
Dokter Adit terus menghajar habis-habisan tiga pria yang berani menyentuh Xena, sedangkan Xena betah terduduk sambil memeluk diri karena masih syok serta ketakutan atas apa yang menimpanya barusan.
Orang-orang di sekitar hanya menonton dari jauh, mereka tidak berani menolong teman mereka yang dihajar oleh seorang Dokter Adit, pemilik Club terkenal tersebut.
"Bawa mereka semua ke rumah sakit!" bentak Dokter Adit pada orang-orang yang tak lain adalah teman dari tiga pria yang kini dia dihajar hingga babak belur.
Setelah puas menghajar pra-pria cabul tadi, Dokter Adit menatap Xena yang masih mematung di tempatnya. Perasaan iba, membuat Dokter Adit langsung mengangkat tubuh semok Xena dan dia bawa keluar dari Club. Dokter Adit menggendong Xena hingga tiba di parkiran, meletakkan Xena yang masih terdiam di kursi belakang.
Kini, Dokter Adit duduk di kursi kemudi sambil menatap Xena yang terlihat ketakutan. Dokter Adit membalikkan tubuh untuk melihat keadaan gadis yang tadinya begitu aneh dan sekarang tambah aneh lagi.
"Sial!" umpat Dokter Adit kala mata indahnya di suguhkan dengan pemandangan indah gunung kembar milil Xena yang terlihat separuhnya karena gaunnya yang seksi. Dengan cepat Dokter Adit melepaskan jassnya, lalu dia balutkan ke tubuh seksi Xena.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Dokter Adit lembut karena paham bahawa saat ini Xena sedang mengalami trauma akan pelecehan s*ksual yang barusan dia alami.
Xena masih diam, Dokter Adit kembali membalikkan badannya ke belakang untuk mengecek keadaan Xena.
"Tenanglah, tidak usah takut lagi, sekarang kamu sudah aman. Ini, minumlah," ujar Dokter Adit mengulurkan sebotol air mineral. Namun, Xena hanya diam sambil menggelengkan kepala tanda menolak.
"Benar-benar gadis aneh, tadi sangat liar dan sekarang terlihat sangat jinak," batin Dokter Adit heran.
__ADS_1
"Di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang," tanya Dokter Adit tapi Xena masih saja membisu.
Dokter Adit begitu geram dengan tingkah Xena, Dokter Adit meraih alat medisnya, lalu beralih ke kursi belakang untuk memeriksa keadaan Xena.
Saat sudah berada dan duduk di samping Xena. Dokter Adit pun mulai memeriksa keadaan Xena dan hasilnya Xena baik-baik saja.
"Apa kau takut?" tanya Dokter Adit lembut.
Dokter Adit mendekat, mengusap pelan kepala Xena. Saat itu juga, Xena langsung memeluknya erat sambil menangis terisak. "Aku takut," ucap Xena dengan tubuh yang bergetar.
"Mengodaku bahkan mengajakku tidur tidak takut, dasar gadis aneh!" batin Dokter Adit.
"Aku takut, hiks," tangis Xena lagi.
"Takut apa? mereka tidak menyentuhmu sama sekali," kembali Dokter Adit mengelus pundak Xena untuk memberikan rasa aman.
"Aku takut, aku takut nantinya malah orang lain yang akan menyentuhku lebih dulu. Jadi, ayolah Dokter, tiduri aku sekarang!" pinta Xena mengeratkan pelukannya.
Mendengar itu, Dokter Adit tercengang karena tidak habis pikir dengan jalan pemikiran gadis aneh dalam pelukannya ini. Tidak ingin membuat Xena kembali liar, Dokter Adit menghela napas berat, kemudian mencoba membujuk Xena.
__ADS_1
"Kita belum saling kenal, perempuan itu harus bisa menjaga dirinya. Tidak baik ingin tidur dengan pria yang baru pertama kali ditemui. Dan gadis yang baik adalah gadis yang hanya mempersembahkan kesuciannya untuk Suaminya," ujar Dokter Adit selembut mungkin.
"Aku tau, aku tidak mungkin menikah dengan Dokter walau kita saling memcintai."
"Astaga, saling mencintai? Gadis gila!" kembali Dokter Adit membatin.
"Aku hanya ingin menjadi Sugar Baby Dokter saja, aku tidak mungkin menikah," ujar Xena karena mengingat Dokter Adit yang telah memiliki tunangan.
Huuffff ....
Sebelum memulia ucapan, Dokter Adit menarik napas dalam terlebih dahulu, lalu menghembuskannya perlahan. Berusaha tenang dalam menghadapi gadis gila yang untungnya cantik seperti Xena.
"Baiklah ....
.
.
.
__ADS_1