Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 83


__ADS_3

Keesokan paginya, Ziva terbangun lebih dulu. Seperti biasa, dia langsung bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengelap tubuhnya dengan air hangat. Hanya mengelap karena lukanya masih belum boleh terkena cipratan air.


Setelahnya, Ziva langsung keluar dari kamar mandi. Tiba di luar, Lolan yang sebelumnya masih terbaring di atas ranjang, mendadak hilang entah ke mana.


Ziva sempat heran sesaat, namum dia merasa tak terlalu peduli mau ke mana pun Suaminya itu pergi. Saat akan berbalik badan, saat itu pula Lolan muncul dan langsung memberikan kecupan sekilas di bibir ranum Ziva.


"Pagi, Sayang," sapa Lolan yang kini sudah berada tepat di hadapan Ziva. Ziva menutup mulutnya kaget kala Lolan berhasil mencuri ciuman darinya.


"A-aku ingin mengganti pakaian," Ziva langsung menghindar, berada lama di dekat Lolan tidak baik untuk kondisi jantungnya.


Tok, tok, tok ....


"Lolan, Ziva, Dokter Adit sudah menunggu di bawah, segeralah turun," teriak Mommy Nata di luar sana.


"Iya, Mommy!" Sahut Lolan segera bersiap-siap.


Setelah siap dengan pakaian masing-masing, Lolan langsung menggandeng Ziva hingga turun ke lantai bawah. Melihat kedua orang tuanya yang duduk di sofa bersama dengan Dokter Adit, Lolan pun mengajak Ziva untuk bergabung duduk si sana, sebelum masuk ke ruangan terapi.


"Lagi bahas apa?" Lolan duduk tepat dihadapan Dokter Adit.


"Hari ini adalah terapi terakhir. Sarapanlah lebih, karena mungkin terapi kali ini akan memakan waktu yang lumayan lama," jelas Dokter Adit membuat Lolan merasa tak sabar untuk segera mengakhiri terapi yang kini dia jalani. Sedangkan Ziva langsung memegang dadanya yang berdegub lebih kencang. Astaga, sungguh Ziva ingin memohon kepada Author agar kembali mengulur waktu.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Lolan antusias.


"Benar, Sayang. Maka dari itu kalian berdua pergi isi energi dulu, Mommy sudah siapkan makanan kesukaan untuk kalian berdua," saut Mommy Nata tak kalah antusiasnya. Tentu saja, karena kesembuhan Sang Putra adalah hal paling membahagiakan dalam hidupnya.


"Mommy dan Daddy tidak sarapan?" tanya Lolan sebelum pergi.


"Kita berdua sudah, sekarang kamu pergilah, ajak Ziva juga," usir Mommy Nata. Hal itu tentu membuat Lolan curiga, entah apa yang ketiga manusia itu rencanakan? Tidak mungkin ingin mengerjai dirinya dan Ziva, bukan?. Pikir Lolan.


Meski penasaran dengan apa yang ketiga manusia itu lakukan, tapi Lolan tetap menurut dan mengikuti apa pun yang Dokter Adit titahkan.


Tiba ruang makan, Lolan segera duduk di kusir tepat di samping Ziva yang telah duduk lebih dulu. Ziva menyiapkan makanan ke piring Lolan, sementara Lolan masih terus kepikiran tentang rencana kedua orangtuanya juga Dokter Adit.


"Sudah selesai, makanlah," ujar Ziva menyuruh Lolan untuk segera makan.


"Aku bisa sendiri," cegah Ziva, tapi Lolan tak menghentikan kegiatannya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Sekarang makanlah," titah Lolan dan kedua sejoli itu sarapan dengan lahapnya pagi itu.


***


"Jadi, apa Lolan benar-benar akan sembuh sepenuhnya, Adit?" tanya Mommy Nata penasaran.

__ADS_1


"Sebenarnya Lolan sudah sembuh di hari pertama terapi. Hari ini, aku perlu memeriksa apakah sudah aman atau tidak. Kalau sudah aman, maka siap digunakan. Hari ini aku pastikan adalah terapi terakhir," papar Dokter Adit membuat Daddy Jackson dan Mommy Nata menarik napas lega. Akhirnya Putra kesayangan mereka tidak lagi menjadi pria impoten.


"Kalau Lolan hari ini benar-benar sembuh. Itu artinya, Lolan dan Ziva sudah boleh melakukannya malam ini?" kembali Mommy Nata bertanya saking bahagianya.


"Benar, Mommy. Tapi, sepertinya ukuran Lolan yang jumbo membuat Ziva merasa takut. Aku khawatir Lolan tidak tega melakukannya," imbuh Dokter Adit.


"Masalah itu biar Mommy dan Daddy yang urus," sahut Mommy Nata tersenyum smirik.


***


"Semangat, Sayang. Kalian berdua pasti bisa!" seru Mommy Nata menyemangati Ziva dan juga Lolan. Ziva tersenyum manis membalas seruan Sang Mommy Mertua.


Masuk ke dalam ruangan, Lolan langsung berbaring di atas ranjang, sedangkan Ziva berdiri di sampingnya.


"Oh iya, terapi ini akan di mulai dengan pemeriksaan sp*rma Lolan. Saya perlu memeriksa zat apa saja yang terkandung di dalamnya. Untuk itu, Nona harus membantu hingga Lolan keluar. Nona tidak keberatan, bukan?"


.


.


.

__ADS_1


Yang riguest buka kado dengan rasa special hot-hotter, Mana suguhan kopi dan mawarnya, nih?🧐


__ADS_2