
Beberapa kali di lihat jam di pergelangan tangannya namun belum ada juga pesan yang datang.
Pagi ini Andra entah kenapa begitu bersemangat, janji untuk bertemu dengan Zara menjadi hal yang pertama ia tunggu setelah membuka mata.
"Kak, aku sudah sampai di mall"
Andra tersentak dari duduknya, rupanya Zara sudah berangkat dari pagi hingga hati Andra mencelos saat penantiannya di lobi apartemen menunggu kedatangan Zara sia-sia.
"Oke aku meluncur."
Andra berlari menuju mobilnya yang terparkir dan segera melajukan ke mall, dimana Zara pagi ini mengantar sahabatnya untuk bekerja.
"Di mana kau Ra, aku sudah ada di parkiran."
"Aku di sebelah timur kak, samping parkiran."
Andra mengarahkan pandangannya ke lokasi yang Zara katakan.
Sudut bibirnya naik membentuk garis lengkung saat matanya menangkap sosok yang tengah melambai ke arahnya.
Dengan berlari kecil Andra menuju tempat Zara.
"Kemana kita Ra, apa langsung ke perusahaannya saja?"
"Ehm, nggak usah katanya, kita tunggu saja di mall ini, nanti dia akan datang karena akan langsung meeting."
Andra mengela nafas berat, perasaan hatinya tiba-tiba jengah mendengar Zara dan Revan masih saling berkirim pesan.
"Kapan dia datang?" tanya Andra singkat.
"Ehm dia sudah berangkat lima belas menit yang lalu, mungkin sebentar lagi sampai."
Cih ternyata mereka masih saling menghubungi.
Andra duduk di sebelah Zara, karena kursi taman yang hanya muat untuk dua orang itu telah ter isi semua oleh pengunjung lain, membuat Andra terpaksa duduk di samping Zara.
Pandangan Andra kini tertuju pada pemuda gagah dengan setelan jas hitam yang tampak serasi di tubuhnya.
Langkahnya tegap melangkah ke arah mereka.
Senyum dari bibirnya tersungging penuh pesona.
Glek.
Pria se sempurna ini pun kau tinggalkan Ra, batin Andra.
"Sudah lama kalian menungguku, maaf tadi ada meeting darurat."
__ADS_1
Senyum Revan terlihat tenang, tak seperti beberapa saat yang lalu, kala pertama kali ia mengetahui pria yang di hadapannya itulah yang membuat Zara berpaling darinya.
Kini setelah mengetahui bahwa jalinan hubungan mereka adalah palsu, kemarahan Revan pun terkikis.
Sepenuh hati Revan masih berharap jika Zara dapat kembali padanya.
"Tidak kami juga baru sampai." timpal Andra datar.
"Oiya, apa kita sebaiknya bicara di dalam saja, kamu sudah sarapan Ra?" tanya Revan ke Zara dengan lembut.
Sialan ni orang, ngajak gelut apa, sudah tau cowoknya di sebelahnya, masih nanyain udah sarapan segala, umpat Andra dalam hati.
"Aku sudah sarapan tadi, ehm kak Andra kita bicara di mana kak?" Zara merasa tak enak hati karena Revan mengacuhkan pria di depannya.
"Ehm kita bicara di taman itu saja, ada kursi yang masih kosong banyak" uajr Revan menunjuk ke taman di samping parkiran.
"Sebenarnya yang ada keperluan bukan aku tapi kak Andra."
Zara memandang ke arah Andra.
"O iya, apa yang mau kau bicarakan?" tanya Revan ke Andra singkat.
Andra mengalihkan pandangan ke samping kiri dan kanannya, karena hal yang akan di bicarakan masih bersifat rahasia.
"Aku hanya ingin tahu kebenaran orang ini, benarkah dia adalah salah satu mantan karyawanmu?"
"Iya benar dia adalah mantan karyawanku, mungkin dia keluar beberapa tahun yang lalu, ah dia bukan keluar, tapi memang aku yang me mecatnya."
Sontak Andra membulatkan kedua matanya.
"Di pecat, kenapa?"
Revan pun tak bisa mengatakan lebih lengkap karena itu memang privasi salah satu karyawannya, meski sudah berstatus mantan, namun Revan masih menghargainya hingga tak mengatakan alasan apa dia memecat karyawan itu.
