
Dengan semangat empat lima Andra melajukan motor menuju apartrment, berdandan semaksimal mungkin agar Zara tak menyesal telah memilihnya, itulah yang ada dalam pikirannya.
Tak ingin dandanannya yang paripurna rusak, Andra memakai sedan hitam untuk menjemput sang kekasih.
Karena permintaan Zara yang tak mau terlalu formal Andra hanya mengenakan outfit jeans panjang hitam di padukan dengan kaos biru lengan panjang yang ia singsikan se batas siku.
Begitupun Zara ia mengenakan jeans pensil dengan kaos putih polos yang di lengkapi outer cardigan menambah manis tampilannya, rambut yang ia kuncir separuh ia tutup dengan topi hitam khasnya.
Zara memindai ruangan lobi, mencari sosok sang kekasih.
Dan tangannya melambai saat Andra ternyata baru datang dari pintu masuk.
"Kita ke mana ?" tanya Andra yang tatapannya tak lepas dari wajah Zara, ia malam ini terlihat sungguh manis.
"Ehm kali ini terserah Kakak, aku yang traktir pokoknya" jawab Zara ceria.
"Hem bau-bau dapet bonus besar nih" ujar Andra sambil menggandeng Zara menuju parkir.
"Heum, aku bapet kompensasi lumayan banyak."
"Kompensasi?."
Zara mengangguk jujur.
"Iya, mereka menyesal karena telah membuat aku terlalu keras bekerja hingga mengalami hipotermi sampai pingsan" ujarnya.
Andra menghentikan langkahnya dan memandang sang kekasih lekat, ia merasa tak enak hati menerima ajakan traktiran Zara, sedangkan itu adalah uang kerja kerasnya bahkan hingga nyawa yang ia taruhkan.
"Ayo lah, mereka memberi bonus yang lumayan banyak, bahkan tiga kali lipat dari jumlah yang seharusnya mereka bayar, Kakak tenang saja jangan takut uangku habis" Zara berucap bangga.
Baru kali ini mendapat bonus besar, bahkan setelah di bagi dua dengan Dewi pun ia masih bisa menabung.
Andra tak ingin membuat raut wajah yang bahagia itu menjadi muram karena penolakannya, ia akhirnya menurut saat Zara terus menarik tangannya.
Kali ini Andra melajukan kereta besinya menuju ke salah satu mall besar.
Zara yang tak terlalu fokus pada tujuan mobil pun tak protes, namun ia mulai panik saat mereka memasuki area parkir.
"Kak, k kita kenapa ke sini" tanya nya kaget.
"Ya makan" jawaban Andra santai.
Zara akhirnya diam, Andra kembali menggandeng tangannya erat, tak biasanya ia mengajak makan di tempat ramai apalagi pusat perbelanjaan besar.
"Sayang, aku mau minta sesuatu padamu?" Andra menghentukan langkahnya di depan pintu masuk.
"A apa itu" tanya Zara ikut menghentikan langkahnya.
"Buka topi dan maskermu" Andra berucap lirih dan tenang.
Untuk sesaat Zara menatap sang kekasih.
__ADS_1
Andra mengangguk untuk memperjelaskan ucapannya, ia memang sudah berniat untuk mempublikasikan hubungannya agar media tak lagi menyoroti tentang hubungannya dengan Fitri yang hanya karangan yang telah Fitri buat.
Zara diam mematung saat Andra dengan lembut mengambil topi dan melepaskan masker yang menutup wajahnya.
"Ayo" ucap Andra lalu kembali menautkan jemarinya pada Zara.
Meski debar jantungnya semakin kencang Zara pun mencoba mensejajarkan langkah Andra dengan santai.
"Tenang lah, aku di sisimu kita hadapi bersama" bisik Andra lembut.
Sengaja Andra memilih food court yang menyediakan makanan anak muda ke kinian.
Dan benar saja, meja yang penuh pengunjung dan kebanyakan para muda-mudi yang asik bersenda gurau sambil menikmati makanan viral keekinian.
Zara masih memasang wajah datar, ada rasa ragu saat ia melepas masker yang biasa menutupinya.
Berbeda dengan Andra, ia sudah bulat memutuskan untuk mempublikasikan hubungan dengan sang kekasih.
"Kau tegang sayang?" tanya Andra lirih, meja yang di pilih sengaja yang berada paling ujung, hingga bisa leluasa melihat ke semua penjuru.
Zara mengangguk lirih.
"Kenapa pilih di sini?.?"
"Biar banyak yang lihat kita, semakin banyak yang lihat, maka semakin cepat pula berita akan beredar."
"Maksudnya?"
