
"Dasar perempuan murahan! Beraninya mencuri kesempatan menggodaku saat aku tertidur!" bentak Lolan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Ziva masih terduduk dengan menahan sakit yang semakin lama semakin parah.
Beberapa menit kemudian, Lolan sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk mini yang menggantung di pinggang kekarnya. Lolan mengerutkan alisnya heran saat melihat Ziva yang masih duduk di tempat semula, tepatnya di lantai.
"Kenapa masih di situ? Cepat ambilkan pakaianku!" pinta Lolan memaksa. Tanpa Lolan ketahui, rentetan air mata menetes tiada henti dari kedua sudut mata Ziva. Heran karena Ziva tak beranjak dari tempatnya, Lolan pun berjongkok, menggenggam dagu Ziva kuat dengan salah satu tangan kekarnya.
"Ada apa denganmu? Kenapa—" Lolan menggantung ucapannya kala kaget saat melihat wajah Ziva yang telah basah oleh air mata.
"Kau kenapa?" tanya Lolan panik, jelas terlihat ada perasaan yang begitu khawatir dalam pandangan matanya yang tajam.
"Tuan, sakitt," ringis Ziva pelan, tapi masih dapat di dengar oleh Lolan.
"Apa yang terjadi padamu? Aku tidak melukaimu sama sekali," Lolan memeriksa tubuh Ziva, seakan mencari luka di sana. Lolan mengira dia melukai Ziva saat tadi mendorong Ziva.
"Kau tidak terluka sama sekali," lontar Lolan. Dia tidak tahu sama sekali akan penyakit Ziva. Bukan bagian luar tubuhnya yang terluka, melainkan bagian dalam.
"Ayo berdirilah," lanjut Lolan membantu Ziva untuk berdiri.
"Aw! Sakittt!" pekik Ziva membuat Lolan urung membantu Ziva berdiri.
"Apanya yang sakit? Katakanlah, jangan membuatku merasa bersalah kepadamu," cerca Lolan geram.
__ADS_1
"Pinggang saya sakit bila digerakkan," jawab Ziva menangis terisak kala rasa sakitnya tak kunjung menghilang.
"Pinggang? Kau ... Gagal ginjal?" Lolan pernah mengalami sakit itu, tentu dia tahu rasa sakit yang saat ini Ziva rasakan. Lolan kaget saat mendapatkan anggukan dari kepala Ziva. Andai dia tahu bahwa Ziva mengalami gagal ginjal, tentu dia tidak akan mendorong Ziva dengan kuat seperti tadi.
Merasa kasihan sekaligus khawatir saat Ziva terus menekan pinggangnya yang sakit. Lolan pun sigap mengangkat tubuh mungil Ziva dengan begitu perlahan. Lolan menerjang pintu kamar yang tidak dikunci, begitu pintu terbuka, Lolan membawa Ziva turun ke lantai bawah.
Tiba di lantai bawah, Lolan yang menggendong Ziva dengan hanya memakai handuk menjadi sorotan.
"Lolan, Ziva kenapa?" tanya Mommy Nata khawatir.
"Bawa langsung ke ruangan, cepat!" titah Dokter Adit sedikit berteriak panik. Lolan yang juga khawatir, langsung membawa Ziva masuk ke dalam ruangan yang sebelumnya telah mereka persiapkan. Beruntung Dokter Adit juga mencatat peralatan medis untuk Ziva. Hingga dia bisa menangani Ziva di ruangan yang telah disiapkan itu.
"Apa benar-benar tidak perlu ke rumah sakit?" tanya Lolan. Mommy Nata juga ikut masuk ke ruangan yang telah di sulap menjadi persis seperti ruangan di rumah sakit itu.
"Kamu baik-baik saja, Sayang? Apa sakit?" tanya Mommy Nata sambil menyeka kening Ziva yang berkeringat.
"Tidak apa-apa, Mommy. Aku baik-baik saja," bohong Ziva.
"Kamu sakit apa, Sayang? Kenapa tidak mengatakan apa pun kepada Mommy?" lagi Mommy Nata bertanya khawatir.
"Hanya gagal ginjal, Mommy. Tidak terlalu serius," jawab Ziva berusaha menunjukkan senyuman di bibir pucatnya. Mommy Nata yang sudah mengetahui tentang penyakit Ziva, tidak bisa berkata apa-apa.
__ADS_1
"Apa yang kamu rasakan sekarang?" pertanyaan yang berasal dari Lolan.
"Hanya pusing dan sedikit mual," jawab Ziva jujur.
"Lolan, Mommy. Sementara biarkan Nona Ziva istirahat lebih dulu, proses cuci darah ini akan memakan waktu yang lama," papar Dokter Adit membuat Lolan dan Mommy Nata mengangguk.
Dokter Adit membawa Mommy Nata dan Lolan keluar dari ruangan khusus itu, sementara Ziva di temani oleh seorang Suster yang Dokter Adit bawa bersamanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Adit?" tanya Lolan.
"Sebenarnya Ziva mengalami gagal ginjal serta diabetes tipe satu," jawab Dokter Adit membuat Lolan terlihat semakin khawatir, namun dia terus menyembunyikan perasaan khawatir itu.
"Itu pasti karena Lolan," sahut Mommy Nata membuat Dokter Adit tercengang. Sesaat kemudian, dia mengerti akan satu hal. Apa yang tidak diketahui oleh Mommy Nata dan Daddy Jackson.
"Maksud, Mommy?" tanya Lolan penasaran.
"Ziva mengalami gagal ginjal karena satu ginjalnya telah dia berikan kepada," tutur Mommy Nata menangis pilu.
"A-apa?"
.
__ADS_1
.
.