
Andra akhirnya bisa bernafas lega, ia baru bisa mengantarkan Fitri pulang dengan iming-iming akan di antarkan ke bandara besok untuk menjemput Ayahnya.
"Oke aku jemput kamu atau, kau yang jemput aku besok?" tanyanya antusias.
"Aku jemput kamu" jawab Andra datar sambil menyalakan mesin mobilnya lalu melaju ke rumah Fitri.
Sementara di tempat lain.
Zara dan Dewi masih asik menikmati weekend mereka di apartement.
"Eh Ra, enak yah punya orang tua kaya, bisa jalan-jalan terus ke luar negri, pulang bawa banyak oleh-oleh"
"He eum, kaya Bos Manu, gila kan coklat se enak ini nggak ada yang makan, sayang banget tuh" timpal Zara.
Dewi mengangguk setuju.
"Eh emang atasan Manu tidak punya anak, atau se enggaknya keluarga gitu" ujar Dewi.
"Entahlah Wi" tatapan Zara menerawang jauh.
Drrt.
"Ra, aku sedang di rumah Ayahku, dan beliau masak ini banyak, kalian mau nggak?" tanya Manu beserta foto satu ikan mas besar yang di pepes.
Mata Zara berbinar bahagia.
"Wi lihat ini, Lu mau nggak?"
Tunjuk Zara menunjukan layar ponsel ke Dewi .
Dewi mengangguk antusias.
"Mau Ra, mau."
"Iya kita mau Nu..." pesan yang Zara kirim ke Manu di akhiri emot cium jauh.
Manu tersenyum gemas lalu dengan penuh semangat pergi dari apartement Gunawan.
Rupanya hari ini Ayah angkatnya masak banyak dan membagikan pada Gunawan.
Terbersit dalam hati Manu, di tengah rasa rindu yang selalu mendera nya, alasan mengantar pepes ikan adalah salah satu hal paling logis yang bisa ia lakukan, demi mengobati rasa rindunya pada gadis yang diam-diam telah menghuni hatinya.
"Kemana Nu?" tanya Gunawan yang melihat tingkah aneh sang asisten begitu semangat.
"Ehm mau ambil pepes lagi Bos."
Manu bergegas pergi.
Empat puluh menit akhirnya Manu datang membawa bungkusan.
Zara dan Dewi yang sudah menunggu di lobi pun berteriak girang.
Bibir Manu menyunggingkan senyum tipis, membuat Dewi semakin salah tingkah dan malu-malu kucing.
"Ya Tuhan, kenapa kau ciptakan mahluk sesempurna ini jika bukan untuku hiks" bisiknya lirih tapi masih bisa di dengar Zara.
__ADS_1
"Dari mana Lu tahu kalau dia bukan untukmu?" tanya Zara, pun ikut memelankan suaranya.
"Dari gerak dan sorot matanya, kau sudah menjadi pemilik hatinya" jawab Dewi pasti.
Zara menatap Dewi tajam, namun tak bisa menimpali kalimatnya karena jarak mereka sudah cukup dekat dengan lelaki yang mereka bicarakan.
Manu menyerahkan bungkusan pada Zara.
Tercium aroma wangi yang sangat menggugah selera.
"Aduhai Nu, Ayahmu sungguh pintar memasak, dari aromanya saja pastilah rasanya sangat lezat" ucap Zara dengan mendenguskan indra penciumannya.
"Kalau kau ingin menikmati masakan Ayahku lagi, mampirlah kapan-kapan" ucap Manu dengan senyum tipis mempesona.
"Benarkah?"
Manu mengangguk pasti, kini ia mulai berencana untuk belajar masak pada sang Ayah angkat.
"Oiya Nu, apa Bosmu sudah menikah?"
"Sudah."
"Apa punya anak juga?"
"I iya punya, satu orang putri yang sangat ia sayangi, namun istrinya sudah meninggal"
"Wah sayang sekali" sesal Zara.
"Kenapa kamu tanya Bos ku Ra?"
Zara menggeleng cepat.
Manu mengangguk pelan.
Ya, dia sangat menyayangi putri satu-satunya itu, begitu sayangnya hingga dia rela menanggung rasa penuh sesal seumur hidupnya, ia hanya ingin melihat putrinya selalu tersenyum.
