
Zara bangun pukul lima, pagi ini ia sangat bersemangat karena sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter Wisnu.
Ia pun bangun dari ranjang pasien, tubuhnya sudah terasa bugar, perban di keningnya sudah di lepas, nafsu makannya pun sudah kian bertambah.
"Ra, Gue berangkat dulu ya, kamu nggak apa-apa sendiri kan?" tanya Dewi yang sudah siap berangkat kerja.
Zara mengangguk penuh semangat lalu melambaikan tangan pada sahabatnya.
"Nggak apa-apa, bye Wi, hati-hati di jalan ya" ucapnya.
Ia pun segera ke kamar mandi untuk menyeka tubuhnya dan bersikat gigi, sebenarnya ingin sekali ia mandi keramas atau bahkan ber renang, badannya terasa lengket dan sangat tak nyaman karena mandi hanya satu kali sehari, itupun di lap.
Setelah mengganti baju ia pun melihat ke arah jendela, suasana pagi masih terasa sejuk, ia ingin berjalan sekedar mengelilingi ruangan untuk melemaskan otot kakinya.
Zara melihat jam dinding, sudah pukul delapan, biasanya kunjungan Dokter sekitar pukul setengah sepuluh, jadi ia masih banyak memiliki waktu untuk berjalan santai keliling koridor rumah sakit, pikirnya.
Di ambilnya air minum satu gelas , sarapan dari suster ia terpaksa makan hingga habis, agar tak banyak pertanyaan dari Dokter nantinya.
Dengan perlahan Zara menyusuri koridor rumah sakit yang sepi, hanya sesekali ada perawat lewat.
Tiba di ujung koridor Zara memutar balik langkahnya, kaki dan tubuhnya sudah terasa lemas, ia pun merasa sedikit haus.
Tak tok tak.
Zara melihat ke arah asal suara, terlihat Andra dengan wajah panik melongok ke ruangan di sebelahnya dengan, ia bahkan beberapa kali meremas rambutnya, tampak di wajahnya penuh kecemasan.
"Kak" panggil Zara namun ia sengaja memelankan suaranya agar tak mengganggu pasien lain.
Andra sontak memandang ke asal suara, sesaat tubuhnya diam membeku dan sepersekian detik akhirnya ia pun berlari menyongsong Zara yang berada di ujung koridor rumah sakit.
" Dari mana kau Ra?aku bell nggak di angkat, di kamar mandi juga nggak ada, bikin orang cemas aja" rutuk Andra kesal.
"Aku bosan di kamar Kak, kata Dokter Wisnu aku boleh pulang tapi tunggu kunjungan Dokter datang."
"Ya udah ayo kita tunggu di ruangan" Andra menuntun Zara perlahan, lega rasa hatinya kini.
"Ra, aku sebenarnya ke sini cuma sebentar, aku ada urusan lain yang harus di selesaikan" terang Andra tanpa menjelaskan secara rinci bahwa ia akan mengantar keluarga Fitri ke bandara.
"Oh nggak apa-apa Kak."
"Oke nanti aku balik lagi setelah urusanku kelar."
Andra tersenyum lega lalu mencium puncak kepala Zara lembut.
__ADS_1
"Aku pergi, hubungi aku segera jika ada hal yang penting" pesan Andra.
Zara mengangguk pasti dan tersenyum manis melepas sang pujaan.
Beberapa saat setelah kepergian Andra, Dokter dan beberapa perawat pun datang.
Zara pun tersenyum bahagia, sore nanti ia di perbolehkan pulang.
Andra yang kini dalam perjalanan menuju bandara beberapa kali melihat layar ponselnya panggilan dari Fitri tak cukup menarik hatinya, ia berniat untuk mengantar Pak Menteri dan keluarganya setelah itu ia akan kangsung kembali ke rumah sakit, itu pikirnya.
Namun nyatanya kenyataan berkata lain.
Fitri tak ikut pergi bersama kedua orang tuanya ke negara S, ia akan tinggal di sini, dan yang lebih mengejutkan lagi, Pak Menteri menitipkan Fitri padanya.
Kedekatan Andra dan Fitri sudah mendapat persetujuan mereka bahkan ketertarikan sang putri pada sahabatnya itu mereka dukung.
"Nak Andra, saya titip putri saya, tolong jaga dia selama kami di S, saya percayakan putri kami pada nak Andra karena kami tahu nak Andra adalah seorang pria yang baik dan bertanggung jawab " pesan Ibu Fitri saat hendak pamit.
