
Pagi ini entah mengapa bagi Revan terasa begitu cerah, padahal gerimis kecil sejak dini hari tadi sudah membuat cuaca begitu dingin.
Senandung siulan ringan keluar dari bibirnya saat aktifitas di kamar mandi.
Bi Sumi sang koki mansion pun tampak mengerutkan alisnya.
Sejak putus dari nona Zara, baru pagi ini tuan muda nya duduk di ruang makan untuk menikmati sarapan paginya.
"Pagi bi? Masak apa hari ini?" tanya Revan dengan semangat.
"Ehm maaf den, bibi hanya masak nasi goreng, bakwan jagung sama omelet saja den, maaf."
Revan memindai meja makan dan menatap hidangan satu persatu.
"Ini sudah luar biasa bi, terima kasih sudah menyiapkan sarapan untuk kami."
Revan berucap lembut, bi Sumi semakin di buat terheran-heran dengan kelakuan putra pemilik mansionnya itu.
Tak ada angin tak ada hujan, sikap den Revan berubah begitu manis.
Bukan angin bukan hujan, hanya gerimis kecil ya bi.
"Ibu mana bi?"
"Nyonya belum keluar dari kamar den, mungkin sebentar lagi."
Ceklek.
Reni keluar dari kamar, jika biasanya ia selalu berpenampilan luar biasa namun pagi ini ia hanya mengenakan baju rumahan biasa dan hiasan wajah natural.
"Selama pagi bu, aku berangkat dulu bu muaachh."
Revan mengecup lembut kedua pipi sang ibu.
Reni masih diam dan tertegun menerima perlakuan manis dari sang putra.
Pandangannya beralih ke arah bi Sumi yang juga memandang Revan penuh tanda-tanya.
"Apa kau juga merasakan hal aneh terjadi pada putraku bi?" tanya Reni setelah kepergian Revan.
Bi Sumi mengangguk ragu.
"Tapi jika perubahan itu menjadi ke yang lebih baik, kita patut bersyukur nyonyah." sahut bi Sumi dengan senyum senang.
Reni hanya mengangguk pelan lalu menyeruput teh hangat yang sudah di siapkan oleh bi Sumi.
Sementara itu di sebuah ruangan di sebuah perusahaan, tepatnya di ruangan asisten Roy, setumpuk berkas berada di atas meja sudah menunggu untuk di kerjakan.
Bahkan permukaan meja hampir tertutup oleh map dan kertas-kertas penting.
Roy yang sudah sejak pagi berkutat dengan laptop pun tampak serius dengan tugas yang menumpuk.
Suasana hati sang CEO yang beberapa hari ini sangat buruk, membuat Roy harus mengambil alih tugas Revan.
Ia harus memastikan data yang sampai di meja CEO tanpa kesalahan, hingga tak ada lagi menyaksikan drama, murkanya sang bos hanya karena kesalahan kecil.
Ceklek.
__ADS_1
Roy menatap sosok yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan shock.
Melihat kemunculan Revan di pagi hari, membuatnya merasa lebih baik bertemu dengan se ekor singa sekalipun.
Glek.
Roy menelan saliva yang tiba-tiba terasa pahit.
Mampus gue, wajahnya memang tampan, tapi kenapa perasaan seperti sedang menatap malaikat maut.
"Pagi Roy, sorry sudah membuat mu harus bekerja lebih keras, mana berkas yang harus di tanda tangan?"
Revan menyapa Roy dengan nada pelan dan halus.
"Hah..."
"Bawa semua berkas itu ke meja gue."
Revan lalu melangkah ke ruangannya.
Dapat hidayah dari mana dia, apa habis minum air zam-zam.
Benak Roy penuh tanda tanya, kenapa sikap bosnya begitu manis pagi ini, tak ada wajah seram yang ia perlihatkan, bahkan sapaannya terdengar sangat lembut.
Tok tok tok.
"Ya masuk Roy."
Roy melangkah membawa setumpuk berkas lalu di taruhnya di atas meja.
Tok tok.
Muncul lah satpam dengan dua jinjingan tas besar di tangannya.
"Maaf tuan, ini ada pesanan tuan Revan."
Satpam berucap dengan wajah tertunduk.
"Ehm taruh di atas meja Ron." suruh Revan.
Roni satpam yang masih berusia dua puluhan itu pun menaruh kedua bungkusan di atas meja sesuai perintah Revan.
