
Ruang produksi yang memang terasa panas dan bising, membuat kepala Revan semakin berat, ia kembali ke ruangannya, untuk melihat jalannya produksi setelah memakai mesin terbaru, ia akan meminta data hasilnya saja pada bagian PPIC Produksi.
Ruangan CEO tampak sepi, Revan pun kembali keluar lalu menuju pantry, segelas minuman sari buah dingin mungkin bisa menyejukan hati dan pikirannya.
Hari sudah menjelang sore, beberapa menit lagi jam kerja usai.
Revan pun bergegas membereskan mejanya.
"Roy Gue pulang duluan" catatan kecil ia tinggal di atas meja untuk sang asisten.
Tak ingin terjebak kemacetan Revan pun melajukan mobilnya sedikit cepat.
Beruntung, kepulangannya yang kebih awal membuat jalanan masih lancar.
Suasana mansion tampak sepi, Reni ibunya mungkin sedang berkumpul dengan sahabat-sahabat sosialitanya, batin Revan.
Segera Revan membersihkan tubuhnya, suasana hari yang panas, membuat badannya terasa gerah dan lengket.
Ceklek.
"Sudah pulang nak?" tanya Reni.
Revan mengangguk pelan.
"Van, tadi temen-temen ibu banyak yang cerita, ada yang baru punya cucu, ada yang bulan kemarin nikahin anaknya, seneng ibu dengernya" tutur Reni dengan wajah ceria.
Revan menghela nafas panjang, lagi-lagi ibunya tentu mengharap ia segera mencari kekasih, bahkan jika malam ini ia ingin melamar kekasihnya pun, sang ibu mungkin langsung menyetujuinya.
"Nak, bagaimana sekarang hubunganmu dengan Zara?" tanya Reni, meski ia tahu jika gadis mantan kekasih putranya itu sudah menjadi milik orang lain, namun ia masih berharap gadis itu akan kembali dengan putranya.
Selama janur kuning belum melengkung maka cinta masih bisa di perjuangkan.
"Bu, aku dan dia tak akan pernah bersatu Bu," ucap Revan lirih.
"Tapi mereka kan baru pacaran Van, dan Ibu yakin, kau lebih pantas bersanding dengan Zara daripada putra Maharani itu."
"Bu, ada yang mau aku tanyain sama Ibu, dan aku harap Ibu mau menjawab dengan jujur" ucap Revan tiba-tiba.
Raut wajah Revan kini tampak serius memandang sang ibu.
"Bu, apa benar Ayah sudah meninggal?" tanya Revan dengan netra tajam ke Reni.
Wajah wanita paruh baya itu tampak tegang.
"Kenapa kau tanya kan itu nak, bukankah sudah ibu katakan berkali-kali, ayahmu sudah tiada nak, sudah meninggal" jawab Reni tegas.
__ADS_1
"Ibu bohong, lalu siapa ini?" Revan menyodorkan kertas dengan gambar pria ber jas ke arah sang ibu.
Reni mengamati kertas tersebut dengan mendekatkan ke arah wajahnya, seketika tangan kirinya menutup mulut yang kini terbuka lebar.
"Ibu kenal dengan dia?bukankah dia adalah ayahku bu?" tanya Revan yang kini mulai tegang.
Jika benar dalam gambar tersebut adalah ayahnya, maka benar kata Zara, mereka saudara satu ayah, dari reaksi yang ibunya perlihatkan, dugaanya adalah benar.
"Dari mana kau dapat gambar ini nak?" tanya Reni dengan mata mulai ber embun.
"Tidak penting dari mana aku mendapatkannya, yang harus ibu tahu, karena dia lah aku dan Zara tak akan pernah bersatu, kami adalah saudara satu Ayah kan Bu? lelaki itu adalah Ayah Zara yang juga ayahku, lelaki yang telah ibu rampas dari mereka hingga menyebabkan hancurnya keluarga Zara, kenapa ibu bisa se tega itu Bu " kalimat lantang Revan membuat Reni semakin terkejut.
"Apa maksudmu nak?" tanya Reni tak paham.
"Zara adalah putri dari pria itu Bu, putri yang telah di rampas kebahagiannya oleh Ibu."
Reni menggelengkan kepalanya kasar.
"Aku sungguh tak menyangka ibu se tega itu, merampas lelaki yang sudah memiliki istri dan anak" Revan meninggalkan Reni menuju ke kamarnya.
