
Maharani memeluk Zara erat, beberapa hari tak bertemu sudah membuatnya begitu rindu pada gadis cantik itu.
"Apa kabarmu Ra, sehat kan?" tanya Maharani lembut.
"Iya sehat tante, maaf baru sempat nengok tante."
Zara mati merasa terharu sekaligus bersalah jika sedang bersama Maharani, sikap penuh kehangatan yang di berikan wanita itu sungguh membuat hatinya teriris.
Zara merasa bersalah, jika saatnya nanti semua akan kembali seperti semula, maka saat itulah ia harus menjelaskan pada Maharani tentang sandiwaranya selama ini.
Tak ingin terlalu memberi harapan, Zara menahan diri untuk tak terlalu dekat dengan mommy Andra.
"Sudahlah tak apa-apa, Tante tahu kau sibuk, makanya saat Joy bilang mau mampir ke sini Tante cepat-cepat mengambil pesanan tante, dan tunggu sebentar tante mau kasih sesuatu untukmu."
"Heum, apa itu Tan?"
Maharani masuk ke dalam ruangan pribadinya.
Kotak mungil berwarna silver dengan pita kuning ke emasan di serahkannya pada Zara.
"Terima kasih Tante." Zara menerima dengan ragu-ragu.
"Buka lah, kalau kau tak suka warnanya, bisa tukar dengan punya Joy."
Zara menaikan alisnya, lalu di bukanya kotak lucu tersebut.
Kain slayer berbahan sutra dengan motif bunga sakura tampak lembut dan indah.
Netra bening Zara berbinar bahagia, di sapunya slayer tersebut ke pipi halusnya.
Maharani tersenyum melihat gadis kesayangannya terlihat menyukai pemberiannya.
"Gimana kamu suka? Tante sengaja pesan sama teman tante yang ke jepang, tante pesan khusus untuk kamu dan Joy, ada ini sial di salah satu sudutnya." Maharani menjelaskan dengan antusias.
"Suka tante, suka sekali, sangat cantik " puji Zara tulus.
"Punyaku mana mom?" Andra menyela.
Maharani kembali mengambil kotak mungil sama persis dengan milik Zara namun beda warna lalu menyerahkan pada Joy.
"Kamu ini."
Andra membuka kotak dan senyumnya terbit saat lihat ada dua huruf inisial namanya dan Zara.
"Gimana Joy, suka kan?" tanya Maharani.
Andra mengangguk pasti.
__ADS_1
"Mommy sudah ngasih hadiah buat Zara, masa kamu enggak?" kalimat bernada sindiran keluar dari mulut wanita cantik itu.
Andra menatap Maharani tak pengerti.
"Beliin dong yang lebih bagus dari pemberian mommy" sambung Maharani sambil merangkul Zara dan meraih tangannya.
"Mungkin sebuah cintin akan terlihat cantik di jari manis Zara."
"Uhuk uhukk" tiba-tiba Zara terbatuk ringan mendengar kalimat Maharani.
Cincin di jari manis yang tak lain ber arti cincin tunangan, Zara membatin cemas.
"Ehm t tidak usah tante, nanti aku jadi ketagihan jika terus-terusan di beri hadiah oleh kalian" jawab Zara menolak secara halus.
"Tentu mom, usul mommy bagus, aku akan cari hadiah cincin paling bagus buat calon menantu mommy ini." Andra menjawab dengan antusias.
Maharani tersenyum senang, sedangkan Zara terpaksa ikut memberi senyum namun rasa masam.
"Eh kita makan dulu, sudah mommy suruh karyawan buat masak istimewa."
Zara melihat ke arah Andra dengan panik, jika harus makan malam tentu ia akan pulang lebih larut, perutnya pun masih terasa kenyang, namun tak enak juga jika ia menolak tawaran mommy Andra.
Joy tampak lahap dengan hidangan seafood kesukaannya.
Pantas saja dia tak suka makanan receh, setiap hari makanan mewah bisa ia nikmati dengan gratis, ucap Zara dalam hati.
Setelah perutnya terasa kenyang Andra pun pamit untuk mengantarkan sang pujaan kembali pulang.
