
Andra dan Zara bergegas menuju ruang tengah di mana orang berkerumun mengitari tumpukan kado dengan tangan menutupi hidung mereka.
"Apa yang harus kita lakukan Pak? Apa kita harus membongkar semua kado satu persatu?" tanya Andra pada Satpam.
"Tidak usah, Sebentar lagi ada tim kita yang akan membawa anjing untuk mencari titik sumber masalah" terang satpam tegas.
Andra mengangguk mengerti, lalu menarik tangan Zara agar beranjak dari ruangan karena aroma kurang sedap itu sudah mulai menggelitik hidungnya.
Setelah tiga puluh menit menunggu akhirnya rekan satpam tersebut datang dengan dua anjing pelacak.
Dan dengan waktu singkat akhirnya anjing tersebut berhasil menemukan sumber yang mengeluarkan aroma tak sedap yang berasal dari salah satu kado.
Para pelayan mansion dan dua orang tukang kebun menutup hidung mereka dengan rapat saat kado tersebut di bawa ke luar mansion.
"Sayang tunggu lah di sini, biar aku yang memeriksanya" Andra menahan Zara agar tak mengikuti dirinya memeriksa kado tersebut.
"Tapi aku ingin melihatnya Babe."
"Apa kau sanggup ...?" tanya Andra dengan tatapan tajam ke sang istri.
Ia tak tahu apa yang ada di dalam kotak kado yang mengeluarkan bau tak sedap tersebut, dan pastilah akan sangat mengganggu penciuman jika berada dalam jarak dekat.
Zara pun mengurungkan niatnya dan hanya melihat dari jarak sepelemparan batu agar indra penciumannya tetap aman.
Akhirnya seorang satpam membuka bungkusan kado yang menyebabkan bau tersebut.
Pria tersebut sontak memundurkan langkahnya dan langsung menutup hidungnya.
Andra yang berada di jarak tiga meter pun tapi masih bisa mencium aroma bangkai saat kotak tersebut terbuka penuh.
"Apa isinya Babe..?" tanya Zara penasaran.
"Kurang ajar...brengsek...siapa yang berani melakukan ini" umpat Andra panjang pendek.
Antara marah dan rasa mual di perutnya saat melihat isi kado yang ternyata adalah bangkai se ekor tikus besar yang telah membusuk.
"Pak coba lihat bungkusnya apa ada catatan atau tulisan yang mencurigakan dari pengirim" Andra berucap pada satpam sambil terus menutup hidungnya.
Satpam tersebut menggeleng kepalanya setelah mem bolak-balik kan kado yang ternyata tanpa nama tersebut.
"Tolong ambil poto semuanya Pak, isi kado, bentuk dan waran kado, kalian poto semua, mungkin bisa di jadikan bukti suatu saat nanti."
"Baik Den."
Andra segera berlari ke dalam mansion dan membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
"Kira-kira siapa yang telah tega pada kita ya Babe?" Zara bertanya lirih.
"Entahlah, aku pun tak bisa berasumsi macam-macam, kita tak mungkin menuduh tanpa bukti yang kuat, apalagi tak ada saksi yang melihat, kamera pengawas pun tak menangkap tingkah yang mencurigakan"
Tak tok tak.
"Joy...ada apa nak, siapa yang tega mengirim kado bangkai tikus pada kita siapa..." tanya Maharani panik, dirinya tak percaya ada tamu nya yang berani mengirim kado keji pada keluarganya.
"Sudahlah Mom, semua sedang di selidiki oleh anak buahku, kita tinggal duduk saja menunggu, ahhh ...aku sangat lapar, seluruh isi perutku aku keluarkan semua tadi" umpat Andra.
"Hmm ayo kita makan, mommy sudah suruh koki masak untuk kita, Ra kau tolong panggil Om dan Tante mu kita sarapan bersama."
"T tidak usah Kak, aku ada di dapur mansion, semua makanan sudah siap di meja" Echa muncul dari dapur dengan apron masih melilit di tubuhnya.
"Kau masak Cha?" tanya Maharani kagum, wanita itu sangat ceria dan gesit, dari kemarin ia melihat Echa tampak bersemangat di dapur mansion.
"Iya Kak, saya belajar bareng chef, lumayan dapat ilmu berharga secara gratis, kapan lagi bisa lihat chef masak jika bukan di dapur mansion."
Maharani tersenyum senang pada semangat Echa.
"Hm apa kau berniat buka rumah makan Cha?" tanya Maharani.
"Ah t tidak Kak, mana ada saya punya modal untuk buka usaha warung makan, untuk masak sehari-hari saja pas-pas an" jawabnya jujur.
