Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 10


__ADS_3

"Dia?" Lolan mengerutkan kedua alisnya.


"Dia siapa?" tanya Dokter Adit langsung merebut paksa foto berukuran kecil itu dari tangan Lolan.


"Entahlah, fotonya buram," jawab Lolan, Dokter Adit menghela napas lega kala melihat foto itu sudah lusuh dan buram hingga wajah gadis cantik di dalamnya tidak dapat terlihat dengan jelas.


"Sini dompetnya, itu pasti dompet pasienku yang tertinggal," pinta Dokter Adit dan Lolan mengembalikan dompet lusuh itu dengan melemparnya kasar, beruntung dapat di tangkap cepat oleh Dokter Adit.


"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa berseri-seri begitu?"


"Sepertinya aku sedang jatuh cinta," jawab Dokter Adit seraya membayangkan wajah cantik dan lembutnya seorang Ziva.


"Dengan siapa?"


"Dia pasienku, dia sangat cantik dan baik," jawabnya lagi terus membayangkan Ziva.


"Hei! Sadarlah, kau sudah punya tunangan!" Lolan melempar wajah Dokter Adit dengan sebuah dokumen penting di atas meja.

__ADS_1


"Aku tidak menyukai apalagi mencintainya. Dia hanya wanita pilihan Mommy dan Daddy, aku tidak mencintainya sama sekali. Aku hanya akan menikahi wanita yang aku cintai dan wanita itu harus wanita pilihanku sendiri," tegas Dokter Adit meletakkan kembali dokumen pentingnya di tempat semula.


"Sudahlah, terima saja nasibmu, setidaknya aku punya temen senasib," saut Lolan santai.


"Maksudmu?"


"Bulan depan, aku akan menikah dengan wanita miskin di jalanan. Dan wanita itu adalah pilihan Mommy dan Daddyku," jawab Lolan masih saja santai. Dokter Adit memang menyarankan untuk Lolan menikah agar terapi penyembuhan impotennya bisa lebih maksimal dilakukan. Tapi, Dokter Adit tidak menyangka kalau pernikahan akan terjadi secepat itu.


"Kau setuju'kan? Ingat Lolan, hanya dengan dampingan seorang pasangan kesempatanmu untuk sembuh lebih besar."


"Tentu saja, tentu saja aku setuju," jawab Lolan merebahkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Aku juga sama sepertimu, aku tidak menyukai apalagi mencintainya. Aku berjanji akan ME-NYIK-SA-NYA hingga dia sendiri yang meminta cerai dariku," saut Lolan mengeja dengan nada yang terdengar begitu menakutkan.


"Apa kau gila! Kau bahkan belum melihat wajahnya, bagaimana kau bisa tau bahwa kau mencintainya atau tidak?" Dokter Adit tak percaya dengan apa yang Lolan katakan barusan.


"Yang gila itu kedua orangtuaku. Bagaimana mungkin mereka memilih gadis sembarangan yang akan menjadi Istriku. Aku memang belum pernah melihatnya. Tapi, aku yakin dia bukan tipe idealku. Lagipula, aku tidak yakin terapimu akan sukses."

__ADS_1


"Kau meremehkanku. Lihat saja nanti, aku akan membuatmu merasakan bagaimana rasanya terbang di atas awan," sambung Dokter Adit lengkap dengan ekspresi wajahnya.


"Bukankah kau juga belum pernah merasakannya?" tanya Lolan menyadarkan Dokter Adit bahwa selama ini dirinya menjomblo.


"Sudahlah, lupakan masalah itu. Sekarang, apa tujuanmu kemari?" Dokter Adit merubah topik pembicaraan.


"Itu apa ... Tadi pagi dia berdiri hingga satu menit," lapor Lolan.


"Apa karena alat pompa ini?"


"Bukan karena itu. Sama seperti sebelumnya, aku bermimpi buruk. Biasanya dia berdiri hanya sebentar. Namun, pagi ini berdirinya cukup lama hingga satu menit lebih," jelas Lolan membuat Dokter Adit mengerti. Biasanya, Lolan akan datang berkonsultasi kepadanya, bila dia kembali bermimpi tentang kecelakaan lima tahun lalu. Uniknya, mimpi itu mampu membangunkan senjatanya yang selama ini terus tertidur.


"Berbaringlah, aku akan memeriksanya," titah Dokter Adit sambil menunjuk ranjang. Dia berdiri dari duduknya meminta Lolan untuk berbaring di ranjang khusus.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2