Kini Reni yang menangis terisak, memori masa lalunya kembali terulang.
Gunawan, lelaki cinta pertama yang amat di cintainya dan berharap menjadi pengganti suaminya yang telah tiada namun ternyata ia sudah mempunyai seorang istri dan seorang putri.
Mereka bertemu untuk pertama kali setelah mereka berpisah beberapa tahun, meski sudah mempunyai keluarga kecil yang bahagia ternyata Gunawan masih menyimpan sedikit sisa cintanya pada Reni.
Bahkan Gunawan pergi di saat Zara masih anak-anak, ia yang di butakan oleh cinta pertamanya dengan tega meninggalkan Yeni ibu Zara.
Reni hanya bisa tersenyum kecut, rupanya Zara adalah putri Gunawan, dan ia menganggap Revan adalah putranya dengan Gunawan, jadi Zara mengira mereka adalah saudara satu ayah, karena itu ia memutuskan hubungannya dengan Revan, pikir Maharani.
Memang dia lah yang membuat Gunawan akhirnya meninggalkan keluarganya, meski Reni dan Gunawan kembali bersatu dalam ikatan resmi pernikahan namun hanya bisa bertahan satu tahun.
Gunawan ternyata tak dapat melupakan istri pertamanya Yeni dan Zara putri kecilnya.
Reni pun menerima keputusan Gunawan untuk bercerai.
Reni masih diam terpaku dengan gambar Gunawan di tangannya.
"Ternyata kau sudah hidup senang mas" gumamnya lirih.
Dari baju setelan jas yang di pakai, serta bodyguard yang di belakangnya, sudah terlihat bahwa Gunawan sudah sukses.
Kini Reni harus meluruskan semuanya, Revan dan Zara bukan saudara satu Ayah, mereka sama sekali tak ada hubungan apapun, seperti apa yang di katakan oleh Zara pada Revan.
Sementara di kamar, Revan masih duduk di depan jendela kamarnya, tatapannya menerawang jauh dan kosong.
__ADS_1
Harapan dan cintanya kini benar-benar telah hancur, kenyataan pahit kini terpampang jelas di depan matanya, rupanya selama ini ibunya yang selalu menyembunyikan identitas sang ayah karena ia adalah seorang lelaki yang telah di rampasnya dari wanita lain.
Revan kini sadar, alasan Zara begitu membencinya.
Entah bagaimana perasaan Zara saat meluhat sang ayah pergi dengan wanita lain, sesak dada Revan kini.
Dengan keras ia menepuk dadanya, bagai batu besar yang menghimpit tubuhnya saat ini.
Dadanya berdenyut nyeri, kepalanya pun terasa berat.
Bruukk.
Jantung Reni tiba-tiba bagai berhenti berdetak, suara benturan keras terdengar dari kamar sang putra.
Iapun berlari sekencang mungkin ke arah kamar Revan dan menarik tuas pintunya.
Brak brak brak.
"Nak, buka pintunya Van" teriakan Reni kencang membuat se isi mansion panik.
Pelayan di dapur berlari menuju kamar di mana Reni berteriak histeris.
Satpam pun ikut berlari, mansion kini semakin gaduh.
"Bi ambil kunci cadangan cepat" teriak Reni pada bibi senior.
Wanita tambun itu berlari tergopoh-gopoh ke ruang pribadi Reni, dimana tersimpan kunci cadangan seluruh ruang mansion.
Dengan tangan Gemetar Reni mengambil kunci dari tangan Bibi.
Ceklek.
"Vaaan" Reni lari berhambur ke tubuh Revan yang tergeletak di lantai.
Wajahnya terlihat pucat dengan keringat dingin di dahinya.
Jari tangan dan kaki sangat pucat, Reni semakin histeris dan panik.
"Bi cepat panggil dokter Hidayat" teriak Reni.
Bibi pun segera menghubungi dokter langganan Reni, semua penghuni mansion sudah di minta Reni untuk menyimpan nomor kontak dokter Hidayat.
Satpam segera mengangkat tubuh Revan untuk di baringkan di atas ranjang.
Reni terus menangis, mengusap punggung tangan sang putra.
__ADS_1
"Nyonya olesin pakai ini Nyonyah" ujar bibi menyodorkan minyak angin ke Reni.
Segera Reni balurkan minyak angin ke ujung kaki dan jari tangan putranya dengan panik.