Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 159


__ADS_3

"Sayang, kok aku gendutan, sih," kesal Xena yang kini tengah berdiri di hadapan kaca antiknya, sedangkan Adit tengah merapikan dasi yang melingkar di lehernya.


"Sudah berapa kali aku katakan, Sayang. Kamu itu gitar spanyol," sahut Adit gemes.


"Tapi Sayang, aku ingat seragam ini sangat longgar saat kamu pilihkan untukku. Lihatlah sekarang, sudah ketat lagi, itu artinya'kan aku gendutan, Sayang. Tidak bisa dibiarkan, mulai hari ini aku harus diet," oceh Xena panjang kali lebar.


"Sayang, yang bertambah besar hanya tiga bagian menggoda ini. Makin besar makin menggoda, jadi kamu tidak perlu khawatir. Aku suka ukuranmu yang besar, lagian kamu masih dalam masa pertumbuhan, Sayang. Makan banyak itu penting," imbuh Adit melarang Xena untuk diet.


"Sayang, kamu itu mantan Dokter, kamu tahu obesitas tidak baik," balas Xena tak ingin kalah.


"Oh iya, kamu kan Dokter. Katakan kepadaku makanan apa saja yang tidak boleh dikonsumsi terlalu berlebihan?" lanjut Xena langsung berbalik badan dan berjalan mendekat pada Sang Suami yang ada dibelakangnya.


"Semua hal kalau berlebihan tidak baik, Sayang. Kamu harus tahu satu hal, semua makanan yang disiapkan oleh chief di rumah ini adalah makanan yang sehat, jadi kamu tidak perlu ragu untuk makan apa pun. Sudahlah, ayo turun sekarang, kalau tidak kamu akan terlambat ke sekolah," ajak Adit dan Xena pun langsung meraih tas ranselnya di atas ranjang.


"Tapi Sayang, tetap saja aku perlu diet. Aku nggak mau kamu tinggalin aku karena aku gendut dan buruk rupa," oceh Xena masih berlanjut ketika masuk ke dalam lift. Mendengar ucapan Sang Istri, Adit menatap Xena tajam. Membuat Xena kesulitan menelan salivanya.


"A-aku hanya bercanda, Sayang. Hehe ..." tatapan mata Adit cukup membuat nyali Xena menciut.

__ADS_1


Xena langsung bergelut dengan lengan Adit, memeluknya dengan erat, dengan begitu tatapan Adit yang semula tajam berganti menjadi hangat dan penuh kasih sayang. "Apa perutmu masih nyeri?" tanya Adit sambil mengelus rambut Sang Istri lembut.


"Tidak lagi. Berkat pijatanmu, teh yang kamu buat, dan kompres darimu adalah yang terbaik," puji Xena tersenyum manis memamerkan gigi ratanya.


"Oh iya, Sayang. Kamu kapan mau beli sarung tinjunya?" tanya Xena dengan raut wajah tak sabaran.


"Apa yang kamu pikirkan?" Adit menonyor pelan kepala Xena, walau tak sakit, tapi Xena mengelus kepalanya seakan merasakan sakit.


"Apa yang aku pikirkan, tentunya sama dengan yang kamu pikirkan," balas Xena tersenyum tanpa dosa, membuat Adit menggelengkan kepalanya dengan tersenyum kecil.


"Itu urusanku, lagian masa menstruasimu masih lama," mendengar itu Xena mengangguk tak jelas. Sedangkan Adit tersenyum smirik karena dia sudah memesan berbagai macam jenis sarung tinju, mulai dari yang biasa, berrongga, berstruktur, berjerizi, serta yang berduri seperti yang pernah Xena ceritakan.


Tiba di ruang makan, Adit dan Xena langsung duduk di kursi masing-masing. Di sana, sudah duduk Daddy Jonas dan Mommy Adna.


"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya Mommy Adna yang tahu tentang sakit yang Xena alami semalam.


"Sudah lebih baik, Mommy."

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu. Ini, makanlah sayuran ini, ini bagus untuk mengurangi kram saat menstruasi," tutur Mommy Adna meletakkan sayuran hijau ke hadapan Xena.


"Terima kasih, Mommy," Xena tersenyum kecut. Apa yang Adit katakan tentang chief rumah yang hanya menyediakan makanan sehat memang tidak salah, karena yang ada di atas meja saat itu hanya berbagai macam sayuran, buah, omelette dan juga roti tawar.


Setelah selesai sarapan, Adit dan Xena pun pamit untuk berangkat. Kini, Adit dan Xena telah dalam perjalanan menuju ke sekolah dan kantor mereka yang memang searah.


Beberapa menit kemudian, Mobil pun berhenti di depan sekolah Xena. Xena bersiap akan turun, namun urung karena melupakan sesuatu.


"Ada apa?"


"Uang saku," pinta Xena sambil mengulurkan telapak tangan kanannya.


Adit pun tanpa ragu mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah. Xena menerimanya dengan antusias, tapi dia belum juga turun dari mobil.


"Apa lagi?"


"Cium dulu."

__ADS_1


Adit melirik ke kiri dan ke kanan, setelah merasa aman, Adit pun mulai mendekat ke wajah sang istri, Xena pun siap dengan memejamkan matanya.


Bip, bip, bip ....


__ADS_2