Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 151


__ADS_3

"Biar aku sendiri yang memasukkannya."


Adit terbelalak kaget. "Maksudmu?" tanyanya.


"Biar aku aja yang memasukannya, Sayang," jawab Xena yakin.


"Mana bisa begitu, Sayang."


"Bisa," keukeuh Xena langsung bangkit dari baringnya.


"Xena, kamu jangan main-main," Adit heran akan tingkah Xena, entah apa lagi yang ingin dilakukannya saat ini. Masukin sendiri katanya, Adit sangat tidak yakin Xena mampu.


"Kita kan emang lagi main-main, Sayang," balas Xena tersenyum geli, Xena mendekat, meraih kedua pundak kekar Adit dan merebahkan pria tangguh itu hingga terbaring di atas ranjang.


Melihat kelakuan Xena, Adit mengusap kasar wajahnya, memijit pelan pangkal hidungnya. Adit merasa dirinya akan gila gara-gara Xena Istrinya itu bukan hanya bisa membuatnya gila karena cinta, tapi dirinya juga bisa gila karena tingkah. Adit mengerjabkan mata, berharap pusing atas dan bawahnya bisa sedikit berkurang.


"Tunggu, bagaiamana ini? Bagaimana caraku memasukinya?" Xena bingung akan posisinya, sedangkan Adit kembali mengusap wajahnya kasar. Ingin sekali dirinya membalikkan tubuh dan menjadikan Xena di bawah kukungannya, kemudian dia akan beraksi dengan brutal. Tapi, sebisa mungkin Adit menahan hal itu lantaran tak ingin membuat Xena terluka.

__ADS_1


Adit menatap jam di dinding kamarnya yang baru menunjukkan jam dua belas malam, melihat waktu yang masih panjang barulah Adit bisa bernapas lega. Dia akan memberikan waktu kepada Xena, Adit akan melihat tingkah apa lagi yang akan Xena lakukan.


"Naik saja, setelah itu kamu tinggal duduk di atas tubuhku," titah Adit dan Xena benar-benar melakukannya, Adit mengeram hebat kala bo kong Xena tak sengaja menindih benda pusaka miliknya.


"Wajahmu kenapa, Sayang? Apa ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Xena dengan raut wajah polos tanpa dosa, dia tidak menyingkir sama sekali, bahkan dia tidak bisa diam dan terus bergerak sambil tetap menindih Adit junior.


"Ti-tidak apa-apa, aku baik-baik saja."


"Benarkah?, bagaimana dengan wajahmu, Sayang?'


"Tidak masalah, sekarang cepatlah masukan!" seru Adit benar-benar sudah tidak lagi sanggup menahan diri, entah sampai kapan dia akan terus menahan. Xena selalu berhasil membuatnya gila.


"Astaga, Sayang. Angkat kedua kakimu dulu," titah Adit dengan wajahnya yang sudah sangat memerah siap akan meledak.


"Oke-oke," Xena melakukan perintah Adit dengan baik. "Sekarang bagaimana?" lanjut Xena bingung.


Adit menghela napas kasar, dia berusaha menenangkan hatinya agar tidak meluapkan emosi dan kekesalannya. "Sudahi dramamu, Xena. Biar aku saja yang melakukannya, lagian kamu mana mungkin bisa," Adit tidak sadar kalau peryataannya malah semakin membuat Xena merasa dirinya dia ejek.

__ADS_1


"Biar aku sendiri yang masukin, kalau kamu yang masukin aku tidak yakin kamu akan melakukannya pelan-pelan," ketus Xena berpangku tangan.


"Baiklah-baiklah, terserah padamu. Kalau terjadi apa-apa jangan menyalahkanku," kesal Adit. "Sekarang tinggal kamu arahkan milikku ke milikmu," lanjutnya memerintah Xena untuk mulai masuk.


"Tunggu!" cegat Adit.


"Kenapa Sayang?" tanya Xena heran.


"Kamu akan sakit kalau begitu," Adit mengulurkan tangannya, kemudian mengarahkan beda miliknya. Agar jalannya licin, dia menggesek pelan pusakanya ke inti Xena.


"Uhhhh," lenguh Xena yang kini berada di atas tubuh Adit.


Beberapa detik kemudian, barulah Adit melepaskannya. "Sekarang masukan perlahan," titah Adit kepada Xena, tampak Xena mengangguk pelan, kemudian mulai kembali mengarahkan walau dengan tidak yakin. Sedangkan Adit pun siap pada posisinya, dia akan langsung mengambil kendali bila saja Sang Istri kesakitan.


"Aaaaakhhh ....


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2