Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU 85


__ADS_3

Pagi menjelang, dapur mansion sudah mulai sibuk dari pukul lima.


Maharani selalu menyempatkan diri untuk menikmati sarapan bersama Andra.


Begitupun pagi ini, ia sudah menunggu sang putra dengan wajah sumringah.


"Pagi mom?" sapa Andra lalu duduk di kursi disebelah Maharani.


"Bi, tolong panggilin Wanto di kamar atas bi."


Maharani memandang Andra dengan kedua alis mengerut.


"Siapa Joy?"


"Dia karyawan Resto mom, tadi malam pulang kemalaman dan ketinggalan angkot, jadi ku suruh nginep di sini."


"Ohh, mana dia, suruh sarapan bareng sekalian."


Wanto dengan langkah pelan menuju ruang makan di mana sudah duduk Maharani bos sekaligus pemilik restoran tempatnya bekerja.


"Ayo To, buruan sudah siang" hardik Andra.


"A s saya biar makan nanti saya Den, Nyonya."


"Haaiiisss lu sok jual mahal ah, udah cepetan sarapan se adanya, yang penting perut nggak kosong."


Glek.


Seadanya?, bagaimana bisa seperti ini di katakan seadanya,batin Wanto takjub.


Ada omelet, sandwich, nasi goreng dan entah apalagi jenis makanan yang memenuhi meja makan, dan itu masih di bilang seadanya, batin Wanto, gejolak jiwa miskinnya meronta.


Sepiring nasi goreng menjadi pilihan Wanto.


Pemuda lugu tersebut tampak kaku saat menyuap makanan ke mulutnya.


Beberapa kali Maharani melirik pemuda polos tersebut.


Putranya tak akan mungkin dekat dengan seseorang jika orang tersebut tidak istimewa, batin Maharani.


"Makan yang banyak To, jangan sungkan" ujar Maharani lembut.


"I iya Nyonya."


Andra mengunyah Sandwich dengan sabar, biasanya ia akan makan sambil mengemudikan mobilnya, namun kali ini keberadaan Wanto membuatnya harus menyelesaikan sarapan di kursinya.


"Lu makan kayak tuan putri aja To" ucap Andra.


Bukan sengaja memperlambat tapi Wanto ingin sedikit menikmati sarapan luar biasanya pagi ini.


Duduk bersama satu meja dengan seorang Desainer terkenal dan menikmati sarapan, nikmat mana lagi yang kau dustakan, batinnya.


"Joy mommy berangkat dulu nak, Wanto habiskan sarapanmu baru berangkat, jangan dengarkan ocehan Joy" ucap Maharani membuat hati Wanto menghangat.


Meski hidup bergelimang harta mereka sama sekali tak memandang rendah pada dirinya, bahkan Wanto merasa di terima kehadirannya.

__ADS_1


"Sudah Den ayo kita berangkat" ucap Wanto setelah membereskan piring dan gelas kotor ke dapur mansion, niat untuk mencuci terpaksa ia urungkan setelah di larang oleh bibi di dapur.


Andra bergegas ke garasi mansion di ikuti Wanto di belakangnya.


Senandung Andra lirih mengikuti lagu yang ia putar.


"Lu kesambet apa To, tumben kalem."


Wanto menggeleng pelan.


"Saya hanya ingin ngucapin banyak terima kasih pada Den Andra dan Nyonya, karena sudah mau menerima untuk menginap sekaligus sarapan di rumah Den Andra" ucap Wanto lirih dan tampak haru.


"Ish lu apaan si To, lebay, biasa aja kali" ujar Andra santai.


Wanto hanya tersenyum masam, pikir bosnya itu adalah hal biasa namun bagi Wanto, itu adalah hal yang sangat membahagiakan mungkin terjadi sekali seumur hidupnya, dan ia akan tetap mengenang hari ini sampai kapanpun.


Suasana resto masih tampak sepi, bergegas Wanto turun untuk mempersiapakan sesuatunya di dapur.


Mata Andra mengedar seluruh area parkir, tak ada mobil Zara, apa dia belum datang, batinnya.


Bergegas langkahnya ia ayunkan ke dapur mansion, barangkali Zara sedang membuat minuman, pikirnya.


**********


Revan masih fokus memandang lekat kearah dua lembar foto di genggamannya.


Ia tahu bahwa itu adalah foto Zara kecil bersama kedua orang tuanya.


