Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*120


__ADS_3

Manu melangkah ke ruang apartemen Gunawan dengan hati berdebar setelah menolak panggilan dari Gunawan, karena di saat bersamaan dirinya sedang bersama Zara dan sahabatnya.


"Hmm masih ingat pulang rupanya kau Nu?" sindiran Gunawan membuat Manu tersenyum kecut.


"Maaf tadi saya tak bisa menerima panggilan Tuan."


"Kenapa Heum?"


"Saat itu saya sedang bersama Non Zara Tuan"


Gunawan menatap Manu intens, dan tak ada kebohongan dari matanya.


"Lalu mana bukti kau sudah berhasil mengajak putriku pulang?"


Manu pun membuka galerinya di mana tadi beberapa kebersamaan dengan Zara berhasil di abadikan olehnya.


Gunawan tersenyum haru melihat wajah ceria sang putri tercinta yang di kirim Manu.


"Kau seperii ibumu saat tersenyum sayang" ucapnya lirih.


Matanya kini mulai berembun.


"Kapan aku bisa memelukmu nak, mencium dan mendekapmu, maafkan Ayahmu ini sayang, hiks."


Suara isak mulai terdengar serak dari Gunawan.


"Apa dia sudah pulang ke apartement Nu?"


Manu mengangguk pasti.


"Saya melihat mobilnya pergi menuju arah apartementnya Tuan, dan dari CCTV area parkiran gedung apartementnya, mereka sudah sampai beberapa menit yang lalu."


Gunawan masih terus lekat memandang poto Zara.


"Nu."


"Heum, ada apa Tuan?"


"Topi itu..."


"Topi siapa Tuan?" Manu belum menyadari ucapan Gunawan.


"Bukankah Topi itu seperti topi yang kemarin tertinggal di rumah Nardi?"


Glek.


Mampus gue, umpat Manu dalam hati.


"Ahh ehm i itu topi Non Zara tuan, saat dari taman kota ternyata tertinggal di mobil."


Sontak Gunawan segera berlari menuju kamarnya mengambil topi yang hanya mencium aromanya sudah membuatnya candu.


"Jadi topi ini topi milik putriku Nu?" tanya Gunawan masih tak percaya.


Manu mengangguk pasti.


"Maafkan ayahmu naak" mata Gunawan kini mulai berembun.


Di ciumnya berkali- kali topi Zara, bahkan tarikan nafasnya dalam seakan ingin memenuhi rongga paru-parunya dengan merasakan aroma wangi sang putri.


"Ayah rindu padamu sayang, kapan Ayah bisa memeluk dan menciummu hiks" isak mulai terdengar dari suaranya yang berat.

__ADS_1


Manu hanya melihat dengan perasaan jengah, jika tentang putrinya, Gunawan akan berubah menjadi pria yang cengeng.


Satu jam sudah Gunawan terus terisak sambil menciumi topi Zara, sementara Manu sudah merasa sepat matanya.


"Bos saya pamit pulang bos."


"Kenapa pulang Nu, apa kamu tidak mau temani aku dulu?"


Cih nemenin orang nangis, ogah amat bos, ucap Manu dalam hati.


"Maaf bos, malam sudah larut dan besok pagi saya harus berangkat ke kantor, tahu sendiri, peraturan di perusahaan sangat ketat, nggak mau saya terus potong gajih gara-gara telat bangun tidur" sindir Manu.


Sudah beberapa kali ia mendapat amarah Gunawan hanya karena telat beberapa menit.


Gunawan mengibaskan tangannya agar Manu pergi.


Suasana apartement kembali hening.


Gunawan mengusap air matanya perlahan.


Dadanya terasa sesak, rasa rindu yang teramat besar pada putri satu-satunya sungguh sangat menyiksa hidupnya.


Putri yang hanya bisa ia pandang dari jauh tanpa bisa untuk memeluknya.


Ceklek.


Manu memasuki apartement yang berada di sebelah Gunawan.


Sama luas dan sama rapi nya, hanya saja milik Manu sengaja ia biarkan tak banyak perabotan, membuatnya terkesan lebih luas.


Langkahnya pelan menuju kamarnya, jika di ruang tamu dan ruang tengah ia biarkan berwarna putih polos tanpa hiasan dinding namun berbeda dengan kamarnya.


Sebuah poster berukuran besar memenuhi dinding kamarnya.


Zara Zanita, poster yang sengaja ia cetak berukuran besar agar mengobati rasa rindu jika sedang menyerangnya.


"Apapun akan aku lakukan agar kalian kembali bersatu, kalian berhak bahagia, andai kau tahu Ra, Ayahmu begitu tersiksa dengan rasa bersalah yang selalu menghantuinya, maafkanlah dia Ra."


Manu bermonolog sendiri sambil mengusap wajah di dinding kamarnya.


