
Zara menatap Andra penuh tanya, apakah sang kekasih tak keberatan jika panggilan Manu ia angkat.
Meski berat hati, pria tampan itu terpaksa mengangguk setengah ikhlas memberi ijin.
"Iya ada apa Nu?" tanya Zara.
"Ehm apa hari ini kau ada acara? ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu" tanya Manu dari ujung telepon.
"Hari ini aku tidak ada acara."
"Kalau begitu nanti aku jemput" ujar Manu lalu menutup telepon.
Zara hanya bisa membulatkan mulutnya, belum sempat ia menanyakan padanya kalau ia akan mengajak sang kekasih.
Sementara Andra kini menghempaskan tubuhnya di atas sofa dengan mimik wajah kesal.
"Kamu nggak boleh pergi" titah Andra dengan suara dingin.
"Tapi nggak enak Babe, aku sudah menyanggupinya."
"Tetap tidak, titik" Andra tak rela jika sang kekasih bertemu berdua dengan Manu karena ia tahu bagaimana perasaan Manu yang sebenarnya pada Zara.
Zara menghela nafas panjang, Manu sudah begitu baik padanya, menolak permintaannya sungguh tak tega hati Zara.
"Tapi kita bisa pergi bersama Babe"ujar Zara.
"Baiklah kalau kau memaksa" jawab Andra akhirnya merasa tenang.
Zara memutar matanya jengah, sang kekasih terlalu posesif, padahal ia sudah berhutang begitu banyak kebaikan pada Manu.
"Tunggulah aku akan bersiap dulu" ujar Zara lalu melangkah ke kamar.
"Nggak usah terlalu cantik" teriak Andra namun tak di gubris Zara.
Andra mengedarkan pandangan, perutnya yang belum terisi kini mulai berontak, di lihatnya di atas meja makan ada segelas minuman sari jeruk hangat tinggal setengah dan sandwich roti tawar yang belum Zara sentuh.
"Hmm kebiasaan, kau isi perutmu hanya dengan sari buah, bagaimana kau akan melewati harimu" Andra bermonolog lirih.
Dengan waktu singkat beberapa potong sandwich telah berpindah ke dalam perutnya dan sedikit mengobati rasa lapar yang menyapanya tadi.
Ceklek.
__ADS_1
Dres sebatas lutut dengan lengan tiga per empat berwarna moca sangat pas di badan Zara, Andra memandang tak berkedip.
Rambut yang di biarkan tergerai dengan pemerah bibir tipis Zara sungguh terlihat sangat manis.
Andra berjalan perlahan menuju sang kekasih dengan tatapan tajam.
"Sudah ku bilang jangan terlalu cantik" bisik Andra lirih sambil terus melangkah mengikis jarak dengan Zara.
"T tapi ini baju lama koleksiku Babe" elak Zara jujur.
Andra tergagap hatinya mencelos, baju model apapun jika di pakai oleh Zara akan terlihat indah dan mempesona, ia tak percaya jika saat ini gaun Zara adalah gaun yang sudah lama di lemarinya.
Netra Andra tajam menelisik wajah Zara, sungguh pahatan yang hampir sempurna sudah Tuhan ciptakan.
"B babe, a ayo kita berangkat, kita sudah di tunggu M manu.."kalimat Zara terbata karena kini wajahnya hanya berjarak lima centi dengan sang kekasih yang terus memajukan wajahnya, hembusan nafas pun terasa jelas menerpa wajahnya.
"Babe ..ap emmphhh" kalimat Zara tak terselesaikan karena bibir Andra sudah lebih dulu membungkamnya.
******* lembut menyapu benda kenyal Zara yang masih tertutup rapat, namun tak membutuhkan waktu lama untuk Andra akhirnya bisa meng aksen rongga mulut Zara.
Dengan gigitan kecil membuat Zara membuka mulut dan membiarkan Andra mengabsen dengan lidahnya, lenguhan Zara lirih terdengar saat sang kekasih kian memperdalam ciumannya.
Gelenyar panas semakin membuat keduanya tak ingin melepas pagutan masing-masing.
Ciuman panas baru terurai saat zara mendorong tubuh Andra agar menjauh.
