
Nardi menyimak dengan fokus, cerita Andra dengan senyum haru.
Wajah pemuda yang penuh semangat menceritakan kisah cintanya yang berlabuh pada seorang gadis karena kejadian tak sengaja.
Terkadang dadanya berdenyut nyeri karena di balik kebahagiaan yang kini Andra rasa, ada seorang lelaki lain yang akan hancur hatinya karena cintanya yang kandas.
"Pak, aku pulang dulu, aku sudah janji menjemputnya sore ini" ujar Andra sambil melambai ke Nardi.
Pria paruh baya itu hanya mengangguk membalas lambaian Andra.
"Jangan lupa datang Pak" teriak Andra.
"Hati-hati lah, sampaika salamku untuk calon mu."
"Pasti Pak, akan ku sampaikan."
Andra melaju motornya cepat menuju apartement Zara, terpaksa ia mempersingkat kedatangannya di rumah Nardi, pintu kamar Tamu yang tertutup dan sebuah kaca mata hitam tergeletak di atas meja sudut, menandakan bahwa Gunawan sedang berada di rumah tersebut.
Senyum smirk Andra terbit, dengan begitu Gunawan sudah tahu jika putrinya akan ia nikahi tak lama lagi.
Sepeninggal Andra, Gunawan langsung menampakan diri.
Ia menghela nafas panjang, dari kamar ia bisa mendengar jelas semua cerita kisah kasih pemuda putra desainer itu dengan putrinya.
"Dia sangat mencintai putrimu, dia pria yang baik dan jujur, terima lah dia" Nardi berucap tulus.
Keraguan Gunawan sama sekali tak beralasan, berita tentang Andra semua bohong, dan Andra lah yang telah menyelamatkan Zara saat kejadian hipotermia yang di alami gadis itu saat pemotretan.
"Entahlah, tapi hatiku belum yakin Di."
"Apalagi yang harus pemuda itu lakukan agar membuat hatimu percaya bahwa dia lah pria yang pantas menjadi pendamping putrimu."
Gunawan menghela nafas panjang, ia tak ingin putrinya terluka, baginya tak ada yang pantas untuk mendapatkan cinta Zara.
"Aku tak ingin putriku terluka Di" ucapan Gunawan lirih.
Kini Nardi yang mulai kesal.
"Itu karena ulahmu sendiri, kau yang telah melukai seorang wanita yang begitu tulus mencintaimu, karena itu kau pun meragukan semua cinta yang datang untuk putrimu, sadar lah dan buka hatimu, berdamai lah dengan masa lalu mu, tak semua pria mudah melabuhkan cintanya sepertimu" ucapan Sinis Nardi membuat Gunawan memandangnya penuh sesal.
__ADS_1
Rasa ketakutan jika suatu saat Zara akan di hianati memang karena ulahnya sndiri.
Ia yang telah membuat luka namun ia juga yang mengalami trauma, menyebabkan rasa sesal yang tak berujung.
Gunawan ingin sekali saja egois, ia ingin Zara hanya miliknya, tak boleh ada pria lain memilikinya, Gunawan tak ingin berbagi, Zara sepenuh hanya miliknya.
"Sesekali kalian harus berjumpa, dan kau akan tahu jiwa hangat penuh cinta pemuda itu layak untuk menjadi pria kedua pemilik Zara setelah dirimu" terang nardi.
Sikap Gunawan yang keras kepala memang hanya bisa luruh dengan kelembutan, jadi tak heran kalau pria itu begitu posesif pada Zara putrinya, yang telah ia tinggalkan sejak anak-anak.
Dan Di saat ia telah menemukannya Gunawan ingin menjadi satu-satu nya lelaki yang menjadi pelindung juga yang di sayang putrinya, meski saat ini Zara belum tahu tentang keberadaannya.
Gunawan menghela nafas panjang, berat rasanya melepas putri kecil yang amat di sayanginya, melepas untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama pria yang di cintainya.
Nardi menepuk bahu Gunawan, pria itu tampak begitu murung.
"Katakan pada Manu jika mencariku, aku ada di makam istriku"ucap Gunawan.
