
"Eh, Elu elu sudah pada berubah jadi emak komplek tukang ghibah ya, hah?" tanya Andra kesal karena mendapati kedua sahabatnya saling berbisik di belakangnya.
"Fitnah aja Lu.Tau nggak? fitnah lebih kejam dari pada rebut pacar orang, tauu" protes Juned.
Diego memandang Juned bingung, sebenarnya siapa yang sedang Juned roasting.
Bukan Juned tak tahu, jika selama ini hubungan Zara dan Revan renggang dan terpaksa putus karena orang ketiga, dan orang itu adalah Andra.
Hal itu Juned ketahui dari salah satu anak buahnya, Zara memutuskan Revan dan langsung berpindah ke lain hati, bukan tak mungkin jika Andra lah yang telah memancing Zara untuk bermain api di belakangnya, itulah yang ada dalam pikiran Juned, meski hal tersebut salah besar.
Andra hanya menelan ludah kasar, dari tadi memang fokus pikirannya hanya tertuju pada Zara.
Zara telah mengambil sembilan puluh persen hati dan fikirannya, dan yang lain ....serasa nomor sekian puluh baginya.
Dua orang pelayan cafe datang dengan makanan di nampan mereka.
Andra dan Diego saling pandang, tak biasanya pelayan datang membawa makan sebelum mereka memesan apapun.
"Gue undang kalian buat cicipin resep terbaru di cafe ini" kalimat Juned menjawab kebingungan kedua sahabatnya.
Senyum lebar terbit dari keduanya, meski telah menjadi kelinci percobaan tapi mereka ikhlas lahir batin.
Tanpa rasa sungkan atau pun basa-basi, keduanya pun mulai sibuk dengan piring mereka masing-masing.
"Whuaaahhh mantul bro "Diego mengacungkan jempol tinggi.
Sedangkan Andra menganggukan kepala tanda lidahnya pun cocok dengan rasa hidangan baru itu.
Juned tersenyum puas, tak perlu pusing-pusing ia mencari orang untuk mencicipi masakannya.
Kedua sahabatnya sangatlah jujur dalam bertutur mengeluarkan isi hatinya.
Lidah mereka sudah seperti netizen yang akan selalu bersabda jujur di segala komentarnya.
Jika Andra dan Diego merasa puas pada makanan itu maka Juned pun akan siap me launching menu terbarunya sebagai menu baru di cafe.
__ADS_1
Saat ketiga pria tampan itu sedang menikmati sore mereka dengan berkumpul bersama maka lain halnya dengan Revan.
Ia duduk diam seribu bahasa, setelah pulang dari kantor, sang ibu menyambutnya di ruang tengah dengan tatapan tajam.
"Ibu mau bicara sama kamu nak" ucap Reni serius.
Mungkin inilah saatnya ia mengungkapkan semuanya pada sang putra satu-satunya, rahasia tentang kisah hidupnya yang ia tutup rapat selama ini.
Revan duduk dan mulai memasang pendengaran dan hatinya se siap mungkin.
Entah cerita apa yang akan sang ibu katakan, yang jelas sepahit apapun itu, Revan akan coba menerimanya dengan lapang dada.
"Sebelumnya, maafin Ibu karena baru bisa menceritakan padamu sekarang, siap tak siap memang harus Ibu katakan. Ibu begitu merasa berdosa pada mereka, istri dan putri Gunawan, orang tua dari Zara.Ibu mengira luka hati ibu karena meninggalnya ayah mu dapat terobati jika Ibu kembali bersama cinta pertama ibu, yaitu Gunawan, dan karena ke egoisan Ibu yang ingin merajut kembali cinta pertama ibu, tanpa memikirkan bahwa Gunawan pun sudah memiliki kehidupannya sendiri,"
"Tapi apa...." Reni mengisyaratkan tangannya agar Revan tak memotong ceritanya.