"Aku tak berhak untuk mengatakan alasan ,kenapa aku memecatnya."
Andra terdiam. Lalu menggeser layar ponselnya, dan menunjukan lagi pada Revan.
"Kau mungkin masih bisa mengenal ciri-cirinya?"
Revan mengamati adegan demi adegan yang sedang berputar, tatapannya menyipit,dan alisnya mengerut.
Revan memandang Andra intens.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan dia?"
Hanya helaan nafas panjang yang Revan lakukan setelah mendengar penuturan Andra.
__ADS_1
"Rupanya dia masih belum kapok dan masih mengulang perbuatannya itu."
Zara dan Revan saling pandang.
"Apa maksudnya?" tanya Andra.
Revan pun akhirnya menceritakan alasan kenapa sampai ia me mecat Anto.
"Dia bekerja di perusahaanku baru satu tahun, mungkin karena desakan ekonomi ia sering pulang larut dengan alasan lembur, namun di balik itu ternyata dengan sembunyi-sembunyi Anto sering mengambil besi untuk di bawa pulang, kejadian itu terus berulang hingga akhirnya ada seorang karyawan yang memergokinya, namun Anto bersikeras menolak tuduhan tersebut karena tak ada bukti dan saksi, karena dengan liciknya CCTV di ruangan tempatnya sengaja ia rusak, karena tak ada bukti kuat pihak perusahaanpun tak dapat menjeratnya untuk di bawa pihak berwajib, namun suatu hari saat ia hendak melancarkan kembali niatnya di tengah aksinya ia mengalami kecelakaan yaitu tersengat aliran listrik bertegangan tinggi dan mengakibatkan kakinya cidera parah dan tak bisa bekerja lagi di perusahaan, namun ia masih bersikeras dengan kelicikan hatinya untuk meminta ganti rugi pada pihak perusahaan, namun perusahaan yang sudah mengalami kerugian cukup besar karena ulahnya selama ini pun tak tinggal diam, dengan CCTV yang terpasang di tempat tersembunyi akhirnya dapat menjadi bukti rekaman pencurian yang di lakukannya, namun pihak perusahaan masih memberi keringanan dengan tidak memproses tindakannya ke pihak hukum hingga Anto tidak jadi mendekam di penjara dengan syarat Anto berhenti tanpa pesangon."
Andra sungguh tak menyangka, Anto yang berwajah lugu dan polos namun ternyata otaknya penuh kelicikan.
"Baiklah terima kasih atas keterangan yang sudah di berikan, kini kami yakin dengan bukti yang sudah kami dapat."
Revan mengangguk mengerti.
"Terima kasih atas kerja sama nya, kami harus segera pamit dari sini."
Andra merengkuh tangan Zara dan menariknya untuk pergi dari tempat itu.
Namun tangan Revan menahannya" Ra tunggu, apa kita bisa bertemu lagi, ada hal yang harus kita bicarakan."
Dada Andra tiba-tiba terasa sesak, dan matanya menyorot tajam ke arah gadis di sampingnya.
"Ehm maaf, sepertinya tak ada lagi yang harus kita bicarakan, terima kasih."
Zara mengurai genggaman Revan lalu melangkah menuju mobil Andra.
Revan memandang kepergian mobil yang membawa separuh hatinya hingga menghilang di ujung jalan.
Sampai kapan kau akan terus bersandiwara Ra.
Andra mencuri pandang gadis di sebelahnya beberapa kali.
Wajah manis dengan hidung mancung itu menatap lurus ke arah depan.
Gerakan tubuhnya naik turun menandakan rasa yang ia tahan dalam dadanya.
"Maafkan aku Ra," ucap Andra dengan nada penuh sesal.
Jika saja ia tak ikut dengan Andra menemui kembali pria yang membuatnya kembali teringat masa lalunya yang penuh luka, mungkin Zara tak akan kembali bersedih.
Zara menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa kak, jangan cemaskan aku, aku baik-baik saja."
Meski kalimat yang di ucapkannya lancar dan tenang, namun sorot mata penuh luka terlihat jelas di mata Zara.
__ADS_1