Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 98


__ADS_3

"Aku nonton video xxx di ponsel Dokter, aku menemukan video seperti itu ada banyak di ponsel Dokter," jawab Xena dengan polosnya. Dokter Adit langsung memijit pelan pangkal hidungnya. Dia menyesal meminjamkan ponselnya kepada Xena dan dia lebih menyesal lagi karena lupa menghapus Video yang dikirimkan oleh salah satu temannya yang berada di Amerika. Memiliki teman seorang Cassanova memang menyesatkan.


"He'em ... Xena Sayang, laki-laki wajar menonton video begitu sebagai edukasi. Kamu yang tidak boleh menontonnya karena kamu masih di bawah umur," jelas Bibi Aslin pelan.


"Aku juga boleh dong nonton itu, Bu. Walau masih di bawah umur, lima hari lagi aku akan menikah, nonton itu juga untuk edukasi," sahut Xena tak ingin kalah.


"Astaga. Terserah kamu mau melakukan apa," balas Bibi Aslin mengalah kala tak sanggup berdebat dengan Putrinya.


***


Malam harinya, Xena keluar dari rumah untuk mengantar Dokter Adit yang akan kembali ke rumahnya.


"Aku pulang, besok aku akan datang lagi untuk mengantarmu sekolah. Ingat pesanku, jauhi dua temanmu itu," Dokter Adit menatap Xena serius.


"Iya-iya, aku berjanji akan menjauhi mereka berdua," jawab Xena cemberut.


"Bagus, calon istri penurut. Aku pergi sekarang," imbuh Dokter Adit mengelus kepala Xena lembut.

__ADS_1


"Kiss," pinta Xena menengadah dengan raut wajah imut.


Perlahan Dokter Adit mendekatkan bibir tipisnya ke kening Xena. Namun, dia cukup kaget kala Xena malah berjinjit lalu mengarahkan bibirnya ke Bibir Dokter Adit yang siap menciumnya. Karena ulah Xena, terjadilah ciuman di bibir dan bukan ciuman hangat di kening seperti yang Dokter Adit rencanakan.


Begitu berhasil mencuri ciuman dari Dokter Adit, Xena langsung membalikkan badannya lalu berlari kembali ke rumahnya sambil berteriak.


"Hati-hati di jalan Dokter!" teriaknya tanpa melihat ke belakang.


"Akh!" pekik Xena tertahan kala hampir saja terpeleset karena kontur tanah yang licin.


"Hati-hati, Xena!" Dokter Adit menggelengkan kepalanya melihat tingkah Xena yang begitu kekanak-kanakan, entah akan semerepotkan apa dirinya nanti setelah Xena benar-benar sah menjadi Istrinya.


Senyuman kecil tersungging di bibirnya. Mungkin saja benar dia akan repot dengan kelakuan Xena. Tapi, dia yakin hari-harinya tidak akan lagi membosankan seperti sebelumnya.


Dokter Adit merasai bibirnya, kehangatan dan kekenyalan bibir Xena masih terasa menempel di bibinya, membuat jiwa kelelakiannya tiba-tiba meronta. Membayangkan Xena memang begitu cepat membuat hasratnya membuncah. Dokter Adit segera masuk ke dalam mobilnya, tancap gas untuk kembali ke rumahnya.


***

__ADS_1


"Main nyosor aja!"


"Aw! Sakit, Ibu!" pekik Xena kaget saat kepalanya di pukul oleh Ibunya tepat saat dirinya membuka pintu dan akan masuk ke dalam rumah.


"Makanya jaga sikap, kamu itu perempuan, Xena. Mana ada perempuan kayak kamu, main nyosor aja!" cerca Bibi Aslin membuat Xena terdiam karena mengakui kesalahannya.


"Ini pasti karena kamu berteman dengan Ana dan Cristi. Mulai detik ini, Ibu akan menghukummu kalau sampai masih berteman dengan dua Daj jal itu!" lanjut Bibi Aslin.


"Tapi'kan mereka—"


"Tidak ada tapi-tapian, sekarang masuk ke kamar!" bentak Bibi Aslin dan Xena pun langsung masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu kamarnya sekuat tenaga hingga menimbulkan suara keras.


Di sebuah kamar lainnya.


"Ranjang ini benar-benar rapuh, Sayang. Main di lantai saja bagaimana?"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2