"Ehh kau ambil dua Ron, satunya buat si jack, lu satu sift sama dia kan?" tanya Revan.
"B betul tuan." Roy menjawab gugup.
Roni melangkah meninggalkan ruangan setelah mengambil dua box dari salah satu tas itu.
"Ehm Roy, lu bawa itu makanan dan bagi-bagi in ke mereka yang kemarin lembur, kalau kurang lu pesen lagi nanti tagihannya kasih ke gue."
Kalimat yang membuat bulu halus di tengkuk Roy meremang.
"Kenapa Roy, lu nggak mau makanan dari gue?"
Roy secepat kilat mengambil dua jinjingan tersebut dan melangkah ke luar dari ruangan.
Setidaknya pagi ini ia bisa menikmati sarapan dengan tenang, sebelum bosnya itu kembali sadar dan kembali dalam mode singa afrika kelaparan, yang selalu siap menerkam mangsanya.
__ADS_1
Sementara itu Zara tengah sibuk me make up wajahnya.
Hari ini ada endorse dari sebuah produk jaket denim.
Dewi tampak gelisah setelah pihak klien memintanya untuk mencari model pria untuk di pasangkan dengan Zara karena produk jaket yang akan di luncurkan merupakan produk couple.
"Aduh gimana ini Ra, mereka minta lu berpasangan sama model cowok, karena jaket yang mereka meluncurkan adalah jaket couple." ujar Dewi panik.
Zara terdiam, kebanyakan teman modelnya adalah cewek, karena memang Zara membatasi hubungan dengan lelaki jika di luar profesinya sebagai model.
"Apa lu nggak punyak temen cowok Wi?" Zara bertanya pada Dewi yang masih kebingungan.
"Ada banyak, tapi untuk kriteria yang mereka inginkan tentu saja sangat jauh, lu tau sendiri kan, temen-temen gue pelayan resto semua dan tampangnya pun pas-pas an."
Zara menghela nafas panjang.
"Eh Ra, mantan-mantan lu kan oke semua Ra." Zara membeliakan matanya ke arah Dewi.
"Ogah gue, mending bayar kak Juned." ucap Zara santai karena memang tampang kak Juned sesuai untuk kriteria sebagai seorang model.
Wajah tampan dengan tubuh tinggi tegap, sungguh pas jika di jadikan model jaket denim itu.
"Ahh tapi kak Juned pasti lagi sibuk di cafe nya, nggak enak gue," lanjut Zara.
Zara berfikir keras, kak Juned sibuk di cafe dan kak Diego pun tiap hari di bengkel sampai malam, pikir Zara lagi.
Nggak mungkin kan ia minta bantuan Revan, meski mantannya itu pasti akan selalu membantunya kapanpun, lagipula sekarang ia sedang tahap menjauh sejauh jauhnya dari pria itu.
Ting.
Dewi menjentikan jempol dan telunjuknya di udara.
"Gue ada usul cemerlang nih Ra." Mata Dewi seketika berbinar, semua mantan Zara emang goodlooking, apalagi kekasihnya yang sekarang.
"Kak Andraaa."
Pekik Dewi tak sadar, Zara menatap sahabatnya dengan tajam.
Seketika bayangan wajah tampan Andra terbayang di pelupuk matanya.
Tubuh tinggi dengan bahu tegap, wajah baby face, tentu sangat pas untuk di jadikan model pasangannya.
"Tapi Wi..."Kalimat Zara menggantung karena Dewi kini sedamg berbicara dengan se seorang di ujung telfon.
"Iyezz" pekik Dewi setelah menutup ponsel.
"Lu bicara ama siapa Wi?"
"Hmm kak Andra."jawab Dewi santai.
Sementara Zara menautkan kedua alisnya, bagaimana sahabatnya itu mendapat nomor kak Andra.
"Tenang aja, bentar lagi orangnya juga dateng." Dewi kini mulai menyiapkan ruangan untuk proses pemotretan.
Tentu saja Dewi mudah menghubungi Andra, karena sejak pertama kali Zara membawanya ke apartemen, Dewi sudah mencari identitas lengkap Andra di instagramnya.
Dan ternyata ia juga memiliki follower yang tak sedikit, dan saat terakhir kali Dewi juga melihat bahwa Andra sudah memfollow Zara.
__ADS_1
Punya pacar ganteng, ya di gunain lah.