Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU* 61


__ADS_3

Pagi hari Zara bangun lebih awal, ingin sekali ia segera memberitahu berita bahagia ini ke Dewi sahabatnya.


Ceklek.


"Tumben lu bangun pagi?" sapa Dewi


"Heum, gue ada berita bagus buat elu."


"Apa an?"


"Hari ini kak Andra mengajakku pergi ke butik untuk menggantikan mommy nya yang masih harus istirahat di rumah."


"Heum" Dewi hanya ber dehem ringan.


"Dih jawab gitu doang."


"Ya terus harus gimana?"


"Elu ikut sama kita, biar bisa liat baju-baju mahal dari rancangan desainer terkenal tante Maharani Wi, bukannya itu impian elu, untuk bisa masuk ke butik ternama."


"Ya gue kan harus kerja Ra."


Seketika api semangat yang berkobar menyala di mata Zara redup dan mati, wajahnya tertunduk lesu, ia lupa bahwa sahabatnya itu harus bekerja, jadi tak bisa ikut bersamanya.


Dewi melangkah ke dapur dan memulai memasak untuk bekal dan sarapan mereka.


Segelas susu hangat Zara teguk hingga tandas, dua jam lagi Andra menjemputnya.


Persiapan untuk wisuda besok sudah di siapkan di atas meja di kamarnya, berkali-kali Zara meneliti lagi agar tak ada yang terlewatkan.


Baju toga, kain kebaya dan sepatu dengan heels yang tak terlalu tinggi sudah ia siapkan sejak beberapa hari yang lalu.


Cita-citanya kini tercapai sudah, kerja keras selama ini membuahkan hasil, empat tahun ia berjuang untuk mencari uang guna kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya kuliahnya.


Bu, akhirnya keinginan kita tercapai bu, mungkin kaulah orang yang paling bahagia andai saja masih di sini bu, aku berhasil menjadi sarjana bu, perjuangan kita berhasil. andai kau masih di sampingku, besok pasti kita akan berfoto bersama dengan baju toga ku hiks.


Air mata jatuh dari sudut matanya, di pandangi foto sang ibu dengan mata ber kabut, foto kenangan terakhir mereka bertiga dengan sang ayah, namun Zara telah menyobeknya hingga tak tampak foto sang ayah di sana.


Drrtt drtt.


"Ra sudah siap?, aku sudah di bawah?"


Pesan dari Andra, Zara melihat pergelangan tangannya, baru jam delapan, itu juga masih kirang lima belas menit lagi.


Bergegas Zara bersiap diri, baju casual dengan make up natural, sudah cukup.


Andra duduk di kursi lobi, memang sengaja ia datang lebih awal, ia ingin mengajak Zara untuk sarapan di tempat langganannya.


"Pagi banget kak." Zara protes karena Andra terlalu awal menjemputnya.

__ADS_1


"Kita makan dulu di tukang bubur langgananku, mana Dewi?"


"Dia kerja pagi kak, jadi nggak bisa ikut."


"Ohh, pake mobilku aja Ra."


"Oke" senyum imut Zara dengan mengerlingkan satu matanya.


Andra diam terpaku, mimpi apa dia semalam, pagi-pagi sudah di suduhi pemandangan indah menggemaskan.


Lima belas menit perjalanan akhirnya sampailah di warung tenda letak tukang bubur ayam berjualan.


Suasana yang ramai para pembeli baik yang sedang antri untuk take away ataupun makan di tempat.


Andra makan dengan lahap, ia tak ingin terlalu lama di warung tenda tersebut, wajah familiar Zara tentu saja membuat para pengunjung beberapa kali merilik ke arahnya, meski mereka tak mengganggu dengan minta foto bareng ataupun tanda tangan.


"Ra, udah belom?" bisik andra karena di lihatnya Zara masih hanya mengaduk bubur di mangkuknya.


Zara mengangguk tanda ia pun merasa tak nyaman dan ingin segera pergi dari tempat itu.


"Maaf Ra, aku lupa ngajak kamu makan di warung tenda yang banyak orang."


Zara menatap Andra yang fokus pada kemudinya.