Begitu pun pak Menteri yang terus tersenyum dan menepuk pundak Andra.
"Aku percayakan dia padamu" ucap Pak Menteri singkat namun penuh wibawa.
Andra hanya bisa mengangguk dengan senyum masam, Fitri terus saja menangis di pelukan sang ibunya dengan manja.
Isak tangis penuh drama melepas kepergian kedua orang tuanya, beberapa wartawan yang meliput berita pun tampak sesekali melepaskan bidikan kamera ke arah Menteri yang di segani itu.
Meski maksud hati ingin menghindar tapi tubuh tegap dan wajah tampan Andra tentu saja menjadi sasaran empuk bidikan kamera para pemburu berita.
Jengah dengan tingkah para wartawan, yang seakan telah memfonis bahwa Andra lah calon menantu sang Menteri, membuat pria tampan itu tak sedikitpun memperlihatkan wajah ramahnya.
Permintaan para wartawan yang menyuruhnya untuk tersenyum di depan kamera tak Andra hiraukan.
Wajah datar dan dingin dengan sorot mata tajam tak bersahabat, selalu Andra perlihatkan.
Berharap mereka menjauh atau mungkin sekedar memberinya jarak.
Pesawat yang telah lepas landas namun isak tangis Fitri masih terdengar di telinga Andra, gadis itu terus saja melekat di bahunya.
Risih Andra dengan keadaan itu, perlahan ia mengurai pelukan Fitri namun berkali-kali pula gagal.
Seakan ada sebuah lem besi yang membuatnya terus dekat dan menempel padanya.
"Fit, lepasin tanganmu" bisik Andra sambil berjalan menuju area parkir bandara.
__ADS_1
"Nggak, pokoknya aku mau ikut kemana pun kamu pergi."
Glekk.
Andra menelan ludah kasar, janjinya memang sudah terucap pada kedua orang tua Fitri, namun bukan seperti itu konsepnya.
"Aku harus ke bengkel Juned temanku dulu, kamu aku antar pulang" ucap Andra datar.
"Tapi aku belum mau pulang Ndra."
"Tapi bengkel itu kotor Fit, baju kamu nanti kena oli."
Fitri mengerucutkan bibirnya kesal, ia paling anti dengan yang kotor dan bau, nanti akan menempel di baju indahnya.
"Aku antar kamu pulang, oke?"
"Tapi aku mau makan dulu, laper" rengek Fitri manja.
Tangan Andra meremat kemudi dengan kencang, tingkah Fitri kini berubah, semakin membuatnya ilfil.
Di sebuah restoran sederhana Andra memarkirkan mobilnya, karena memang itulah rumah makan terdekat saat ini.
"Ih Ndra, kok di resto ini, apa makanannya higienis, tempatnya aja kecil, parkiran juga sempit" protes Fitri kesal.
"Nggak apa-apa Fit, enak kok, lihat aja banyak pengunjungnya, lagian tempat ini kan resto terdekat, katanya kamu lapar" jelas Andra mencoba tuk sabar.
Dengan kekesalan yang tak dapat di tutupi gadis cantik itupun turun dan melangkah mengikuti Andra memasuki rumah makan sederhana tersebut.
"Mau makan apa" tanya Andra pada Fitri.
"Ehm sama in aja deh sama kamu" jawabnya dengan wajah ia buat se imut mungkin, berharap pria di hadapannya akan terpesona.
Andra pun meminta pelayan untuk membuat pesanannya.
Tak butuh waktu lama karena memang Andra sengaja memesan menu paling simple yaitu nasi goreng seafood dan orange juice.
Andra me makan dengan lahap, berpura-pura bahagia di depan orang yang tidak di sukai ternyata menguras tenaga, batin Andra lirih.
Sedangkan Fitri yang dengan cueknya hanya memilih dan makan udang dan cumi di nasi gorengnya, sementara nasi dan teman-temannya tak ia makan.
Andai Zara dan Dewi melihat hal itu, pastilah sudah keluar seribu sumpah serapah di tujukan pada gadis itu.
Sangat pantang bagi Zara dan Dewi untuk membuang makanan apa pun itu, apalagi makanan yang sudah di beli dengan harga yang mahal.
__ADS_1
Harga sepiring nasi goreng seafood pastilah sangat mahal bagi mereka yang berpenghasilan pas-pas an, mungkin bisa untuk membeli cilok yang bisa di makan untuk satu keluarga.