"Bersabar dan teruslah berdo'a, siapa tahu ada donatur yang akan memberimu modal untuk usaha Cha."
"Heum, udah ayo kita sarapan."
Mereka menikmati sarapan dengan khidmat, Ikhsan begitu menikmati setiap suap yang masuk ke mulutnya ia tak ingin kehilangan moment saat-saat terakhirmenikmati makanan lezat dari masakan para chef yang tak pernah ia nikmati sebelumnya.
Echa membereskan sisa peralatan makan ke dapur, meski Maharani dan Zara melarang, tapi ia bersikeras melakukannya.
"Om, apa benar kalian akan pulang hari ini?" tanya Zara dengan wajah murung.
"Iya Ra, rasanya kami tak tenang meninggalkan anak-anak terlalu lama di rumah, kasihan mereka."
Zara mengangguk mengerti.
"Ra tolong sampaikan salam dan terima kasihku untuk Ayahmu, kebaikannya tak akan pernah bisa kami balas sampai kapanpun" ucap Ikhsan.
"Iya Om, nanti akan aku sampaikan salam kalian untuk Ayah, salamku juga untuk adik-adik semua, dan kabari aku jika nanti Dini mau menerima tawaran dariku."
Ikhsan mengangguk haru.
Echa muncul dari kamar membawa tas yang berisi baju gantinya.
__ADS_1
"Kenapa baju nya ganti Cha?" tanya Maharani karena kini Echa sudah berganti lagi dengan baju miliknya sendiri.
"I iya Kak, maaf baju Kakak sudah aku cuci dan ku jemur, baju itu terlalu bagus untuk kami" ucapnya polos.
Maharani menghela nafas panjang, wanita jujur dan polos itu memang sangat sederhana dan kuat pendiriannya.
"Baiklah jika kau tak mau menerima baju-baju ku maka kau harus menerima ini, makanan untuk anak-anakmu di rumah."
Maharani sengaja menyelipkan amplop ke dalam kotak makanan tersebut tanpa sepengetahuan Echa dan Ikhsan karena mereka tak akan mungkin mau menerima pemberian uang dari nya.
Echa tersenyum senang, akhirnya anak-anak mereka bisa makan enak seperti yang ia makan.
"Maaf aku tak bisa mengantarmu Cha, aku ada urusan dengan Desainer lain sekarang" ucap Maharani dengan wajah sedikit menyesal.
"Tidak apa-apa Kak, terima kasih sudah mau menerima kami, dan memberikan makanan lezat buat keluarga kami" ujar Echa.
"kalian hati-hati lah di jalan" Maharani lalu pergi meninggalkan mansion.
"Ehm Ra, Bibi mau minta plastik saja buat bungkus makanan ini, kalau pakai kardus akan sedikit ribet menurut Bibi" ucap Echa.
"Terserah bibi saja, ambilah plastik di dapur, pasti banyak."
Echa pun kembali memindahkan makanan dari dalam kotak ke plastik namun tangannya terhenti saat amplop putih menyembul di pinggir kotak.
"Apa ini Pa" bisik Echa pada Ikhsan.
"Entah Bu, coba buka lah."
"Ya ampun Paaa...ini uang Paa..."tangan Echa bergetar saat berpuluh lembar kertas berwarna merah berada dalam amplop tersebut.
"Ada apa Bi? Om?" tanya Andra yang kebetulan melewati mereka.
"Ini nak Andra, ada amplop di kotak makanan yang Kak Maharani beri untuk kami, apa mungkin tak sengaja kebawa? Tolong kasihkan kembali untuk Kakak ya.." ujar Ikhsan lembut.
Andra tertawa, hatinya sungguh haru di jaman sekarang ini masih ada orang se jujur dan se polos mereka berdua.
"Om, Bi...Mommy tak akan se teledor ini menyimpan uang, pastilah karena memang Mommy sengaja me naruhnya untuk kalian, terima lah kalian pantas menerima nya" ujar Andra bijak.
"T tapi Nak ini terlalu banyak, kami bahkan takut melihatnya" Echa masih tampak bergetar tangannya, belum pernah ia melihat uang sebanyak itu.
Andra mengambil ponsel dan mengetik sesuatu lalu mengirimnya ke Maharani.
Dan senyumnya terbit setelah ada notifikasi balasan pesan.
"Lihatlah Om, Mommy memang menaruh uang itu untuk kalian, katanya untuk modal usaha warung makan yang Bi Echa inginkan" terang Andra.
__ADS_1
Echa dan Ikhsan saling memandang dengan kedua mata berjaca-kaca.