"Tapi sayang, karena suatu hal, mereka tidak bisa bersama" ucap Manu lirih.
"Kenapa Nu?"
"Ada kesalah pahaman hingga mereka harus terpisah."
"Tapi satu yang pasti, Pak Awan sangat menyayangi putrinya, tak ada hari tanpa rasa rindunya pada sang anak."
"Jika menyayangi putrinya lalu kenapa dia tidak berusaha untuk kembali bersatu?"
"Pak Awan tentu sangat berharap seperti itu, hanya saja kesalah pahaman itu harus di selesaikan."
Zara mengangguk-anggukan kepalanya.
"Semoga saja mereka akhirnya kembali bersama" ucapnya lirih.
"Kenapa kau tanya tentang Pak Awan Ra?"
"Hm tidak, aku hanya sedikit penasaran dengan bos mu yang baik hati itu, jarang lho atasan yang habis dari perjalanan bisnis ke luar negri, pulang bawain oleh-oleh untuk anak buahnya."
__ADS_1
"Memang Pak Awan adalah orang yang sangat baik, apa kau ingin bertemu dengannya?"
"Ah mana mau beliau bertemu denganku, beliau orang penting dan pastinya sangat sibuk, mana mau bertemu denganku yang hanya rakyat jelata ini" terang Zara miris.
Manu tersenyum hangat.
Dia akan sangat bahagia jika kalian bertemu kembali, maafkanlah Ayahmu Ra, kalian memang seharusnya bersatu lagi, sudahi kecewamu, maafkan dia dan hiduplah kalian bersama dalam damai dan saling menyayangi.
"Oiya Nu tolong ucapkan salamku untuk Ayah angkatmu juga, dan sampaikan rasa terima kasihku padanya."
Manu mengangguk.
"Aku pamit dulu Ra, kalian cepat makanlah, selagi masih hangat" pesan Manu sebelum pergi.
"Bye Nu" ucapnya sambil melambaikan tangan.
"Ra..."
"Heum"
"Sepertinya Manu menyukaimu."
"Ish kau ini, kami hanya berteman kok."
"Dari mana kau kenal dia."
"Tentu saja dari..." kalimat Zara menggantung karena sampai detik ini ternyata ia pun belum tahu asal usul Manu.
Dewi menatap Zara intens.
"Jangan bilang Lu belum tahu siapa dia sebenarnya?" tanyannya penuh selidik.
"Aku pun belum sempat menyakan padanya Wi, pernah aku bertanya tapi belum sempat ia jawab."
Zara dan Dewi saling pandang, bagaimana mungkin setelah mereka tampak dekat dan akrab namun Zara belum tahu siapa dan dari mana Manu berasal dan bagaimana ia bisa mengenal Zara dengan baik.
"Tapi ku pikir Manu tidak bermaksud jahat Wi, kau lihat saja sendiri, dia begitu baik dan perhatian pada kita, dan dari tatapannya ia tulus kok."
Zara berucap lirih seraya berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Baik sii baik Ra, tapi dalamnya hati orang emang Elu tahu, mana tahu dia seorang sikopet yang nyamar jadi penggenar Elu."
Cerca Dewi sinis, meski dalam hatinya ia pun menyadari sikap Manu yang tulus pada mereka.
"Ah sudahlah, ayo kita makan dulu, masalah dia siapa, ntar deh pikirin, Lu harus coba masakan Ayahnya, mantul banget Wi."
Keduanya memasuki apartemen dan segera mengambil peralatan makan.
"Waaahh, daebak sungguh bukan kaleng-kaleng rasanya Ra."
Dewi mengunyah ikan pepes dengan penuh perasaan, ia menimang rasa yang belum pernah ia rasakan kelezatannya di mana pun.
"Sungguh ini bukan beli dari restoran Ra?" tanya Dewi masih tak percaya.
"Benar Wi, memang ini masakan dari Ayah angkat Manu, akupun pernah merasakan masakannya beberapa hari lalu, memang senikmat ini Wi" ucap Zara yakin.
__ADS_1
"Elu pernah merasakan lezatnya masakan Ayah Manu? Di mana, kapan?"
Tanya Dewi beruntun, ia tak percaya sahabatnya sudah cukup dekat dengan pria tampan itu bahkan pernah singgah ke rumah nya.