Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*159


__ADS_3

"Fitri, apa yang kau katakan, dia adalah calon istri Andra dan kau harus menghargainya" ucap pria paruh baya itu memperingatkan putrinya.


"Tidak Ayah ..dia tidak pantas menjadi pendamping Andra, gadis yatim piatu itu tak boleh bersanding dengannya hanya aku yang pantas menjadi istrinya Ayah" ucapan Fitri menggema di ruangan tanpa menghiraukan perasaan Zara.


"Fitri sombong sekali kau, aku tak pernah mengajarkan kedengkian hati padamu sadar lah kau nak" ucap Menteri itu meninggikan suaranya.


"Pak, tenang lah putrimu sedang sedih, ku harap kau memakluminya, ia tidak seperti itu biasanya, ini terjadi karena hatinya yang sedang terluka dan sedih Pak" ucap sang istri membela putrinya.


Pak Menteri akhirnya terdiam, dadanya bergemuruh menahan amarah yang hendak membuncah.


Sikap arogan Fitri adalah akibat dari sang istri yang terlalu memanjakannya.


Fitri menangis terisak dengan memeluk tubuh Andra erat.


Pria tampan itu berusaha mengurai pelukan Fitri dengan tangan kirinya karena satu tanganya lagi masih tetap memegang tangan Zara.


"Ibu tolong usir gadis yatim piatu itu bu, suruh dia pergi dari ruangan ini hiks" isak tangis Fitri terdengar pilu.


"Kata siapa dia gadis yatim piatu, dia adalah putriku, berani-beraninya kalian mengusirnya dari sini hah.."


Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut bukan main, suara berat yang menggelegar ke seisi kamar membuat sosok pria yang datang itu kini menjadi pusat perhatian.


"Ayah mertua.." ucap Andra lirih dengan senyum bangga.


Pak Menteri dan ajudan saling pandang merasa tak mengenal pria pemilik suara berat itu.


"Siapa kau?" tanya Pak Menteri terkejut.


Kini Gunawan yang di liputi rasa bingung, bagaimana mungkin Menteri itu tak tahu siapa dirinya.


Gunawan tak sadar bahwa selama ini ia tak pernah memperlihatkan wajahnya, jadi bagaimana mungkin Menteri itu mengenali wajahnya.


"Dia Tuan Awan.." ucap pria tampan berwajah setengah bule yang tak lain adalah Manu memasuki ruangan dengan wajah tenang.


Glek.


Ayah Fitri hanya menelan ludah kasar dengan wajah mulai pucat, pria bersuara berat itu ternyata adalah Tuan Awan, pengusaha besar dan salah satu pemilik saham terbesar di beberapa perusahan miliknya.


"T tuan Awan.." ucapnya dengan suara bergetar.


Gunawan hanya memutar matanya, kesal rasanya saat sadar telah kalah tenar dari Manu sang asisten.


Manu mengangguk hormat pada Menteri itu, ia memang yang selalu bertugas mengurusi tanda tangan perjanjian kerja sama mereka, jadi Gunawan tak mereka kenali.

__ADS_1


Menteri itu tampak pucat sementara istrinya masih bermuka santai, wanita paruh baya itu masih belum menyadari bahaya yang ada di depan matanya.


"M maaf Tuan, apa maksud Tuan Awan dengan mengatakan bahwa gadis ini adalah putri Tuan" tanya Pak Menteri gugup.


"Benar, gadis yang kalian sebut sebagai gadis yatim piatu itu adalah anak kandungku, putri kesayanganku" ucap Gunawan tegas.


Zara hanya diam membeku di tempatnya tak percaya jika pria yang di lihatnya tempo hari benar Ayah kandungnya.


Ayah yang telah membuat luka yang begitu dalam tak berdasar, Ayah yang ia benci sekaligus ia rindukan.


Fitri memandang pria itu lalu beralih ke Ayahnya, jika melihat sang Ayah yang begitu hormat padanya, maka besar kemungkinan bahwa pria itu adalah orang penting.


"Bu siapa dia" bisiknya pada sang Ibu yang di jawab dengan gelengan kepala.


Mana paham Ibu Menteei dengan dunia bisnis suaminya, ia hanya tahu para pejabat dan petinggi yang selalu hadir di perjamuan pesta jadi mana kenal dia dengan Gunawan.


