
Sepanjang perjalanan Andra diam membisu, bahkan Zara tampak jengah karena sikapnya yang acuh dan tak mengajakanya bicara sepatah kata pun.
Mobil berhenti di mansion, Zara keluar dari pintu samping yang di buka oleh Andra, senyum manis dan tulus ia persembahkan, berharap Andra menyudahi sikap dinginnya.
Namun hatinya mencelos karena pria tampan itu masih diam seribu bahasa.
Zara mengikuti langkah Andra yang memasuki mansion.
"Sudah pulang kau Joy?" tanya Maharani.
"Heum."
"Kenapa mukamu kusut masai seperti itu nak, katakan pada mommy apa yang membuat hatimu bermuram durja."
Maharani yang belum mengetahui keberadaan Zara di belakangnya mengelus kepala sang putra dengan lembut.
"Tuh, dia yang buat anakmu ini kesal mom?"
Glek
Cih si anak mommy ngadu.
Maharani mengalihkan pandangan ke arah yang Andra tunjukan.
"Ahh sayang kenapa kau diam saja, tante pikir Joy pulang sendiri, kamu sudah makan sayang, ayo kita ke dalam."
Andra membulatkan mulutnya, sikap lembut mommynya berubah seratus delapan puluh derajat setelah melihat Zara.
"Mom, dia yang sudah buat aku kesal, kenapa malah mommy bermanis-manis padanya?" protes Andra tak rela.
"Ah memang sudah seharusnya lelaki itu mengalah Joy, ayo Ra kita ke dalam" Maharani menuntun Zara agar mengikutinya ke ruang makan.
"Mom anakmu itu aku mom, bukan dia" protes Andra sambil menyusul keduanya dengan tangan meremas kepalanya.
Zara tersenyum puas sambil mengedipkan satu mata ke arah Andra lalu memajukan bibir mungilnya.
Ish, lama-lama gue ***** beneran ni anak.
Zara duduk di kursi ruang makan mengamati Maharani yang tengah meracik koktail buah lalu menyodorkan pada Zara.
"Terima kasih tante."
"Aku juga mom, tapi pake buah itu, jangan pake ini, ini dan itu" pinta Andra tak rela mommynya begitu perhatian pada orang lain selain dirinya.
"Ish kamu ribed Joy, bikin sendiri ah."
"Moom...." protes Andra kesal.
__ADS_1
"Sebenarnya kamu kenapa si Joy, kenapa kesal sama Zara heum?"
"Tauk ah males."
Andra meninggalkan ruang makan lalu menuju kamarnya.
Maharani tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat ulah sang putra.
"Gini Tante..." Zara lalu menceritakan tentang kejadian di rumah tante Mely.
Tentang Andra yang meminta model rok yang di pakai Zara harus berukuran 7/8 sedangkan yang lain memakai ukuran 3/4.
Maharani tersenyum tenang, rupanya sifat posesifnya membuat ia berfikir pendek.
"Baiklah nanti tante yang akan bicara sama dia, kamu tenang saja" ujar Maharani bijak.
Kalimat Maharani membuat hatinya menghangat, sikap yang lembut dan bijaksana, seakan Zara adalah putri kandungnya sendiri membuatnya merasakan kembali perhatian dari sang ibu yang telah tiada.
Andai saja sang ibu masih ada, tentu lah Zara masih bisa merasakan hangat dan perhatian ibunya, mendekapnya di kala rasa sepi datang, tersenyum di saat sedih menyapa, dan menangis haru saat kebahagiaan datang.
"Ra, kenapa kamu menangis" Maharani tertegun saat melihat air mata menggenang di mata Zara.
"Ahh tidak apa-apa tante, aku cuma ingat sama almarhumah ibu, andai ibu masih ada mungkin Zara tak akan kesepian dan masih bisa merasakan kehangatan pelukan seorang ibu" ucapnya sambil mengusap air mata di pipinya.
Maharani langsung memeluk gadis itu erat.
Keduanya saling berpelukan erat.
"Ehmm hmm, kok cuma Zara yang di peluk momm, anakmu kau terlantarkan" ucap Andra sarkas.
