lu kalau kerja yang bener dong, mentang-mentang karyawan kesayangan, kerja se enaknya sendiri."
"Maksudnya apa mbak?" tanya Zara bingung.
"Nih, lu nyortir baju tuh yang teliti, masa baju nggak ada kancingnya lu pajang di depan" ujarnya sambil melempar baju ke arah muka Zara.
"Mbak, kalau ngasih tahu tuh yang sopan mbak, kita itu sesama karyawan nggak usah beranggapan siapa senior dan siapa karyawan baru, kita semua di gajih orang yang sama jadi mbak tidak perlu bersikap sok berkuasa di sini mbak, jika memang saya salah oke, saya pasti akan minta maaf dan bertanggung jawab atas kesalahan saya, tapi bukan berarti mbak Septi yang membuat keputusan dan sok jadi yang paling berkuasa di sini mbak." hardik Zara keras.
Karyawan lain yang mendengar hal tersebut saling pandang, memang sejak kedatangan Zara, sikap Septi bertambah arogan, ingin menunjukan kuasa sebagai karyawan paling senior di butik mungkin, apalagi dengan wajah Zara yang cantik dengan tubuh tinggi langsing tentu saja kini menjadi primadona para pengunjung butik tersebut.
Septi seakan tak ingin kedudukannya tersingkir, ia ingin menunjukan taringnya pada Zara.
Meski sebenarnya karyawan lain pun merasa jengah dengan sikap arogansinya.
Zara tak mau tinggal diam, sejak pertama kali ia datang dan bekerja di butik, tak ada hari tanpa Septi bernafsu membuatnya cedera dari mental sampai fisik.
Merasa gerah dan tak mau jika lama-kelamaan dirinya akan terus di injak-injak Septi, ia harus mengambil sikap, benar kata Dewi sahabatnya, ia harus tegas ia tak boleh lemah apalagi diam menerima bullyan dari Septi.
Lawan jika kita berada di sisi yang benar, dan mintalah maaf jika melakukan kesalahan.
Menganggap diri sendiri lebih tinggi dari orang lain sungguh Zara sangat membenci hal itu.
Zara tak pernah melakukan pekerjaan setengah hati, sehari penuh ia menyortir baju dengan teliti, bahkan sehelai benang lepas pun pasti ia lihat apalagi dengan kancing yang lepas.
"Oo jadi elu mau ngelawan gue hah?" Septi dengan congkak membusungkan dadanya ke arah Zara.
Gadis cantik itu tersurut beberapa langkah ke belakang, jika untuk beradu siapa bagian tubuh paling menonjol tentu saja ia kalah.
"Maaf sebelumnya mba, jika memang itu adalah kesalahan saya maka saya akan mengakuinya dengan ikhlas, namun saya akan menolak jika itu bukan kesalahan saya, saya mensortir baju tersebut dan saya yakin dengan sepenuh hati tak ada baju yang cacat yang saya pajang"terang Zara.
"Lalu kancing ini lu kira lepas sendiri hah?" hardik Septi lantang.
"Untuk selengkapnya bisa kita lihat di CCTV saja mbak, biar semua jelas" ucap Zara tak kalah lantang.
Glek.
Raut wajah Septi berubah seketika, rona mukanya berubah pias.
"Bagaimana, kita laporkan hal ini pada Nyonya Maharani, saya yakin CCTV di ruangan ini masih berfungsi dengan baik" ucapnya tenang.
"Baik kita lihat hasil rekaman besok" ujar Septi mencoba tenang namun dadanya bergemuruh panik.
__ADS_1
Sialan, gadis ini ternyata tak bisa di anggap remeh, gue harus cari cara agar rekaman CCTV itu gue dapatkan, batin Septi dengan tatapan tajam ke arah Zara.
Beberapa karyawan yang tadi berkumpul karena terusik dengan kegaduhan yang Septi buat akhirnya mulai menyebar dan kembali ke tempat kerja masing-masing.
"Mbak, ada apa?" tanya bu Parno lirih dengan tubuh agak membungkuk agar Septi tak melihat ke arahnya.
"Entahlah Bu, ada satu baju yang kancingnya lepas, dan baju tersebut ada di pajangan depan, padahal aku kemarin sudah memeriksa semua baju dengan teliti, dan tak ada baju yang lepas kancingnya, lagian mana ada baju mahal bisa sampai terlepas kancingnya" ujar Zara tenang.
"Lalu gimana kelanjutannya mbak Zara?"
"Ehm untuk lebih pastinya besok CCTV di ruangan butik seluruhnya akan di periksa" ujar Zara.
"Wah benar itu mbak, lebih baik semua CCTV di periksa soalnya ibu juga yakin mbak Zara tidak bersalah" ujar wanita paruh baya tersebut dengan memandang Zara lembut.
"Kenapa ibu bisa yakin kalau itu bukan salah dari saya bu?"
"Ehm hati kecil saya yang mengatakannnya mbak."
"Ah ibu bisa aja bikin orang seneng, udah ya bu saya mau beres-beres, sebentar lagi jam kerja usai."
Bu Parno mengangguk lalu ia pun mulai membenahi peralatannya.
"Udah selesai tugasmu babe?"
"Huaahh, plakk." Zara reflek menampar lengan Andra karena kaget saat tiba-tiba suara Andra begitu dekat dengan pipinya.
"Aakhhh."
"Ra..sakit Raa" rintih Andra sambil mengusap lengannya yang jadi sasaran tamparan tangan Zara.
"Lagian kak Andra ngagetin aja, bikin jantung mau copot."
"Jangan Ra pasang lagi, kalau jantung kamu copot nanti aku juga ikut copot jantungnya."
"Ish lebay ah, udah ah hayu kita pulang." Zara melangkah meninggalkan Andra yang masih berdiri di pintu butik.
"Ish Ra, kenapa malah aku di tinggalin, tunggu dong babe, tunggu kekasih tampanmu ini sayang" teriaknya.
Beberapa karyawan tertawa lirih melihat adegan bak drama komedi romantis sedang tayang.
sementara di balik deretan manekin, sepasang mata tengah memandang penuh dengki ke arah mereka.
__ADS_1
Sekarang lu masih bisa tertawa puas Ra, tunggu perhituangan dariku.