"Apa nanti tidak menjadi masalah besar?"
"Masalah buat siapa, apa kau keberatan jika hubungan kita di ketahui publik?"
Zara menggeleng cepat.
"Bukan begitu, aku tak enak jika nanti Fitri marah dan..."
"Sst, jangan bicarakan orang lain saat kita berdua apalagi memikirkannya, kau adalah kekasihku dan tak akan berubah sampai kapanpun."
Zara menatap Andra tajam, pria yang telah mencuri hatinya, dari sekian banyak pria yang mendekatinya, meski pertemuan pertama yang tak di sengaja tapi mampu membuat hati Zara bertekuk lutut dan menerimanya.
Untuk kali ini Zara berharap hatinya tak berlabuh di dermaga yang salah.
Andra menggenggam erat jemari Zara yang terasa dingin.
"Sayang...maukah kau menikah denganku" ucapnya lirih dengan netra tajam ke manik bening Zara.
Ada rasa tak percaya dengan apa yang di dengar, Zara mengerjapkan matanya.
Perlahan Andra mengeluarkan kotak kecil yang ternyata sudah di siapkan di saku celananya.
Sebuah cincin manis bertahta kan permata berkilau indah Andra sematkan di jari manis Zara.
__ADS_1
"Jadilah teman hidupku, ibu dari anak-anakku, kita menua bersama hingga maut memisahkan kita" suara Andra terdengar pelan dan dalam.
Zara tersenyum manis, ada rasa haru di hatinya, anggukan tulus membuat Andra tersenyum bahagia.
Kedua mata indah Zara berembun, ada rasa tak percaya di hatinya, benarkah pria di depannya yang kelak akan menjadi teman hidupnya, menemani masa tua hingga tutup usianya nanti.
Andra mengecup jemari Zara lembut, bahagia tak terkira terpancar dari matanya.
Pelayan datang membawakan minuman dan pesanan Andra, makan malam berlangsung tenang dan rasa bahagia di dalam hati keduanya, tak henti Andra mencuri pandang Zara yang asik dan fokus pada makanannya.
Wajahnya tetap cantik meski kedua pipinya mengembung dengan mulut terus mengunyah, sangat menggemaskan bagai seekor kelinci manis.
Keduanya melangkah ke luar mall setelah menyelesaikan makan, Andra tersenyum smirk dan melangkah tenang, dari sudut matanya ia sempat menangkap beberapa orang mencurigakan yang mengmbil gambarnya.
"Kita ke mansion dulu, aku akan mengabarkan pada mommy berita bahagia ini, berita kalau kau sebentar lagi resmi menjadi menantunya."
Zara mencubit mesra bahu Andra, keduanya tertawa kecil sambil melangkah menuju mobil.
Empat puluh menit akhirnya mereka sampai di mansion.
Langkah Andra panjang seakan tak sabar ingin segera memberitahukan pada sang mommy.
"Mom...moom, anakmu pulang bawa oleh-oleh mom" teriaknya menggema ke seisi ruang mansion.
"Mom, putra tampanmu membawa calon menantu kesayanganmu mom" teriaknya lagi.
Zara tak bisa berbuat banyak karena tangannya masih erat dalam genggaman Andra.
Tak tok tak.
"Oleh- oleh apa yang kamu bawa heum?" tanya Maharani kesal, muncul dari kamarnya.
Namun rasa kesal seketika sirna kala melihat sosok yang datang bersama sang putra.
Maharani melangkah cepat menyongsong Zara lalu memeluknya erat.
"Akhirnya kau datang juga Ra, tante kangen sama kamu sayang muacch" Maharani menumpahkan semua rindunya pada gadis cantik itu dengan memcium keningnya berkali-kali.
Zara tersenyum haru, Maharani begitu menyayanginya, kehangatan seorang ibu yang telah hilang, kini serasa datang kembali.
"Kapan heum, kalan kalian akan melangsungkan pernikahan?" tanya wanita paruh baya itu dengan antusias.
"Ehm k kita belum.."
"Secepatnya mom, aku ingin pernikahan ini secepatnya di laksanakan" ucapan tegas Andra membuat Zara membulatkan matanya.
"T tapi kan" Zara tergagap.
"Oke, semua mommy yang urus, kamu tinggal buat daftar temen dan keluarga kamu yang akan hadir, semuanya mommy yang akan menyiapkannya."
Maharani tak dapat membendung tangis bahagianya, air mata mengalir dari mata yang mulai keriput itu.
__ADS_1
Andra tersenyum haru sedangkan Zara mengerjapkan kedua matanya seakan tak percaya, benarkah ia akan menikah secepat ini.