Zara baru menyadari bahwa Andra memang berusaha menghapus lipstik dengan sapuan bibirnya.
"Babe apa yang kau lakukan?" ucap Zara kesal lalu melangkah ke kamarnya, namun tangan Andra lebih dulu menahan langkahnya.
"Jangan terlalu tebal atau mau aku bersihkan lagi dengan bibirku" kalimat bernada peringatan membuat jantung Zara berdebar kencang.
Tak lebih dari lima menit Zara pun keluar dengan warna bibir lebih natural.
Senyum Andra terbit, candu bibir lembut Zara sangat memabukan, dan ia sama sekali tak ingin berbagi dengan lelaki lain meski hanya menatapnya saja, tidak boleh !! Andra membatin.
Bibir itu miliku dan hanya untukku, ucap batinnya lagi.
Keduanya melangkah keluar apartement, Manu meminta untuk bertemu di sebuah cafe di pinggiran kota.
Tiga puluh menit sudah Manu menunggu kedatangan Zara, sengaja ia minta ijin tak masuk hari ini hanya untuk mengungkapkan perasaannya.
__ADS_1
Ia tak ingin hatinya di landa sesal, meski Zara dan Andra akan meresmikan hubungan ke jenjang pernikahan, Manu ingin agar Zara mengetahui bahwa ada lelaki lain yang mencintainya begitu besar selain Andra.
Meski tak rela melepas gadis itu, manu tak bisa berbuat banyak, ada binar cinta di mata Zara untuk Andra dan itulah tanda untuknya agar bisa menerima kenyataan dan membiarkan gadis yang di cintainya hidup bahagia meski akan membuat hatinya hancur dan luka.
"Stop ini temlatnya Babe" teriak Zara saat map di ponselnya sudah berada di titik lokasi.
Andra menepikan mobil lalu memarkirkannya, sebuah cafe mini berkonsep modern outdoor menjadi pilihan Manu.
Keduanya melangkah memasuki bangunan cafe di mana meja dan kursi terbuat dari kayu, terlihat natural dan nyaman, ruang terbuka dengan pohon rindang yang mengelilingi bangunan cafe membuat suasana tampak romantis.
Lampu hias dan yang terpasang menghiasi langit-langit cafe yang terbuka menambah suasana bertambah hangat.
Suasana hati Manu yang muram kini semakin bertambah gelap.
Zara datang dengan tangan berpegang erat pada sang kekasih.
Dada Manu berdenyut nyeri, andai ia ada di posisi Andra, mungkin ia pun akan posesif sepertinya.
Beberapa pasang mata lelaki tampak mencuri pandang pada Zara, dan lirikan mata tak suka dari para wanita yang memandang sinis padanya.
Zara menarik sudut bibirnya membentuk garis lengkung, saat matanya melihat sosok Manu.
Andra hanya bisa membuang matanya jengah, namun masih tetap tak melepas genggaman tangannya.
"Siang Nu, apa kabar?" sapa Zara ramah lalu mengulurkan tangan namun urung karena Andra lebih dulu menyodorkan tangannya.
"Heum siang Ra, kabarku baik."
"Kenalin Nu, dia Andra" ujar Zara.
"Andra, calon suami Zara" ucap Andra sengaja menekan suaranya saat mengucap' calon suami', seakan ingin suaranya di dengar oleh para pengunjung lain yang sempat mencuri pandang padanya.
"Ish Babe, nggak usah keras gitu suaranya" bisik Zara sambil tangannya meremat jari Andra.
Bahkan kau pun rela memanggilnya seperti itu Ra, batin Manu miris.
Keduanya duduk di kursi di hadapan Manu, seorang pelayan datang menawarkan menu.
Andra dengan sikap santainya memilih menu tanpa persetujuan Zara.
"Ada apa Nu, kau meminta kita bertemu" tanya Zara.
__ADS_1
Manu menatap Zara ragu lalu beralih ke Andra, bagaimana mungkin ia mengungkapkan perasannya saat pemilik Zara berada di sisinya.
"Ehm sayang, aku ke kamar kecil dulu sebentar" Andra ingin memberikan kesempatan Manu untuk bicara, meski ia bisa menebak apa yang ingin Manu ungkapkan , tapi ia sepenuhnya mempercayai sang kekasih.