"Memang saat itu Ibu yang sangat egois dan Ibu akui itu, Ibu dengan tega merebut Gunawan dari istri dan anaknya. Dan karma pun ibu dapatkan, setahun hidup kembali bersama dengan cinta pertama ibu, yang Ibu kira akan penuh kebahagiaan ternyata salah, hidup Ibu terasa hambar, cinta kami yang mulanya begitu menggelora ternyata telah hilang, Gunawan sangat dingin pada Ibu, cinta dan kasih Gunawan ternyata sudah sepenuhnya milik keluarganya.Kami akhirnya kembali berpisah secara baik-baik setelah satu tahun hidup bersama, Ibu kira setelah itu Gunawan kembali lagi ke keluarga kecilnya, namun ternyata ibu salah, Gunawan menghilang tak ada kabar berita, hingga saat kau memperlihatkan foto pria ber jas itu yang tak lain adalah Gunawan, baru ibu selidiki bahwa Dia tak pernah kembali lagi ke keluarganya setelah berpisah dari Ibu, dan Ibu pun baru tahu jika istrinya sudah meninggal setelah kepergian suaminya, dan yang membuat rasa bersalah ibu begitu besar, putrinya hidup sebatang kara, berjuang untuk hidup di tengah kerasnya dunia, Ibu sangat berdosa Van hiks, Ibu berdosa pada mereka."
Air mata keluar dari sudut mata yang telah keriput itu.
Wajar saja jika sampai detik ini hancur hatinya masih tak terobati, kebencian pada wanita perebut kebahagiaan keluarganya membuatnya shock saat wanita itu datang dan memohon maaf.
"Ibu begitu berdosa Van hiks, apa yang harus ibu lakukan untuk bisa mendapatkan maaf dari Zara huuu huu huu" tangis Reni semakin keras.
Revan memeluk sang ibu erat" Mungkin Zara butuh waktu Bu, biarkan dia menenangkan hatinya dulu, aku yakin, hati nya tak akan tega menolak permintaan maaf tulus Ibu, sabarlah Bu..." ucap Revan sambil mengusap punggung ibunya.
"Ibu istirahatlah dulu, tenangkan pikiran, aku tahu pasti Zara akan memaafkan Ibu."
Revan mengurai pelukannya saat getaran ponsel terasa dari saku celananya.
"Maaf Bu, aku ke kamar dulu."
Reni mengangguk pelan sambil mengusap air mata dan ingus dari hidungnya yang me merah.
Revan menutup pintu kamarnya rapat, ia memang berpesan bahwa Wisnu agar mengabarinya tentang kondisi Zara malam ini.
__ADS_1
"Apa an?" tanyanya pada Wisnu.
"Ck ketus amat Lu, jadi males Gue ngasih kabar" balas Wisnu kesal.
"Heum, serah Lu deh, mungkin Gue juga nggak usah lagi kirim Lu tranfer mungkin ?" ledek Revan licik.
"Sialan Lu, di mana sekarang Lu?."
"Di rumah, kenapa?."
"Ehm, besok rencananya Zara mau gue ijinin pulang, baiknya pagi apa sore aja?"tanya Wisnu ringan, bukan tanpa alasan ia menanyakan hal itu pada Revan, karena dari pagi hingga sore Andra akan selalu setia menunggu Zara di rumah sakit.
"Kenapa musti nanya Gue, Elu kan Dokternya."
"Oke deh, jangan protes kalau besok pulangnya Zara pas ada Andra di sini" jawaban santai Wisnu sontak membuat darah Revan mendidih.
"Sore aja, setelah tu cowok pergi, jadi Gue yang akan mengantarnya."
Wisnu tersenyum puas "Oke deh."
"Eits, lu harus hubungi Gue dulu, sebelum suruh Zara pulang"
"Ocrehh."
Andra pun menutup ponselnya dan langsung menghubungi sang asisten.
"Gimana mobilnya, apa sudah selesai di perbaiki?" tanyanya pada Roy.
"Sudah bos, mobil Nona Zara sudah kembali seperti semula, mungkin karyawan bengkel akan mengantarkan besok siang."
"Bagus, karena Zara akan pulang besok sore, Gue ingin mobilnya kembali mulus dan tanpa kereusakan apapun."
"Siap boss."
Revan tersenyum puas, kerja asistennya itu memang selalu bisa di andalkan.
__ADS_1
Sengaja Revan meminta Roy untuk mengurus perbaikan mobil Zara yang kena kecelakaan, sebenarnya ia ingin membelikan yang baru namun Dewi melarangnya, Zara tak akan menerima jika sampai mobil kesayangannya berubah, itu adalah mobil kenangan dari hasil keringatnya, dan akan ia rawat sampai kapanpun, ucap Dewi kala itu.