Revan mengenal baik, senyum manis itu.


Dan rasa benci yang Zara rasakan pada sang ayah ia gambarkan dengan mencoret wajah foto lelaki tersebut.


Glek.


Andai apa yang di katakan Zara adalah benar bahwa mereka adalah saudara satu ayah, maka lelaki itu juga adalah ayahnya, batin Revan.


Ia meremat satu lembar foto berikutnya, sambil merutuki anak buahnya yang bekerja tak memuaskan, bidikan angle yang sama sekali tak ia harap.


Di mana hanya terlihat kepala bagian belakang dan punggung, terlihat seorang pria berjas hitam sedang berdiri di samping makam.


Makam?, pekik Revan dalam hati, lalu kembali membuka kembali foto yang sudah di rematnya.


Tak salah lagi, itu adalah makam ibu Zara, Revan tahu betul letak dan suasana yang tergambar dalam foto tersebut.


Jadi selama ini lelaki tersebut masih berada tak jauh dari mereka.


Revan masih tak ingin menyebutnya sebagai ayahnya, sebelum kebenaran terungkap jelas.


Tok tok tok.


"Masuk"


"Maaf pak, tolong minta tanda tangan untuk lembar spec yang akan di pasang di bagian lapangan produksi" Diego menaruh lembaran data di atas meja kerja atasannya.


"Lu nggak mau nunggu Go?" tanya Revan karena di lihat karyawannya hendak pergi.

__ADS_1


"Ehm, mungkin bapak akan mengecek dahulu sebelum tanda tangan, dan nanti saya akan kembali" terang Diego dengan bahasa baku.


Ia tak ingin lagi mendapat tatapan intimidasi dari Roy, asisten bertampang bak singa afrika itu, meski saat ini pria itu tak berada dalam ruangan Revan.


"Tidak, kau tunggu saja di sini, aku akan langsung menanda tanganinya."


Karena memang semua sudah di cek oleh Roy sang asisten maka Revan hanya perlu menandatanganinya langsung.


Ceklek.


Hati Diego tiba-tiba mencelos saat Roy memasuki ruangan.


Tatapan dingin bagai hendak membekukan ruangan terasa jelas dari kedua matanya.


"Ini Go, semua sudah di tanda tangani" Revan menyodorkan map dan langsung di sambar oleh Diego cepat.


Ia ingin segera meninggalkan ruangan sesegera mungkin.


"Ada apa Roy?" Revan menatap asistennya penuh selidik.


Roy sungguh jelas memperlihatkan tatapan permusuhan pada Diego.


"Tidak bos, hanya saya tidak terlalu suka dengan karyawan baru itu, ngelunjak" Roy sengaja menaikan nada saat mengucapkan kata 'ngelunjak'.


Revan memutar pandangannya ke arah lain.


Ia tak ingin karyawannya saling membenci tanpa alasan, begitu pun yang terjadi saat ini, Roy entah mengapa terlihat begitu tak menyukai Diego, meski pemuda tersebut tak melakukan satu alasan pun yang membuatnya marah.


************


"Ra, kamu tidak bawa mobil?" tanya Andra yang baru sempat menemui Zara karena kesibukannya.


"Tidak kak, aku bangun telat, takut kena macet, aku naik ojek online."


Seringai kecil keluar dari bibir bergelombang Andra.


Akhirnya ia memiliki kesempatan untuk mengantarkan Zara.


"Oke pulangnya aku antar" ucap Andra.


"Oke kak."


Dengan langkah penuh semangat Andra melangkah menuju dapur resto.


"Bos girang amat, baru dapet lotre?"


"Hmm, lebih dahsyat dari dapat undian lontre To, pokoknya hari ini gue happy ..."jawab Andra sambil reflek memeluk Wanto tak sadar.


"Oh ah bos, sadar bos, ini saya Wanto bos" pekik pemuda polos itu gusar.


Andra segera mengurai pelukannya saat tatapan beberapa karyawan yang berpapasan melihat ke arah mereka dengan tatapan aneh.


Dengan santai Andra pun pergi meninggalkan Wanto tanpa dosa.


"E b bukan seperti apa yang ada dalam pikiran kalian" ucap Wanto gugup.

__ADS_1


"Memang lu ngerti apa yang ada dalam pikiran kami cih" umpat rekan Wanto.


__ADS_2