Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU* 49


__ADS_3

Umpatan Revan yang sebagian besar penghuni kebun binatang keluar dari mulutnya.


Dari balik kemudinya Andra tersenyum puas, namun tak sadar jika saat bersamaan mobil yang di kemudikan Zara pun berbelok ke arah yang berlawanan dengannya.


Revan yang terlebih dahulu menyadari hal itu pun kini tersenyum bahagia.


"Iyezz" teriaknya puas karena kini bukan hanya dirinya yang tak bisa menyusul Zara, pria kekasih settingan Zara pun kehilangan jejak.


Di acungkan nya jari tengah ke arah Andra saat ia berhasil menyalip laju kendaraan rivalnya itu.


Andra hanya dapat memandang dengan tatapan tajam dengan rasa dongkol yang bercokol di hatinya.


"Bre*****, sialaaan" Andra memaki keras dengan tangan memukul kemudi mobilnya.


Di parkiran sebuah minimarket Zara memarkirkan mobil, ia keluar setelah terlebih dahulu memakai topi ciri khas nya yang selaku di gunakan untuk menutup sebagian wajahnya.


Profesinya sebagai seorang model dengan wajah yang sering terpampang di majalah membuatnya banyak di kenali oleh banyak orang.


Tak jarang ia harus melayani penggemarnya untuk berswa foto atau hanya sekedar minta tanda tangan.


Zara selalu senang hati untuk melayaninya, namun kali ini ia hanya memiliki waktu yang terbatas, hingga sebisa mungkin dirinya harus membuat orang tak ada yang mengenalinya.


Bonus dari endorse an terbarunya kini semakin meningkat, dan Zara harus pintar mengolah uang hasil keringatnya agar mencukupi kebutuhannya.


Ada beberapa keperluan mandi yang sudah habis, jadi sekalian saja ia melewati mini market ini sambil membelinya.


Tak perlu belanja di mall karena memang kebutuhannya tak terlalu banyak.


Anggukan hormat dari sang kasir ia balas dengan senyum ramah.


"Ah kak Zara ya," sapa sang kasih histeris.


"Sssttt" Zara menutup mulut dengan telunjuknya, sang kasir pun terdiam namun masih terlihat sikapnya yang begitu senang.


"Kak, minta foto boleh?" suaranya dengan nada berbisik ke arah Zara agar pengunjung lain tak mendengar mereka.


Zara mengangguk pelan, lalu berjalan ke arah samping meja kasir.


Setelah mengambil beberapa pose, akhirnya Zara keluar dari mini market di iringi lambaian tangan dan senyum bahagia dari sang kasir.


Sepeninggal Zara tak henti-hentinya sang kasir berjingkrak girang, membuat teman yang melihatnya ikut kepo.


Dan teriakan histeris keluar dari salah satu karyawan pria bertubuh jangkis alias jangkung kurus tinggi naj**.

__ADS_1


Zara melambaikan tangan saat pria jangkis tersebut berlari menyusulnya.


"Kak, tunggu..." teriaknya dengan mata yang mulai berkaca, rupanya dia adalah penggemar berat Zara garis keras.


Tak tega melihat wajah sedih pemuda yang mungkin masih berusia awal dua puluhan tersebut Zara melambai tangan agar pemuda itu mendekat ke mobilnya.


Dengan semangat empat lima pemuda tersebut berlari ke arah Zara.


"Kak, t tolong tanda tangani kaosku aja kak, hp ku lowbat" ucap sang oemuda dengan nafas masih tersengal.


Zara sempat tercekat saat pria muda tersebut membuka baju seragamnya dan memperlihatkan kaos putih polos yang di pakai daleman.


Dengan wajah bingung Zara membubuhkan tanda tangan tepat di bagian dada di kaos tersebut.


"Terima kasih Kak, hiks " Zara menahan senyumnya melihat sikap melow pemuda yang amat mengidolakannya.


"Istt kenapa nangis, kan udah aku kasih tanda tangan" ucap Zara berusaha menghiburnya.


"Aku nggak ada kenangan poto bareng kakak" sesalnya.


Zara mengambil ponselnya lalu,


Cekrek.


Sang pemuda menerima dengan teriakan histeris dan tubuh yang terus berjingkrak membuat Zara tersenyum.


Dengan perasaan haru Zara meninggalkan mini market tersebut.


Mobilnya melaju membelah kota, kini ia ingin merebahkan tubuhnya di kasur yang nyaman, untunglah mobilnya tak terjebak kemacetan karena sekarang bukan jam sibuk.


Zara melangkah dengan sedikit menundukan kepalanya, rambutnya pun di biarkan tergerai hingga menutupi sebagian wajah.


Di ruangan lift Zara bisa bernafas lega karena tak ada yang mengenalinya.


Namun ternyata ia salah, karena satu suara menyapanya dengan lembut.


"Baru pulang Ra?"


Sontak Zara menoleh ke salah satu pengguna lift yang berada di belakangnya.


"K kak Diego."


Diego senyum di buat semanis mungkin agar gadis di depannya itu terkesan.

__ADS_1


"Hai, aku tinggal di lantai sepuluh, mungkin kau baru tahu."


"Ohh, aku di lantai sembilan kak" balas Zara.


Binggo, batin Diego puas akhirnya ia tahu di lantai mana gadis itu tinggal.


"Waah ternyata kita tetangga, baru tahu aku." Zara berucap senang.


Diego tersenyum masam.


Tentu saja kau baru tahu karena si semprul itu tak akan membiarkan orang lain tahu di mana tempat tinggalmu, geram batin Diego.


"Kak aku duluan ya" pamit Zara setelah pintu lift terbuka.


Diego membalas lambaian Zara dengan hati berbunga.


Tak lari gunung di kejar, Diego membatin dengan pepatah yang terdengar tak sesuai.


Zara membersihkan tubuhnya, di lihatnya lemari pendingin dan di ambilnya beberapa buah dan sayuran.


Semangkuk salad pun cukup untuk mengganjal perutnya yang lapar, dengan jus mangga sebagai pendamping.


Di ambilnya ponsel dalam tasnya.


Senyumnya terbit saat di lihatnya foto yang di ambilnya di minimart tadi.


Tanpa dukungan kalian, apalah arti diriku ini.


Caption yang Zara tulis di samping fotonya bersama pemuda jangkis tadi.


Hanya beberapa detik puluhan kalimat memenuhi kolom komentar.


Sebagian besar mereka yang merasa iri dengan pemuda yang bisa ber swa foto dengan Zara dengan jarak yang begitu dekat.


Ada pula yang merasa terharu dan memberikan komentar rasa bangga nya meng idolakan Zara yang ramah pada setiap penggemarnya.


Sementara di tempat lain, Andra menatap layar ponselnya dengan mendengus kesal.


Bahkan melihatnya hanya berfoto dengan penggemar pun hati Andra panas dingin.


Ubun-ubunnya bagai ber asap karena hawa panas yang tiba-tiba menyerangnya.


Akan ku buat kau hanya menjadi miliku.

__ADS_1


__ADS_2