
Andra hanya tersenyum masam saat menyalami Dewi, tatapan matanya terlihat kurang bersahabat tak seperti biasanya.
"Maaf, Tante baru bisa jenguk kamu Ra, Tante baru tahu tadi malam saat Andra baru pulang." Maharani bertutur lembut dengan wajah penuh sesql.
"Tidak apa-apa Tante, luka ku juga kecil kok dan terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk datang ke rumah sakit" ucap Zara ramah.
Maharani menatap sang putra yang masih saja diam di tempatnya berdiri tanpa menyapa Zara.
"Ndra tolong kamu taruh buah-buahan ini ke meja" titah Maharani membuat Andra tergagap.
"Biar saya saja Tante, jadi ngerepotin nih" ucap Dewi, lalu mengambil bungkusan di tangan Andra.
"Ah hanya buah-buahan dan oiya Wi tolong sop nya taruh di piring, mumpung masih hangat, biar Zara memakannya, Tante bawa banyak kok, kamu juga makan ya Wi."
"Terima kasih Tante" Dewi mengangguk tulus.
"Oiya Kak Andra, mana kemarin temennya yang cantik itu?" tanya Dewi sambil dari sudut matanya mrlirik ke Andra tajam.
Dari keterangan yang Zara katakan, Gadis cantik yang bersama pria tampan itu adalah putri seorang Menteri yang juga temannya waktu kuliah.
Maharani memandang sang putra yang tampak salah tingkah.
"Siapa Ndra?" tanya Maharani penuh selidik, rupanya sang putra sedang bermain api, ia tak mau nantinya akan membakar dirinya sendiri.
"A ehm itu Fitri Mom, dia baru pulang dari x, dan kebetulan kemarin keluarganya mampir ke resto kita."
Andra menjelaskan secara gamblang.
Sementara Maharani kini menarik nafas panjang.
Rupanya ada kesalah pahaman di antara Zara dan putranya, yang tentu saja itu bermuara dari Joy sendiri.
Tak ingin memperkeruh keadaan, Maharani pun mendekati Zara lalu mengusap punggung tangannya.
"Dia hanya teman Joy yang sudah lama tidak bertemu, ayo Ra kamu makan sop ini" Maharani mengambil mangkuk berisi sop yang di bawanya dari mansion.
Zara hanya menurut saat Maharani menyodorkan sendok ke mulutnya.
Hanya teman, tapi tangannya nggak pernah lepas pegangan, kaya nenek-nenek mau nyebrang aja, Dewi membatin geram.
Ia tentu saja akan memasang badan untuk sahabatnya, jika ada yang menyakiti hatinya maka akan berhadapan dengan seorang Dewi.
Maharani menaruh mangkok di atas meja pasien setelah Zara menghabiskan sop nya, Andra dengan sigap menyodorkan segelas air minum ke Zara.
Andra merasa bagai seorang pesakitan yang sedang duduk di kursi yang mendapat tatapan dari seorang hakim yang siap mengadilinya.
Dan ia pun tak tahu kenapa Zara sejak kemarin mendiamkannya, entah kesalahan apa hingga ia menghukumnya seperti itu.
Maharani pun merasakan aura penuh rasa canggung antara Joy dan Zara, bibirnya tersenyum tipis, mungkinlah ini terjadi karena rasa cemburu di hati Zara karena melihat Joy mengajak teman wanitanya, Maharani membatin.
"Ra, Tante nggak bisa jenguk kamu lama-lama, Tante ada urusan di butik, ada customer yang mau pesan baju pengantin" terang Maharani.
"Ehm iya Tante, nggak apa-apa, hati-hati di jalan Tante."
__ADS_1
Maharani mengecup puncak kepala Zara lembut, lalu melangkah ke luar ruangan.
"Ra, a k u juga pamit dulu, nanti sore..."
"Lho kamu mau ke mana Joy?" tanya Maharani pada sang putra yang hendak mengikutinya.
"Mau antar Mommy" jawab Andra polos.
"Orang Mommy mau di jemput kok, mereka sudah Mommy bilangin suruh nunggu di parkiran rumah sakit, jadi kamu nggak usah anter Mommy, kamu temenin Zara di sini" jelas Maharani panjang.
Andra menggaruk kepalanya yang tak gatal, di sisi lain hatinya merasa senang namun ia juga merasa serba salah, sampai saat ini Zara masih mendiamkannya.
"Wi, Tante mau minta tolong, anterin Tante sampai gerbang ya" Maharani ingin memberi kesempatan pada sang putra untuk berbicara pada Zara.
Dewi tergagap, lalu mengangguk pelan.
Sepeninggal Dewi dan Maharani, ruangan menjadi hening, Andra bingung untuk memulai pembicaraan sementara Zara merasa enggan melihat wajah tampan yang sudah membuat hatinya panas dingin.
