Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*192


__ADS_3

Kegaduhan pun terjadi di dapur resto, Zara yang jatuh dengan kening membentur sisi meja membuat darah mengalir di kulit pelipis nya yang sobek.


Mendengar kegaduhan di resto Andra pun berlari kencang dan mendapati Zara tengah di bopong oleh salah satu karyawan.


Beruntung saat itu ada seorang petugas kesehatan yang sedang makan siang di resto hingga dengan cekatan ia memeriksa kondisi Zara.


"Bagaimana kondisinya Bu?" tanya Andra tak sabar, pelipis Zara terlihat sobek dan di perban, ia sungguh berasa bersalah, baru sehari membawanya tapi sudah membuatnya celaka.


"Hanya luka lecet dan benturan ringan, akan sembuh beberapa hari, tapi anda mungkin harus membawa istri anda ke rumah sakit untuk mengecek kondisi tubuhnya"jawab petugas kesehatan dengan ramah.


"Hah apa ada luka dalam bu?" tanya Andra panik.


Sang petugas tersenyum mendengar kalimat polos Andra.


"Tidak ada luka dalam, hanya istri andra harus di periksa secara serius" jawabnya santai.


Dan dengan sopir, Andra membawa Zara ke rumah sakit terdekat.


Setelah mendaftar Andra pun memasuki ruangan setelah seorang perwat memanggil namanya.


Dengan berdebar dan tangan menuntun Zara, keduanya memasuki ruangan periksa.


"Selama siang Tuan Andra dan Nyonya Zara" sapa sang dokter ramah sambil membaca identitas pasien.


"Apa keluhan yang anda rasakan nyonya?" tanya nya ramah.


Zara dan Andra saling pandang karena merka pun bingung setelah petugas kesehatan bersikeras meminta mereka untuk memeriksakan kondisi Zara.


"Ehm istri saya tadi jatuh Dok dan setelah di periksa hanya luka luar ringan tapi...kata petugas yang menanganinya kami di suruh cek kondisi tubuh istri saya Dok" jelas Andra.


Sang dokter pun mulai memeriksa dengan stetoskop dan tensi miliknya.


Dan senyum dokter itu mengembang.


"Untuk luka memang sudah di tangani dengan baik tapi kalian tetap harus periksa dan cek kehamilan secara teratur" ucap sang dokter.


"Cek apa Dokter?" tanya Andra takut pendengarannya salah.


"Cek kehamilan, istri anda sedang hamil tiga minggu dan karena masih dalam tri mester pertama, sang calon ibu harus menjaga kondisi tubuh dan janin dengan hati-hati karena trimester pertama kandungan masih dalam kondisi rawan dan bla bla bla....."

__ADS_1


Andra tak lagi memperhatikan kalimat dan ucapan sang dokter, perhatiannya kini terfokus pada Zara yang masih terbaring di atas ranjang pasien.


"Sayang kau hamil, di sini ada baby kita" ucapnya lirih dengan kedua mata berkaca-kaca.


Zara mengangguk lirih, hatinya begitu bahagia mendengar penuturan sang dokter, bahkan mulutnya kelu untuk berbicara.


"Sayang kau akhirnya datang nak muachh muachhh..." Andra berkali-kali mendaratkan ciuman di perut Zara yang masih rata.


Sang dokter hanya tersenyum haru ikut merasakan kebahagiaan pasangan muda tersebut.


"Terima kasih sayang, terima kasih atas hadiah terindah yang kau beri padaku" suara Andra serak bahkan isak tangis kecil terdengar dari mulutnya.


Zara pun hanya mengangguk dengan air mata bahagia mengalir deras dari sudut matanya.


Jika tadi kegaduhan terjadi di resto tapi kali ini di Mansion para pelayan dan juru masak sedang bersuka cita.


Setelah Tuan Muda mereka mengabarkan kabar bahagia bahwa sang Nyonya Muda tengah hamil semua merasakan suka cita penuh bahagia.


Begitupun Maharani, ia meng cancel meeting dengan customernya hanya untuk kembali ke mansion dan menyambut sang menantu.


Semua pekerja dapur mansion mendapat tugas dadakan.


Satu orang lagi di tugaskan untuk memasak makanan sehat untuk ibu hamil juga calon bayi.


Maharani pun sengaja menyewa jasa seorang ahli gizi untuk bekerja di mansion selama masa kehamilan Zara.


