Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 182


__ADS_3

"Begini, Xena. Sebenarnya gue dan Aldri sudah menikah."


"Apa!" Xena terbelalak kaget.


"Aldir, kau gila!" sahut Adit yang juga tak kalah kagetnya dari Sang Istri.


"Apa salahku? Aku hanya mengikuti apa


yang dia inginkan, aku tidak memaksanya sama sekali. Kalau kalian tidak percaya, tanyakan saja kepada dia," balas Aldri tak ingin disalahkan.


"Cristi, jelaskan sama gue apa yang terjadi sebenarnya? Dia pasti maksa Lo, bukan? Lo nggak mungkin mau dinikahi begitu saja. Lagipula, pernikahan macam apa yang hanya dilakukan tanpa dikatahui oleh orang lain?" sembur Xena murka. Bagaimana tidak, sahabat terbaiknya diam-diam telah menikah dengan seorang pria bajingan seperti Aldri.


"Apa yang Aldri katakan adalah keberasarannya, kami berdua sudah menikah secara sah. Lo bisa lihat bukti dokumen ini," Cristi mengulurkan bukti yang menyatakan bahwa dia dan Aldri benar-benar telah sah menjadi pasangan Suami Istri.


"Cristi," Xena memegang dokumen itu dengan tangan bergetar, kemudian Xena langsung memeluk Cristi dengan eratnya, tetesan air mata meluncur dari sudut matanya tanpa bisa dia bendung lagi.


"Maaf karena gue tidak memberitahumu dan Ana lebih dulu. Karena jika kalian berdua tahu, gue yakin kalian berdua tidak akan setuju," jelas Cristi dan Xena memeluknya semakin erat.

__ADS_1


"Sekarang Lo mau ke mana?" tanya Xena yang memang telah curiga kala melihat koper-koper Sahabatnya itu telah rapi.


"Aldri dipindahkan tugas ke luar kota, sebagai seorang Istri, gue harus ikut ke mana pun dia pergi, ini terlalu mendesak," tutur Cristi tak kuasa menahan tangis, begitu pun Xena, dia telah lebih dulu menangis histeris sedari tadi.


"Lo jahat, Lo tega ninggalin gue dan Ana. Kalau Lo pergi, perusahaan orangtu Lo bagaimana?" tanya Xena melonggarkan pelukannya.


"Sudah dijual, Xena."


"Maksudnya?" Xena kaget.


"Sudah dijual buat bayar gaji karyawan yang lama tidak dibayarkan, buat bayar hutang di bank. Rumah ini juga disita oleh bank untuk pelunasan hutang. Sekarang, gue hanya bisa bergantung hidup kepada Aldri Suami gue," terang Cristi dengan santainya hingga membuat Xena mengerutkan alis heran. Bagaimana mungkin Cristi masih bisa terlihat tenang dengan ujian yang bertubi-tubi menghampirinya.


"Maaf, gue nggak bisa nyusahin kalian semua," keukeuh Cristi.


"Ana masih di persidangan, Lo harus pamit dengannya juga," pinta Xena agar Cristi mengulur waktu.


"Gue dan Aldri akan ketinggalan pesawat kalau tidak berangkat segera. Gue titip salam aja untuknya juga untuk Mommy Adna dan Daddy Jonas, Ibumu dan juga Kakakmu. Maaf, gue nggak sempat pamitan sama mereka semua," ungkap Cristi dengan raut wajah bersalahnya.

__ADS_1


"Lo tuh benar-benar yah, Lo benar-benar jahat," Xena kembali menghamburkan tubuhnya dan memeluk Cristi dengan eratnya.


"Maaf," hanya kata maaf yang terus Cristi ucapkan atas semua keputusan yang telah diambilnya. Keduanya saling berpelukan dengan erat.


Cristi terpaksa harus pergi jauh dari Xena, itu semua dilakukan agar Aldri benar-benar tidak punya kesempatan untuk kembali merebut Xena dari Adit.


Sedangkan Adit tampak senang karena seorang pria yang ingin merebut Istrinya akan pergi jauh darinya. Tapi, Adit juga turut bersedih, karena tahu bahwa Cristi sengaja melakukan itu untuk melindungi Xena.


"Katakan alamat tujuan Lo? Kapan-kapan gue dan Adit akan jenguk Lo di sana," pinta Xena dan Cristi pun menyebutkan alamat rumah barunya nanti.


"Ayo berangkat sekarang!" desak Aldri yang langsung membawa koper-koper milik Cristi ke luar dari rumahnya.


"Gue pasti akan sangat merindukan Lo," Xena memeluk semakin erat.


"Gue yang akan sangat-sangat merindukan Lo, Xena. Jaga diri Lo baik buat gue, bujuk Ana juga jangan sampai dia membenci gue karena pergi tanpa pamit padanya."


"Pasti, gue pasti akan bujuk dia sampai mengerti. Lo juga harus jaga diri baik-baik selama di sana, katakan pada gue bila saja Pak Aldir berbuat macam-macam ke Lo."

__ADS_1


"Iya, itu pasti."


"Maaf, Xena. Gue harap ini bukan pertemuan terakhir kita, gue juga berharap kita masih dapat berjumpa suatu hari nanti, walau kemungkinannya sangat tipis."


__ADS_2