"Nggak apa-apa kak, sebenarnya aku tidak terlalu terganggu."


"Selamat pagi den" sapa satpam penjaga butik mengangguk hormat sambil melirik ke arah Zara.


"Pagi, jaga mata?" Andra menjawab dengan akhir kalimat terdengar sinis.


"Hah, mata?" satpam berucap lugu.


"K kenapa mata saya den?" satpam memberanikan diri bertanya.


"Nggak usah jelalatan."


Jawaban singkat Andra membuat satpam berumuran tak beda jauh dengan Andra jadi mencelos.


Apa salahnya menikmati keindahan yang menghampirinya, mubazir kalau di lewatkan, lagian sang pemilik wajah juga ikhlas aja kok, rutuk satpam dalam hati.


Zara hanya tersenyum, sikap posesif Andra terlihat menggemaskan.


Andra melihat buku catatan semua item di butik juga termasuk hasil pendapatan.


Hidup berprofesi sebagai model, membuat Zara tahu mana baju berkualita tinggi dan berkualitas biasa.


Terlihat dari bahan dan model jahitan yang halus sudah dapat di pastikan baju di butik ini berharga fantastis yang dapat menguras dompet sampai jebol.


Gaun yang berjejer dengan harga jutaan membuat Zara menelan salivanya.

__ADS_1


Untuk memiliki baju yang begitu mahal, Zara akan berfikir ulang, lebih baik di gunakan untuk membeli keperluan yang lain.


Bersyukur Zara memiliki banyak stok baju dari hasil endorse an jadi ia tak harus pusing memikirkan mana baju yang sudah beberapa kali pakai dengan baju yang hanya baru sekali pakai.


Zara akan menyimpan baju itu terpisah dan akan di berikan pada orang lain yang membutuhkan.


Hari mulai siang, beberapa pembeli mulai berdatangan.


Banyak dari kalangan anak muda maupun para ibu-ibu yang sebagian besar kalangan atas, mereka begitu perhatian pada penampilan mereka yang sering menghadiri acara penting maupun pesta.


Dengan menggelontorkan uang jutaan hanya untuk satu potong baju untuk menunjang penampilan mereka agar lebih percaya diri dan terlhat glamour di lingkungan pergaulan mereka.


Para ibu-ibu pejabat mungkin dengan enteng memborong lusinan baju mahal tersebut, namun ada pula yang hanya membeli yang berharga tak terlalu menguras kantong.


Zara tersenyum ramah saat beberapa pembeli yang melirik ke arahnya, mungkin mereka mengira Zara juga salah satu pembeli di butik tersebut.


Waktu beranjak siang, Andra yang sudah memesan katering beberapa kali melihat ke arah pintu namun belum juga datang.


Sementara karyawan lain sudah berada di ruang istirahat sedang makan dari kiriman restoran milik Maharani.


Senyum Andra terbit saat seorang petugas pengiriman makanan mendatangi mereka dengan tergesa.


"Maaf pak, makannya telat datang, jalanan macet total."


Enak aja manggil gue pak, kapan gue kawin ama ibumu, umpat Andra dalam hati.


"Ehm nggak apa-apa, terima kasih." Andra menjawab dingin.


Petugas tersebut pun lalu pergi.


Andra membuka bungkusan dan menyerahkan satu porsi pada Zara.


"Apa ini kak?"


"Makanan kesukaanmu."


Zara membuka dan matanya membulat penuh.


Aroma harum fuyunghai menyeruak memenuhi ruangan, matanya berbinar terang, air liurnya seakan hampir menetes dari sudut bibirnya.


Keduanya menikmati makan siang dengan lahap.


Para karyawan kembali bersiap setelah mereka menghabiskan makan mereka.


Zara pun kini terlihat lebih bersemangat, pagi hari ia hanya minum segelas susu hangat, dan bubur ayam pun ia makan hanya berapa suap.


"Siang Joy, bagaimana kabar mommy mu, maaf tante tidak bisa jenguk karena baru tadi malam tante pulang dari xx."


Bagai suara petir menggelegar di samping telinga Zara, suara yang ia kenal dan sangat ingin ia hindari.

__ADS_1


__ADS_2