Wajah Maharani berubah sumringah saat mendengar suara deru mesin mobil memasuki parkir mansion.


Langkahnya cepat menuju pintu.


Ceklek.


"Oh ...cucuku sayang...akhirnya kau datang juga sayaang muacchh muaacchh" Maharani berhambur dan memeluk Zara lalu mencium perut Zara berkali-kali.


Wanita paruh baya itu terlihat sangat bahagia, ia menuntun Zara untuk duduk di sofa ruang tengah, sandal halus berbulu ia pakaikan ke kaki Zara.


"Pakai ini, agar kakimu tak dingin kena lantai, dan bagaimana luka di keningmu apa tidak dalam?" tanya nya lembut.


"Bi....mana rebusan kacang hijaunya" teriaknya pada pelayan yang di tugasi untuk membuat air rebusan kacang hijau, Maharani begitu heboh dengan kedatangan Zara.

__ADS_1


"Luka ku hanya tergores kecil Mom, dan buat buat apa air kacang hijau untukku Mom?" tanya Zara heran.


"Buat kau minum sayang, ibu hamil harus rajin minum sari kacang hijau biar anaknya nanti rambutnya lebat dan kulitnya putih bersih" terang Maharani tersenyum ceria.


"Hayuuk minumlah, nanti makan, mommy sudah minta seorang ahli gizi untuk bekerja di mansion, khusus untuk mengatur asupan makanan bergizi buat kamu."


"T tidak perlu seperti itu juga Mom, aku sehat kok dan semua makanan yang di masak di dapur mansion sangat sehat dan bergizi, pasti nanti baby ku juga tumbuh sehat" ujar Zara.


"Em no no...pokoknya kamu harus makan yang bergizi seimbang agar kau dan calon cucu Mommy tumbuh sehat, pintar dan cantik" Maharani sudah berandai dari mula, jika ia ingin seorang cucu yang cantik agar bisa ia dandani baju dan gaun indah dari butiknya.


"Tapi kalau ternyata Baby boy gimana Mom?" tanya Zara dengan wajah murung.


"Ish ish ish, mau baby boy atau baby girl...semua pasti Mommy terima dengan senang hati, udah kamu nggak usah mikir yang macam-macam, ibu hamil nggak boleh stress."


Zara tersenyum lega, sungguh Maharani menyambut kehamilannya dengan suka cita.


"Ayo sayang kita istirahat dulu, kau tidak boleh terlalu lelah" Andra menarik pinggang sang istri lembut.


"Eh eh mau di bawa ke mana Mantu Mommy, sini dulu...Mommy mau nyapa cucu Mommy dulu" protes Maharani sambil menarik tangan Zara agar kembali duduk.


Andra mencebik kesal, ia pun sebenarnya ingin mengobrol dengan calon buah hatinya.


Belum apa-apa sudah di monopoli oleh Mommy, ah nggak asik , batin Andra kesal.


Zara dengan wajah pasrah pun kembali duduk.


Maharani dengan usapan lembut mulai mengeluarkan wejangan bijaknya, bahkan janin yang masih berbentuk zigot itu mungkin belum merasakan sentuhan sang nenek yang penuh cinta.


"Mom sudah Mom, Zara mau istirahat, dia belum tidur siang" sudah satu jam Maharani mengelus-elus perut Zara tanpa bosan, entah wejangan apa saja yang ia ucapkan, mata Zara pun terlihat sayu karena rasa kantuk yang menyerangnya.


Maharani mencebikan bibirnya kesal, putranya seakan tak ingin berbagi dengannya, bukankan waktu malam hari mereka bisa puas berdua, kenapa baru sebentar pun Andra sudah protes.


"Maaf Mom aku mau ke kamar dulu" ujar Zara lembut karena merasa tak enak hati pada mertuanya itu.


Tok tok tok.


Ceklek.


"Mana putriku...aku ingin menyapa cucuku, Raa" tiba-tiba dari arah pintu, pria paruh baya bertubuh tegap datang, langsung melebarkan kedua tangannya ke arah Zara.

__ADS_1


Ya salam, cobaan apa lagi ini Tuhan, kenapa kau hadirkan mereka di antara kami, aku tak rela waktu istriku akan tersita karena harus berbagi dengan mereka, ucap batin andra.


__ADS_2