"Hei apa kau masih rela jika istrimu di hina seperti itu heum?" hardik Gunawan pada Andra, panas hatinya saat Zara di sebut sebagai gadis yatum piatu dan di remehkan oleh orang lain.


"A ehm aku.." Andra tak bisa berucap, meski suara Gunawan keras menggelegar namun hatinya justru berbunga-bunga, Gunawan sudah memanggil Zara dengan istrinya berarti pria paruh baya itu secara tak langsung sudah merestuinya untuk menjadi suami Zara.


"Aassttt dasar suami tak bisa di andalkan, bawa istrimu pergi dari sini, aku tak ingin ia sampai bersedih karena ulahmu."


Gunawan mengucapkan kalimat tersebut dengan kedua mata tajam menatap Zara, dadanya bergemuruh, ingin rasanya ia memeluk putri yang kini tepat di depannya, mata bening Zara tampak berkaca memandangnya, namun Gunawan tak tahu apa arti tatapan itu.


Apakah kebencian masih begitu besar di tujukan untuknya.


Rasa hormatnya tak akan hilang meski sikap putrinya bertolak belakang dengannya.


"Andra tunggu...jangan pergi Ndra.." teriakan Fitri nyaring saat Andra pergi dari ruang kamarnya.


"Sudahlah nak, biarkan dia pergi hik hiks" tangis wanita paruh baya itupun ikut pecah, Fitri kembali mengamuk hingga jarum infus yang menancap di tangannya terlepas.


Darah bercucuran menodai di kain sprei putih rumah sakit.


"Pak..panggil dokter Pak" tangisnya panik.


Pengawal pun sigap memanggil Dokter sambil berlari kencang, karena kepanikan membuat mereka tak ingat bahwa ada tombol darurat di samping ranjang.


Sementara Gunawan yang berjalan di belakang Andra dan Zara hanya menoleh sekilas ke arah pemandangan dramatis itu.


Cih dasar gadis manja, belajarlah kau berjuang tanpa mengandalkan harta orang tuamu, umpat Gunawan dalam hati dengan senyum puas.


Pak Menteri dan sang istri hanya bisa pasrah dengan kondisi putri mereka.

__ADS_1


"Nu suruh mereja ke apartemenku" titah Gunawan tegas.


"Baik Bos."


"Babe ..kita kemana?" tanya Zara yang melihat sang kekasih memutar balikan arah kemudinya.


"Manu meminta kita menemuinya."


Zara menautkan alisnya karena tak biasanya Andra jadi begitu penurut pada perintah Manu.


Di sebuah area gedung apartemen, Andra memarkirkan mobilnya.


"Ayo kita naik."


"Manu tinggal di sini?"


Andra mengangguk "Manu dan Bosnya."


"Bos ..Manu.." Zara menutup mulutnya yang terbuka lebar karena terkejut.


Baru ia menyadari bahwa Manu tadi mengaku bahwa dia adalah asisten dari tuan Awan atau Gunawan, dan selama ini Bos Manu yang begitu baik dan perhatian ternyata adalah Ayahnya sendiri.


Jadi selama ini sang Ayah masih perduli dan juga perhatian padanya.


Dari langkah Andra yang tak ragu, di pastikan sang kekasih pernah mendatangi gedung ini, Zara membatin.


Ting.


Apartement sederhana namun rapi dan sangat nyaman, pikirnya.


Tanpa ragu dan canggung Andra duduk di sofa depan televisi.


Zara menyikut lengan sang kekasih dan mengedikan dagunya.


"Tunggulah sebentar dan duduklah yang tenang."


"Bgaimana bisa tenang, kau tidak memberitahu siapa pemilik apartement ini dan kenapa kita ke sini."


"Kita akan bertemu Ayah mertuaku..... Ayahmu sayang" bisik Andra lirih di telinga sang kekasih.


Andra tak bisa berbuat bebas di apartement orang lain, apalagi ini kediaman Gunawan, bukan hal mustahil kalau banyak kamera tersembunyi di ruangan ini, pikir Andra.


Ceklek.

__ADS_1


Keduanya memandang ke arah pintu kamar yang terbuka.


"Selamat datang putriku.."


__ADS_2