"Enak ya kak, hidup kak Andra, bisa menikmati makanan lezat setiap hari." Zara berucap dengan tangan mengusap perutnya yang terasa penuh karena se porsi fuyunghai kembali mengisi perutnya.
Tak pernah Zara menikmati fuyunghai selezat di restoran Andra, makanan berasal dari tiongkok itu bagai di masak oleh sang ahli yang khusus memasak makanan tersebut.
Andra tersenyum gemas.
"Kau bisa menikmati setiap hari jika kau sudah menjadi pemiliknya." jawab Andra santai.
"Maksudnya?" tanya Zara.
"Restoran itu akan menjadi milikku karena akulah satu-satunya ahli waris mommy, dan jika kau sudah menjadi istriku otomatis restoran itupun menjadi hak milikmu" terang Andra percaya diri.
Dasar narsis, Zara membatin.
"Kak langsung pulang saja."
Andra mengangguk ringan, waktu terasa cepat berlalu jika di habiskan berdua dengan gadis manis di sampingnya itu.
Di liriknya jam tangan di pergelangan tangannya.
__ADS_1
Jam sepuluh kurang sepuluh menit, kesempatan kecil jika Revan masih mendatangi gedung apartemen Zara, dan itu membuat hati Andra cukup tenang.
Jika mengingat masih ada rival yang masih menginginkan Zara kembali, membuat hati Andra begitu kesal.
Andai Zara menyetujuinya, Andra ingin mereka bertunangan se segera mungkin.
Sampailah kereta besi tersebut di gedung di mana apartemen Zara berada.
"Kak nanti kakak pulang naik apa?" tanya Zara yang ingat jika mobil Andra ia tinggal di bengkel Diego, padahal Andra sudah menyuruh seseorang untuk membawanya ke parkiran apartemen Zara.
"Naikah langsung, sudah malam, jangan pikirkan aku." Andra berucap datar sambil memindai ruangan lobi.
Zara pun melangakah menuju lift tanpa mengeluarkan sepatah katapun pada Andra, membuat pria tampan itu berfikir keras.
Tak ada sedikit pun kah rasa yang kau miliki untuku, Andra membatin dan melangkah lesu ke luar lobi dan menuju mobilnya.
Ceklek.
Pukul sepuluh lebih, dan Dewi ternyata sudah berada di kamarnya, terlihat dari sepatu kets miliknya yang sudah tertata di rak.
Zara menghela nafas berat, sungguh tersiksa berada dalam kecanggungan ini, andai Dewi memberi kesempatan padanya untuk menjelaskan semua.
Zara pun memasuki kamarnya, lalu membersihkan tubuhnya.
Ia malam ini ingin tidurnya cukup, hingga kantung matanya menghilang.
Pagi hari Dewi seperti biasa bangun lebih awal dari Zara, karena ada bahan makanan yang di butuhkan untuk membuat sarapan, Dewi pun keluar apartemen untuk membelinya di minimarket di dekat gedung itu.
"Wi Dewi."
Dewi menoleh pada asal suara yang memanggilnya.
"Kak Andra?"
Andra mengangguk dengan senyum pesinanya yang bisa membuat gila kaum hawa.
"Tolong berikan ini untuk Zara, oiya kaupun bisa ikut makan karena aku buat beberapa porsi , terima kasih, aku akan langsung pergi."
Dewi menerima bungkusan dari Andra dan membalas anggukannya.
Jika raut wajah yang selalu berseri saat menyebut nama Zara, maka hubungan itu bukanlah sandiwara, Dewi membatin.
Dewi urung membeli bahan makanan di mini market karena sudah ada kiriman makanan dari Andra dan waktunya pun tersisa sedikit, akan semakin telat jika ia harus membuat sarapan lagi.
Andra tersenyum bahagia saat pesan yang Zara kirim padanya.
"Terima kasih fuyunghai nya, satu bungkus ku kasihkan pak satpam apartemen, sayang jika makanan yang begitu lezat jadi terlantar."
__ADS_1
Andra menggeleng haru, sengaja ia memberikan porsi lebih agar Zara puas memakan untuk sarapan, namun ternyata ia berikan pada satpam.
Bagaimana aku tak semakin jatuh hati padamu Ra.