Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*123


__ADS_3

Andra melajukan kereta besi Zara dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik ke wajah cantik yang masih merona di sampingnya.


Dengan tangan kiri ia mengacak rambut Zara yang kini tak memakai topi.


"Jadi kapan aku bisa bertemu dengan temanmu itu?"


Zara menatap Andra kesal.


"Manu namannya" protesnya.


"Iya Manu" ada setitik rasa tak rela di hati Andra kala Zara protes tentang teman pria barunya itu.


"Entahlah, dia juga mungkin sibuk, nanti aku hubungi dia dulu"


"Kau memiliki nomor kontaknya juga?" tanya Andra tak percaya, Zara sangat jarang memberikan nomor kontak pribadinya pada orang lain karena ia hanya akan memberikan nomor Dewi untuk pekerjaan atau urusan lain.


Zara mengangguk pasti, setelah apa yang di lakukan Manu untuknya, lalu apakah salah jika ia memberikan kontak pribadi padanya sebagai tanda terima kasih, pikir Zara.


Sesampainya di area parkir Andra memarkirkan mobil Zara di mana anak buahnya sudah menyambutnya lalu menyerahkan kunci mobil milik Andra.


"Langsung tidur Ra, sudah malam" ucap andra sambil mengusap puncak kepala sang kekasih.


"Kakak juga langsung pulang, jangan keluyuran nggak jelas" jawab Zara mencebikan bibirnya.


"Sshhh hh, baik sayang, jangan lupa mimpikan kekasih tampanmu ini" Andra mencubit kecil pipi Zara.


Zara melangkah memasuki lobi dengan hati lega, ternyata jika di bicarakan baik-baik, pasti semuanya akan terselesaikan, pikirnya dalam hati.


Namun langkah panjangnya terhenti saat satu sosok berdiri menghadangnya.


"Ra....."sapa nya lirih dengan suara bergetar.


"Untuk apa kau datang lagi, pergi kau... pergi" begitupun nada suara Zara, lirih namun dalam dan penuh penekanan.


"Ra tunggu Tante Ra, maafkan Tante.. Zara ..." teriakan Reni lirih sambil berlari menyusul Zara ke arah lift.


Keberuntungan rupanya tak berpihak pada Reni karena tubuh Zara sudah hilang di balik panel lift yang menutup.


Ceklek.

__ADS_1


Zara melangkah cepat ke ruang apartement dengan nafas memburu.


"Ada apa Ra?" tanya Dewi terkejut.


Zara menggeleng pelan.


"Ada nenek sihir di bawah" ucap Zara spontan.


"Emang masih ada nenek sihir? di jaman milenium ini?" jawab Dewi.


"Ada, kerjaanya nyulik laki orang."


Dewi mengerutkan alisnya penuh tanda tanya, menurut dugaannya si 'nenek sihir' itu adalah Ibu Revan, karena sepulangnya bekerja pun Dewi sudah berjumpa dengan wanita paruh baya itu bahkan ia sedikit curhat dengannya.


Bagaimana hatinya begitu tersiksa saat Zara begitu membencinya, Reni berharap masih ada kata maaf untuknya.


Dewi membiarkan Zara pergi tanpa menanyakan lebih lanjut si nenek sihir itu.


"Apa dia sangat semenakutkan itu hingga kau masih saja memanggilnya nenek sihir Ra?" tanya Dewi serius, ada rasa iba di hatinya kala melihat Reni yang tampak tulus menyesali kesalahan dan berniat meminta maaf pada Zara.


"Bagiku dia mahluk paling jahat di muka bumi ini Wi, kau tak akan bisa merasakan apa yang telah dia perbuat pada kami, sampai kapanpun aku tak akan memaafkannya titik" Zara berucap lantang.


"Apa dengan terus menyimpan dendam di di hatimu maka hidumu menjadi tenang, apa hati kecilmu merasa puas Ra, dan kau harus tahu, Ibu mu tak akan tenang dalam tidur panjangnya, jika sang putri yang di cintainya terus memendam dendam dan kebencian selama hidupmu, ingat Ra, aku sebagai sahabat hanya ingin melihatmu selalu hidup dalam damai dan penuh cinta. Hapus semua kebencian di hatimu Ra, dan maafkan mereka, Ibu mu pun akan merasa bahagia"


"Ishh apaan sii" Dewi mengibas tangan Zara yang meraba keningnya.


