Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 48


__ADS_3

Sinar matahari yang masuk lewat celah-celah ventilasi, membangunkan Xena. Gadis cantik yang masih berusia delapan belas tahun itu mulia mengusap matanya perlahan, mengerjabkan mata hingga pandangannya menjadi jernih.


"Astaga, aku ada di?" Xena langsung bangkit karena kaget dengan kamar yang tidak asing baginya.


Xena memeriksa tubuhnya dan merasa lega saat tubuhnya masih terbungkus kemeja ukuran besar berwarna putih.


"Bukankah semalam aku—" Xena berusaha mengingat kejadian tadi malam, Xena seketika terdiam saat mengingat kejadian semalam, di mana diirnya hampir diperkosa oleh dua pria. Pertama Dokter Adit, dan yang kedua adalah seorang penjahat jalanan.


"Apakah aku sudah dip*rkosa?" seketika air matanya lolos begitu saja, Xena yang polos langsung memeriksa bagian intinya di bawah sana.


"Aku ... Aku sudah diperkosa, hiks," ujar Xena semakin kencang menangis.


Xena melihat ada seragam sekolahnya di atas nakas, ada surat di atas seragam sekolahnya, Xena pun mengambil surat itu dan langsung membacanya.


Tidak usah khawatir, penjahat semalam tidak menyentuhmu sama sekali. Masalah saya yang menyentuhmu, saya akan minta maaf kepadamu secara langsung. Ketika bangun, cepatlah mandi dan bersiap, kamu harus masuk sekolah agar Ibumu tidak curiga. Seragam sudah saya siapkan, saya tinggalkan juga sebuah kartu untuk keperluanmu. Segeralah mandi dan sekolah.


By : Aditya Jonason.

__ADS_1


"Dia kira aku masih butuh uang miliknya! Apa dia kira aku adalah gadis bayaran, yang ditiduri lalu mendapatkan uang. Aku tidak butuh uangmu. Tapi, aku butuh tanggung jawabmu!" ketus Xena kesal dan langsung membuang blackcard itu ke tong sampah.


***


"Daddy dan Mommy juga ikut?" tanya Lolan kepada kedua orangtuanya.


"Tentu saja, ini'kan terapi pertamamu bersama Ziva. Tentu Daddy dan Mommy akan ikut untuk melihat prosesnya, eh, maksud Mommy perkembangannya," jawab Mommy Nata membuat Lolan hampir tersedak. Lolan hanya mengangguk mengiyakan, karena memang setiap melakukan pengobatan kedua orangtuanya selalu ikut menemani.


"Kamu harus makan yang banyak, Sayang. Agar punya banyak tenaga untuk membantu Lolan," ujar Mommy Nata memasukan begitu banyak lauk ke dalam piring Ziva.


"Oh iya, Mommy ingin memberi tahumu sesuatu. Lolan sudah melakukan operasi dua tahun lalu, seharusnya sudah normal. Namun, entah kenapa senjatanya masih belum bisa berdiri. Kamu tenang saja, terapinya tidak akan yang sulit. Nanti ikuti saja apa kata Dokter. Kamu tidak perlu malu, ya, Sayang. Kan, Lolan sudah menjadi Suamimu sendiri. Kalau Dokter minta elus, tinggal kamu elus, kalau Dokter minta pakai tangan, ya kamu mainin pakai tangan, kalau Dokter minta ****, kamu juga tidak perlu malu untuk meng-emutnya, kalau Dokter minta—"


"Mommy!" bentak Daddy Jackson dan Lolan bersamaan.


"Ada apa?" tanya Mommy Nata seakan tidak berdosa, sedangkan Ziva hanya terdiam dengan kedua pipinya yang sudah semerah tomat. Dirinya bukan anak kecil lagi, tentu dia paham apa maksud ucapan Mommy Nata.


"Kenapa? Kenapa?" tanya Mommy Nata kepada Suaminya dan Lolan dengan mata tajamnya.

__ADS_1


"Kalian berdua juga sudah dewasa, kenapa aku tidak boleh berbicara begitu. Aku kan hanya mengajari menantuku saja. Oh iya, hampir saja lupa, Ziva, kamu bisa kan Sayang?" tanya Mommy Nata dengan isarat tangannya.


"Sudah-sudah, kita berdua sudah selesai sarapan. Kita berdua ke rumah sakit duluan, Mommy dan Daddy nyusul saja," Lolan langsung menyeret Ziva pergi, membuat Mommy Nata tak dapat mengatakan apa pun.


***


"Apa lagi yang kamu tunggu, cepat masuk!" titah Lolan yang sudah ada di dalam mobil, sedangkan Ziva masih di luar karena tak berani masuk ke dalam mobil Lolan.


Walau ragu, Ziva melangkah maju dan segera membuka pintu belakang. "Apa aku ini Supirmu?" tanya Lolan ketus membuta Ziva langsung berpindah ke depan dan membuka pintu depan, kemudian langsung masuk.


Selama di dalam mobil, Ziva hanya diam tidak berbicara sedikit pun. Bahkan dia bernapas pelan, takut di marahi bila didengar oleh Lolan. Suasana lenggang itu begitu mencengkam membuat Ziva merasa benar-benar tidak nyaman. Yang dia inginkan saat ini adalah segera tiba di rumah sakit. Seketika Ziva mengingat Dokter Adit, bukankah yang menangani Lolan adalah Dokter Adit dan itu artinya Ziva akan melakukan semuanya di hadapan Dokter Adit.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2