Pagi pun menjelang, Zara kali ini berangkat dengan Dewi, sahabatnya mewanti agar ia selalu berhati-hati saat bekerja, dan tak lupa untuk membekalinya camilan untuk di makannya jika ada waktu luang.


"Aku turun Ra, hati-hati dan jangan telat makan, juga jangan melamun jika sedang kerja" pesan Dewi sebelum turun dari mobil.


Zara melambaikan tangan lalu kembali melajukan mobilnya menuju restoran.


Zara sengaja datang lebih awal agar bisa berangakat bersama Dewi, alasan agar Andra tak menjemputnya, dirinya masih canggung setelah tragedi kesalahan vidiocall tadi malam.


Sesampainya di restoran ia pun bergegas ke ruang ganti baju.


Dengan langkah pelan dan matanya memindai ruangan takut jika Andra sudah berada di restoran.


Nafasnya lega, Andra belum tampak, mungkin saja belum berangkat.


"Ehm hmm hmm" sebuah suara deheman berat mengagetkan Zara.


Rupanya Andra sengaja menunggunya di ruangan Zara.


"Baru datang sayang" sapa nya lembut.


"Eh i iya Kak" jawab Zara tergagap.

__ADS_1


Andra hanya tersenyum sambil mengecup puncak kepala Zara dengan lembut.


"Jangan terlalu lelah kau bekerja, aku yang akan sangat sedih jika melihatmu terbaring dengan tubuh lemah tak berdaya" bisiknya lirih.


Dada Zara sontak berdebar kencang tak karuan, wajahnya pun terasa panas.


Ia hanya bisa memandang kepergian sang kekasih dengan tatapan tak percaya, beraninya ia bersikap mesum di tempat umum seperti itu, untunglah masih pagi hingga belum banyak karyawan resto yang datang.


Masih dengan jantung berdebar kencang, Zara menata meja kerjanya.


Andra pun berlalu sambil tersenyum gemas, wajah merona Zara sungguh sangat imut, menggoda sang kekasih di pagi hari sungguh sangat mengasyikan, ia membatin.


Sepanjang hari jantung Zara merasa tak tenang, Andra selalu berada di dekatnya seakan tak ingin ia menjauh barang satu meter pun.


Andra melangkah membawa nampan berisi makan siang untuk Zara, ia sengaja membawa ke ruang Zara karena di lihat banyak pengunjung dan mrmbuat sang kekasih kewalahan.


"Makan dulu sayang" ucapnya lembut.


Zara hanya menoleh wajahnya namun masih tetap meneruskan pekerjaan karena ada pengunjung yang sedang melakuakan transaksi pembayaran.


"Bentar Kak" bisik Zara.


Andra mengangguk dan tetap setia duduk menunggu Zara usai.


Namun lebih dari tiga puluh menit berlalu, masih saja banyak pembeli yang datang.


"Duduklah, biar aku yang menggantikanmu sebentar."


Andra menarik tangan Zara perlahan, agar menjauh dari kursinya.


"Tapi Kak."


"Makanlah dengan tenang, aku yang tangani ini" jawabnya santai lalu mengambil alih pekerjaan Zara dengan lancar.


Bukan hal berat bagi Andra untuk mengantikan pekerjaan Zara, dulu pun ia terbiasa menggantikan tugas kasir jika kasir utama sedang berhalangan datang.


Tak membutuhkan waktu lama, Zara segera menghabiskan makannya dan bergegas ke Andra untuk kembali mengambil alih tugasnya.


"Kak, aku sudah selesai" bisik Zara lirih di samping Andra.


"Sst duduk dulu, nggak usah cemas aku bisa tangani ini sayang" jawab Andra sambil mengerlingkan satu matanya.


Zara akhirnya terdiam duduk sambil menunggu Andra selesai.


Baru kali ini Zara melihat wajah sang kekasih sedang mode serius, apalagi dengan kaca mata bertengger di hidung mancungnya, sungguh membuat jantungnya berdebar kencang.


"Ehmm hm baru sadar kah kau, jika kekasihmu ini sungguh tampan heum" tanya Andra dengan mengedikan alisnya genit.


"Ah biasa aja" Zara memutar matanya gugup.


Andra terkekeh lalu duduk di samping Zara.


Tangannya menggenggam erat sang kekasih.


"Jangan terlalu keras kau bekerja, ingatlah makan, tubuhmu tak begitu kuat untuk mengikuti semua impianmu sayang" ucap Andra dalam.


"Ah Kak, apa kau memang biasa memakai kaca mata minus?" tanya Zara mengalihkan topik.


"Tidak, mataku masih cukup baik untuk melihat gadis cantik di depanku dan meyakinkan bahwa akan ku lakukan semua usaha agar kau selalu berada di sampingku" Netra Andra menatap Zara dalam.


Zara membalas tatapan pria di depannya, berharap ucapan itu bukan hanya bualan di kala waktu senggang.

__ADS_1


"Andraa...."


__ADS_2