"Gue pikir Elu kesambet Wi, tumben kasih Gue nasihat, jarang-jarang lho Gue dapet nasehat bijak dari sahabat gue" sindir Zara dengan satu sudut bibir terangkat sinis.


"Gue serius Ra, mulailah hidup dengan damai, maafkan mereka yang telah menyakitimu, Tuhan saja Maha Pemaaf, masa kita yang berlumur dosa tidak saling memaafkan" Dewi masih mencoba untuk bersabar dan mendinginkan hati sahabatnya itu, jika di terima sukur di tolak toh dia nggak rugi, Dewi hanya tak ingin sahabatnya selalu di kelilingi aura negatif karena perasaan benci yang bersemayam di hatinya.


"Dah ah Gue mau tidur, ngantuk Gue" ujar Dewi lalu masuk ke kamarnya.


Zara menatap punggung sang sahabat dengan dada berdesir.


Drrt drrt.


"Wi bagaimana keadaan Zara sekarang? Apa dia marah, menangis, atau masih mengumpat Tante Wi?" tanya Reni pada Dewi lewat pesan singkat.


Sepulang dari kerjaan, Dewi sempat berjumpa dengan Reni di lobi yang sedang menunggu Zara, dan Dewi pun memberikan nomor kontaknya pada wanita paruh baya itu setelah ia memohon padanya.

__ADS_1


"Iya Tante, Zara memang masih perlu di ajari sopan santun dalam mengumpat, tapi Tante tenang saja, kata-kata umpatan dalam kamusnya sangat tipis, jadi sebentar lagi pasti hatinya luluh ."


"Benarkah Wi, alangkah senang hati Tante jika Zara mau memaafkan kesalahan Tante, terima kasih atas kerja samanya Wi, dan tolong kasih kabar Tante kalau suasana hatinya mulai membaik."


"Baik Tante, pasti akan aku informasikan pada Tante secepatnya."


Sementara Zara masih duduk di depan cermin.


Sesekali pandangannya menatap ke arah Poto yang selalu di simpannya dalam laci meja riasnya.


Foto kebersamaan dengan Ibu dan Ayah yang hingga saat ini tak tahu di mana.


Ayah andai kau tahu jika hidup kami sangat menderita sejak kepergianmu, demi wanita nenek sihir itu kau tega meninggalkan kami.


Salahkah aku jika hingga detik ini begitu membencinya, hatiku sakit Yah, sesak dadaku jika mengingat semua duka lara yang kau tinggalkan.


Tangis air mata dan darah, aku berjuang demi bertahan hidup Yah, sedangkan kau gembira dengan wanitamu, tangis batin Zara.


"Ra Lu udah baca pesen Gue, besok kita ke rumah Nyonya Suzana, Lu harus tampil cantik" ujar Dewi dari balik pintu kamar Zara.


Ia hanya tak ingin sahabatnya itu masih terhanyut dalam kesedihan.


"Ra....Lu denger Gue nggak?" sambung Dewi lebih keras karena tak ada jawaban dari Zara.


"Iya Wi..."


"Cepatlah tidur, jangan sampai besok pagi bangun muka Elu bengkak sana-sini karena nangis."


"Yee siapa juga yang nangis, ogah amat."


Dewi tersenyum lega, dari nada bicara dan suaranya Zara tak terdengar habis menangis.


Sudahi sedihmu Ra, songsong hari esok dengan senyum di wajah cantikmu, berdamailah dengan masa lalu, batin Dewi lirih.


Dan pagi pun tiba, gerimis tengah malam tadi menyisakan suasana dingin menusuk tulang, Dewi yang sudah berkutat di dapur seperti biasa, sementara Zara baru membuka matanya malas.


Ahh andai ia anak orang kaya tujuh turunan tujuh kelokan, tak perlu ia harus bangun pagi dan bekerja mencari nafkah untuk sesuap nasi, ia akan menikmati hidup dengan santai dan berlibur, shoping, juga makan-makanan enak tiap hari, membayangkan saja sudah membuat hatiku bahagia, Zara tersenyum dengan wajah yang menyembul dari balik selimut.


Di raihnya ponsel dan seketika itu senyumnya langsung sirna.

__ADS_1


Deretan angka nomor rekening bank dari Revan juga nominal yang ia kirimkan padanya membuat kedua alisnya mengerut.


Biaya perbaikan mobil dan biaya rumah sakit layanan VIP, kenapa semurah itu, gumamnya.


__ADS_2