Hatinya begitu sesak saat di depan matanya Andra berpegangan erat dengan gadis lain, meski mereka terikat dengan kisah palsu, namun Andra sudah mengungkapkan isi hatinya bahwa rasa cinta di hatinya adalah tulus, lalu apakah yang telah di ucapkannya hanyalah sandiwara belaka, ucap batin Zara.
"Ehm hmm, gimana sakitnya Ra?" Andra memecah kebisuan.
"Sudah mendingan Kak" jawab Zara singkat.
Kembali suasana hening, Andra seakan kehabisan kata-kata di depan Zara.
Drtt drrttt.
Ponsel Andra berdering dan ada nama Fitri memanggil.
"Kenapa nggak di angkat Kak?" tanya Zara karena Andra hanya diam tak menjawab panggilan dari ponsel yang terus berdering.
"Baiklah, aku keluar dulu" ijin Andra lalu keluar ruangan.
Kini Zara yang tinggal sendiri dengan dada bergemuruh tak karuan.
Dari layar ponsel Andra yang menyala,ia sempat melihat nama Fitri memanggil.
Jika bukan suatu hal yang rahasia, kenapa harus keluar dari ruangan segala, geram hati Zara kesal.
Sementara Andra terpaksa membuat seribu satu alasan agar Fitri membatalkan kedatangannya ke mansion.
Meski ia sudah mengatakan bahwa sang Mommy sedang di butik untuk menemui klien, tapi gadis itu tetap bersikukuh akan datang dan menunggu di mansion.
Sedangkan dia saat ini sedang di rumah sakit, mana mungkin ia mengatakan sejujurnya pada gadis itu, bisa-bisa ia pun akan menyusulnya ke Rumah sakit, batin andra bingung.
Akhirnya Andra pun kembali ke ruangan setelah bersandiwara dan mengatakan bahwa ia dalam perjalanan dan ke jebak macet, agar Fitri percaya ia pun memfoto dirinya yang berada dalam mobil.
Pria tampan itu bernafas lega, namun kali ini ia harus menelan ludah kasar,sesampainya di ruangan, Zara tengah memandang tajam ke arahnya dengan tatapan penuh selidik.
Tok tok tok.
Perhatian keduanya kini beralih ke arah pintu.
__ADS_1
Ceklek.
Seorang pria dengan tubuh tinggi tegap dan berwajah bule Turki memakai baju dokter dengan dua perawat di belakangnya.
Glek, mata Zara memandang tak berkedip pada Dokter tampan tersebut, membuat darah Andra terasa mendidih, ingin ia mendorong dokter itu kembali keluar ruangan agar mata indah Zara tidak terus menatap ke arahnya.
"Selamat siang Nona Zara" sapa Dokter dengan ramah.
Cih sok lembut, Ucap batin Andra sinis.
"S siang Dok."
"Maaf kami akan memeriksa anda" ijin Dokter.
"Silahkan Dok."
"Apa masih ada keluhan Nona Ara?" tanya Dokter ramah.
Ck, ngapain pake ganti-ganti nama orang segala, sok imut lu.., kembali batin Andra merutuki sang Dokter.
"Hanya tinggal kepala yang masih terasa sedikit pusing Dok" tutur Zara jujur.
Sementara Andra terus menatap gerak-gerik Dokter yang sangat mengganggu matanya.
Darahnya semakin panas hingga ke ubun-ubun, saat Dokter itu menyentuh tubuh Zara.
Kedua perawat yang berada di belakang dokter memandang Andra dengan gemas.
Orang tampan kalau sedang cemburu sangatlah imut, pikir salah satu perawat yang selalu melihat ke arah Andra.
Tok tok tok.
Revan muncul dari pintu dan memandang Dokter tampan dengan senyum ceria.
"Ternyata Elu yang jaga hari ini?" tanyanya lalu mengulurkan kepalan tangannya dan di sambut oleh sang Dokter.
Kedua pria itu tersenyum lebar lalu berpelukan sejenak.
"Wahh, rupanya Nona ini yang membuat Elu malam-malam bikin geger Rumah sakit, sialan Lu" umpat pria berjas putih tersebut.
Revan tersenyum masam, karena sahabatnya itu belum mengetahui kisahnya semua.
"Oiya kenalin Ra, ini Dokter Wisnu, sahabatku semasa kuliah."
Zara mengangguk lalu menyambut uluran tangan sang dokter.
"Ck, udah lepasin" Revan mengurai tangan Dokter Wisnu yang menjabat tangan Zara cukup lama.
"Ha ha ha, takut amat Lu, oiya dia ..."Wisnu memandang Andra.
"Ehm saya Andra, pacar Zara" Andra dengan penuh percaya diri mengulurkan tangan pada Dokter Wisnu.
Kini Dokter tampan itu memandang Revan lalu beralih ke Andra bergantian.
__ADS_1
Rupanya ada cinta segitiga, batin Dokter Wisnu dengan senyum smirk.