Mencurahkan semua isi hati di makam Nita, memang sering di lakukan Gunawan.
Rindu, sesal dan tangis ia tumpahkan semua, berharap rasa sesak di dadanya sedikit berkurang.
"Lalu dengan apa kau akan ke sana?" tanya Nardi karena memang Gunawan datang di antar oleh Manu.
Sementara itu, Andra dan Zara tengah asik memilih gaun pengantin di rumah Mery sahabat Maharani.
Wanita itu sebenarnya sudah menyiapkan gaun spesial hasil rancangannya tapi Andra memintanya untuk membuat satu buah gaun lagi dengan model lebih simpel dan elegan.
"Babe, apa tidak terlalu banyak kau pesan gaun untuk pernikahan kita nanti?" tanya Zara heran.
Andra menggeleng cepat, ia ingin sesuatu yang special di hari pernikahannya nanti, hari penuh bersejarah yang hanya sekali seumur hidupnya.
"Menurutku tidak banyak" jawab andra santai.
"Tidak banyak gimana, Mommy Maharani sudah membuat dua gaun, dan gaun tante Meri pun sudah kau pesan dari jauh hari, kini kau pesan lagi gaun model baru, apa..."
"Stt, tenang sayang, itu masih wajar toh itu semua untuk kita berdua, pernikahan yang terjadi hanya sekali di seumur hidup kita."
Zara mencebikan mulutmya kesal, satu gaun rancangan Meri berharga puluhan juta rasanya itu adalah pemborosan karena gaunnya hanya akan di pakai sekali saja.
__ADS_1
Tak tok tak.
Meri muncul dari ruang kerjanya membawa beberapa buku tebal bergambar hasil rancangannya.
Wanita itu mengajak Andra dan Zara k ruangan khusus di sebuah bangunan terpisah dari bangunan utama, tempat di mana ia mememajang gaun rancangannya.
Zara memandang penuh takjub saat memasuki ruangan.
Gaun indah berbagai model dan dari bahan kualitas tinggi, sangat indah dan nyaman di pakai untuk pesta.
"Sayang kau pilihlah mana yang kau suka."
Saking banyak dan semua terlihat cantik dan indah membuat Zara di landa gundah, hatinya tak tega memilih satu di antara semua.
"Babe, kau saja yang pilih untuk aku, rasanya semua terlihat begitu sempurna" ujar zara bingung.
Andra menyuruh pelayan untuk mengambil lima potong gaun yang cukup menarik bagi nya, model simpel dan tak banyak meng ekspos kulit Zara, itulah yang Andra pilih.
"Sayang bagaimana kalau yang ini" Andra melihat salah satu gaun berwarna putih yang tergantung elegan di sudut ruangan.
Zara mengamati gaun pilihan Andra.
"Babe, apa tidak ada warna selain putih yang kau sukai ?" tanya Zara karena semua gaun pernikahan berwarna putih, ia ingin ada warna lain saat pesta nanti.
"Kalau kau ingin warna lain, kau bisa memesannya pada Tante Meri dan beliau pasti akan membuatnya apapun permintaanmu, iya kan Tante?" tanya Andra antusias pada sahabat Mommynya itu.
Glek.
"Ah tidak, tidak usah Tante, biar aku pilih ini saja" ujar Zara cepat, ia merasa tak enak jika menambah pekerjaan lagi pada wanita paruh baya itu.
"Benar kau tidak mau yang warna lain, cantik?" tanya Meri ikut bertanya.
Zara menggeleng pasti.
Akhirnya setelah kata sepakat, Zara memilih gaun yang Andra sarankan, lalu keduanya meninggalkan rumah besar Meri.
"Babe kita mau ke mana?" tanya Zara, ia merasa familiar dengan jalan yang sedang mereka tuju.
Andra mengangguk dengan seulas senyum tipis di bibirnya.
__ADS_1
"Sudah ku bilang, kita harus menemui se seorang yang sangat penting."
Zara memandang jalanan yang di lewatinya, jika tak salah, itu adalah jalan menuju makam sang Ibu.