Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 121


__ADS_3

Keesokan paginya, Ziva bangun lebih dulu. Tapi, Sayangnya sekujur tubuhnya terasa sangat pegal-pegal. Saat bergerak sedikit saja, maka ziva akan merasa sangat kesakitan. Ziva hanya berusaha menenangkan dirinya, dia tidak ingin Lolan merasa bersalah karenanya.


Lolan masih memeluknya begitu erat, Ziva berusaha keluar dari tubuh kekar itu dengan begitu perlahan. Tak berhasil keluar, Ziva pun pasrah. Rasa perih di bawah sana semakin menjadi, rasanya lebih perih daripada saat Lolan melakukannya pertama kali.


Cukup lama Ziva bertahan dengan air mata yang mengalir perlahan, pada akhirnya Ziva menyerah, dia sudah tidak lagi sanggup menahan perih itu. Ziva memutuskan untuk membangunkan Lolan agar dapat membantunya.


"Lolan bangunlah," Ziva menepuk pelan pundak Lolan, kemudian menyentuh wajah pria tampan itu yang tidur begitu lelap.


"Lolan," panggil Ziva sekali lagi, kali ini dia berhasil membangunkan Suaminya.


"Pagi, Sayang. Kamu sudah bangun," Lolan langsung mencium lembut kening Ziva membuat Ziva memejamkan matanya. Setelahnya, Lolan kembali memeluk Ziva semakin erat.


"Akhh!" Ziva langsung meringis.


"Sayang!" panggil Lolan khawatir, Lolan begitu kaget melihat mata Ziva yang basah seperti habis menangis. Lolan baru menyadarinya kala pandangan matanya mulai jernih.


"Hem," jawab Ziva hanya berdehem.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa menangis?" Lolan melonggarkan pelukannya, dia bertanya seakan melupakan perbuatannya semalam.


Ketika memorinya sudah mulia benar, Lolan menatap Ziva dengan dipenuhi oleh rasa bersalah yang begitu besarnya.


"Sayang, maafkan aku," ucap Lolan memohon, Ziva hanya mengangguk sebagai jawaban iya.


"Bagian mana saja yang sakit, Sayang?" tanya Lolan sambil menyeka perlahan air mata Sang Istri.


"Semuanya," jawab Ziva membuat dada Lolan berdesir rasa bersalah. Lolan berjanji tidak akan melakukannya lagi, dia tidak ingin melihat Ziva begini lagi.


"Tunggu di sini, aku akan siapkan air hangat untukmu," Ziva mengangguk dan Lolan bergegas menuju kamar mandi. Lolan mengisi buthub dengan air hangat, kemudian menuangkan sabun cair beraroma mawar ke dalam buthubnya. Setelah semua siap, Lolan segera keluar dari kamar mandi untuk menjemput Ziva.


"Sayang, jangan bergerak. Biar aku yang antar kamu," Lolan berlari, kemudian menggendong Ziva yang sudah duduk di pinggir ranjang dengan tubuhnya yang dia tutup dengan selimut. Lolan bergerak cepat, dia menyingkirkan selimut itu hingga kembali melihat tubuh polos Istrinya. Tapi, dia dapat mengontrol diri dengan baik, saat mengingat Istrinya sedang tidak baik-baik saja.


Lolan menggendong Ziva menuju ke kamar mandi, tiba di dalam kamar mandi, Lolan memasukan Ziva ke dalam buthub dengan begitu berhati-hati.


Ziva memejamkan matanya, menikmati rasa hangat yang seakan memijit pelan tubuhnya. Rasa perih di bawah sana masih jelas terasa. Tapi, sedikit berkurang karena tubuhnya juga sudah menjadi rileks.

__ADS_1


Lolan tidak pergi, dia membantu mengusap pelan kening Ziva, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah lelah Isttinya.


"Maaf Sayang," Lolan mengecup kening itu dengan penuh kelembutan serta kasih Sayang.


"Tidak apa-apa, sudah lebih baik sekarang," jawab Ziva tersenyum kecut, Lolan tahu Ziva tidak ingin terlihat kesakitan di hadapannya, agar dia tidak lagi merasa bersalah.


Lolan kembali mengecup perlahan kening Ziva, kemudian meraih shampo dan meneteskannya ke rambut Ziva. Lolan membantu memandikan Ziva, dia memijit pelan kepala Ziva, hingga sang pemilik memejamkan matanya menikmati. Lolan memandikan Istrinya dengan telaten, Lolan senang karena dia dapat mengendalikan nafsunya dengan baik.


Usai memandikan Ziva dan juga memasangkan Ziva pakaian, Lolan langsung membaringkan Ziva ke atas ranjang yang sudah pelayan ganti spreinya. Pakaian yang tadinya berserakan juga sudah tidak lagi ada.


"Istirahatlah, Sayang. Aku ke bawah untuk mengambilkan sarapan untukmu," Ziva mengangguk, setelah kepergian Lolan, Ziva kembali menangis kecil, karena rasa perih di bawah sana masih terasa.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2