Maharani tersenyum lalu melambaikan tangan ke arah sang putra agar ikut bergabung, ketiganya pun saling peluk erat penuh haru.
Karena malam mulai larut Andra pun mengantarkan Zara untuk kembali ke apartement.
"Kak, masih marah?" tanya Zara yang merasa jengah karena Andra mendiamkannya.
Andra menggeleng pelan, pikirannya akhirnya terbuka setelah sang mommy menasihatinya.
'Jangan pernah mengekang orang lain selama ia belum menjadi sah milikmu'
Biarlah Zara mendekatinya dengan tulus tanpa paksaan, sedalam apapun rasa cinta yang Andra miliki tak akan mampu membuat Zara menjadi miliknya jika rasa itu belum hadir di dalam hatinya.
"Langsung tidur Ra, dan jangan pikirkan aku" ucapan kalimat Andra yang penuh percaya diri membuat Zara menarik satu sudut bibirnya.
"Baik bos, aku pasti akan langsung terlelap tanpa harus repot memikirkanmu."
"Ra, kejam sekali kau?"
__ADS_1
"Maksudnya ?"
"Ya setidaknya pikirkan aku sebentar sebelum tidur, agar aku sedikit demi sedikit bertahta di hatimu " ujar Andra puitis.
Zara hanya mengulas senyum tipis lalu melangkah keluar dari mobil dan menuju lobi apartemennya.
"Ra, besok aku jemput ya."
Zara menggeleng cepat dan menggoyangkan jari tangannya menolak.
Andra berlalu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Baru kali ini Andra menemui seorang gadis yang begitu keras pada pendiriannya, bahkan setelah semua perhatian dan kasih sayang yang ia tunjukan, belum mampu meruntuhkan hatinya.
Apa yang harus aku lakukan agar kau menyerahkan hatimu padaku Ra.
Pukul sebelas malam baru Andra sampai di mansion.
"Sudah kau antar sampai apartemennya Joy?"
"Heum, sudah momm tapi cuma sampai di lobi" jawab andra sambil melangkah pergi ke kamarnya.
"Hei tak sopan kau ya, antar anak gadis pulang hanya sampai lobi" hardik Maharani yang kesal pada ulah sang putra.
"Mom, Zara tak pernah mengajak tamu lelaki mana pun memasuki apartemennya" terang Andra dengan wajah kesal.
Maharani termanggu, di jaman seperti sekarang ini masih ada gadis seperti Zara, sungguh Maharani merasa terharu.
Andai kau bisa ku dapatkan untuk menjadi menantuku Ra.
Andra berusaha memejamkan matanya berharap malam segera berlalu, semangatnya kini menggebu saat Maharani bilang mulai besok akan mulai kembali menjaga butik pusat, dengan begitu Andra bisa bergabung dengan Zara di butik cabang, pikirnya.
Dan alarm ponselnya berbunyi nyaring yang tak biasanya ia setel pukul lima pagi.
Ingin tampil maksimal Andra segera mandi pagi dan menggosok tubuhnya dengan sabun yang paling harum yang di miliki mommynya, sengaja Andra mengambil koleksi sabun mewah sang Mommy agar tampilannya hari ini maksimal.
Dengan penuh hati-hati ia pun mencukur semua bulu halus di atas bibir dan dagunya.
Senyumnya terbit di depan cermin setelah beberapa kali ia menolehkan wajahnya ke samping kiri dan kanan memastikan bahwa hasil cukurannya sempurna.
Celana jeans hitam dengan kemeja biru langit lengan panjang yang ia lipat sebatas siku, mungkin orang biasa akan melihatnya tampak seperti seorang model.
Hidung mancung dengan bibir tipis bergelombang sungguh gadis mana yang sanggup berpaling dari pesonanya.
"Sudah siap mom?"
"Aih, tumben kau ngajak mommy duluan Joy, biasanya mommy udah rapi kau baru bangun, itupun setelah mommy bangunkan beberapa kali" ujar Maharani terheran-heran dengan sikap sang putra yang berbeda dari hari biasanya.
__ADS_1