Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 69


__ADS_3

"Percepat kesembuhan Lolan, perusahaan membutuhkanmu sejak lama," pinta Daddy Jonas menatap Putranya serius.


"Baik, Daddy. Aku akan menyelesaikan tugas ini secepatnya, Daddy tidak perlu khawatir."


Setelah berbicang dengan Sang Daddy, Dokter Adit pun pamit pergi untuk menyusul Xena yang sebelumnya dia tinggalkan bersama Sang Mommy.


Tiba di ruang tamu, Dokter Adit langsung menghampiri Xena yang terlihat duduk tak nyaman serta tampak serba salah.


"Sial! Ahh ...." Xena mengapit pangkal pahanya kala rasa hangat sekaligus gatal dia rasakan saat itu juga, tepat setelah minum jus dari Mommy Adna.


"Xena, kamu kenapa?" tanya Dokter Adit heran. Xena tak menjawab, tapi dia langsung memeluk Dokter Adit erat sambil menggosok-gosokan tubuhnya ke dada bidang Sang Dokter yang seketika syok.


"Mommy, Xena Mommy apakan?" tanya Dokter Adit menatap tajam Sang Mommy yang duduk santai di hadapannya.


"Itu hukuman untuknya, beraninya membohongi Mommy. Sana, bawa dia ke kamarmu, biar sekalian Mommy dapat Cucu beneran," seru Mommy Adna yang tampak sangat mengharapkan kehadiran seorang Cucu. Mengetahui kebohongan Xena, membuatnya mendapatkan ide agar sekalian calon menantunya itu hamil bersama Putra kesayangannya.

__ADS_1


"Astaga, Mommy!" sergah Dokter Adit murka, dia langsung berdiri, menggendong Xena yang terus membuatnya kualahan.


"Menantu Mommy mau kamu bawa ke mana, Adit? Mainnya di kamar kamu saja!" teriaknya meminta Sang Putra untuk membawa Calon Menantunya ke kamar di Mansionnya.


"Adit!" teriaknya lagi, namum tak Dokter Adit gubris sama sekali. Dia tetap fokus membawa Xena keluar dari Mansion untuk di bawa menuju Apartemennya, karena hanya di Apartemen dia menyimpan obat yang akan dia berikan kepada Xena.


"Ada apa, Sayang? Apa yang terjadi? Menantu kita kamu apakan?" tanya Daddy Jonas penasaran dengan perbuatan bejat Sang Istri.


"Hehe ... Calon Menantu kita aku berikan obat per*ngsang, habisnya mereka berani-beraninya membohongi kita. Baru juga masuk setengah, mana mungkin hamil. Jadi, Aku berikan saja obat per*ngsang pada minuman menantu kita, biar sekalian kita punya Cucu," jawab Mommy Adna menjelaskan dengan santai.


***


"Ziva, aku benar-benar minta maaf. Maaf karena aku tidak tahu bahwa kecelakaan beruntun itu terjadi bukan sepenuhnya kesalahanmu. Aku juga minta maaf karena telah bersikap tidak baik kepadamu selama ini. Maaf juga karena aku kamu menderita sakit selama ini," mohon Lolan sambil menggenggam jemari tangan Ziva erat.


"Sudah, lupakan masa lalu. Aku juga salah, tidak perlu minta maaf. Aku juga minta maaf karena kesalahan Ayahku, kamu menderita penyakit itu, aku berjanji akan membantumu hingga kembali sembuh. Untuk ginjal, memang sudah seharusnya aku melakukan itu, kalau aku tidak melakukannya, kita tidak mungkin bertemu sekarang dan aku akan menyesal seumur hidup karena tidak bisa menembus dosa Ayahku," keduanya salin menyalahkan satu sama lain, kemudian saling meminta maaf dan memaafkan. Setelahnya, keduanya saling berpelukan erat yang terasa begitu hangat. Kesalahan pahaman yang terjadi antar keduanya telah usai. Kini, saatnya pasangan itu membuka lembaran baru, menjalin serta merajut kisah asmara rumah tangga yang indah.

__ADS_1


"Minggu depan kamu akan segera menjalani operasi. Untuk itu, sekarang kamu harus makan yang banyak sebegai persiapan," ujar Lolan menyuapi Ziva makan. Tapi, suapannya Ziva tolak karena efek cuci darah membuatnya tak berselera makan.


"Nanti saja. Aku sangat lelah, ingin tidur saja," jawab Ziva lemah sambil memejamkan matanya yang begitu berat untuk di buka. Lolan diam sejenak, berpikir bagaimana caranya membuat agar Ziva mau menerima suapannya. Karena tak berhasil menggunakan cara yang lembut, Lolan pun tersenyum smirik kala otaknya tiba-tiba menemukan sebuah ide yang akan membuat Ziva menerima suapannya.


"Wajahmu sangat pucat begitu. Makan sekarang, atau aku yang makan kamu sekarang!" tegas Lolan membuat Ziva membuka mata kaget. Namun, seketika ziva mengingat bila Lolan tidak akan mungkin melakukan hal itu, karena akan sama dengan menyiksa dirinya sendiri.


"Coba saja," balas Ziva kembali memejamkan matanya. Tidak mungkin Lolan dapat melakukan itu. Pikir Ziva.


"Baik."


"Ahh ....


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2