Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 71


__ADS_3

"Dokter, aku merasa tubuhku seringan kapas, aku merasa terbang di udara, apakah aku sudah mati? Mommy-mu memberikanku racun," oceh Xena seraya meraba-raba punggung kekar Dokter Adit.


"Hem ... Dokter, memelukmu ternyata membuatku sangat nyaman," Xena memeluk Dokter Adit semakin erat, terus menggerakan tubuhnya yang benar-benar terasa aneh. Namun, berada dalam pelukan Dokter Adit membutanya merasa nyaman.


Tiba di mobil, Dokter Adit memasukkan Xena ke kursi belakang. "Dokter mau meninggalkanku? Tidak boleh, Dokter tidak boleh pergi!" cegat Xena mengeratkan pelukannya, tidak ingin Dokter Adit pergi darinya.


"Xena, menurutlah atau kamu akan menyesal nantinya!" tegas Dokter Adit tak dipedulikan oleh Xena, dia terus saja memeluk dengan eratnya membuat Dokter Adit kesulitan untuk keluar dari mobil.


"Kehilanganmu yang akan membuatku menyesal seumur hidup," sahut Xena memberikan efek merah yang samar di pipi mulus Dokter Adit.


"Lepaskan!" bentak Dokter Adit langsung melepaskan paksa tubuh Xena darinya, setelah berhasil lepas, Dokter Adit langsung keluar dari mobil dan menutup rapat pintu mobil. Dokter Adit memutari mobilnya, membuka pintu dan masuk kembali ke dalam mobil di bagian kursi kemudi di depan.


"Ahh, panas Dokter panas. Sungguh aku tidak tahan," Dokter Adit tak peduli akan ocehan Xena yang tak kunjung usai, dia tetap fokus pada kemudi dan langsung tancap gas menuju Apartemennya dengan kecepatan tinggi.


"Xena apa yang kamu lakukan?" Dokter Adit seketika panik saat Xena membuka guanya dengan mudahnya, meninggalkan cd dan bra yang kini membungkus daerah intinya. saat itu juga Dokter Adit langsung menutup semua kaca mobil secara otomatis.

__ADS_1


"Astaga!" Dokter Adit adalah pria normal, melihat pemandangan indah itu tentu menyiksa dirinya juga yang di bawah sana, yang kini telah mengeras sempurna.


"Dokter, aku merasa sangat panas, aku mohon sejukkan aku," pinta Xena yang kini berdiri dari duduknya, menyentuh wajah Dokter Adit yang kini memerah karena menahan sesuatu yang membuncah.


Di saat seperti itu, tiba-tiba saja ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk. Dengan cepat Dokter Adit mengangkatnya kala melihat nama Ziva tertera di layar ponselnya.


"Hahh ... Hallo, ada apahh, ah?" tanya Dokter Adit dengan suara yang aneh saat Xena menj*lat ceruk lehenrya dari belakang.


Samar-samar Dokter Adit mendengar perkataan Ziva yang mengatakan bahwa senjata milik Lolan sudah dapat berdiri dan Lolan tak lagi merasa sakit.


Dokter Adit ingin mengatakan sesuatu kepada Ziva, tapi Xena terus mengganggunya, hingga dirinya tak bisa berkonsentrasi.


"Jangan gunakan mulutmu, pakai tangan saja!" bentak Dokter Adit pada Xena yang kembali ingin menciumnya paksa. Dokter Adit tahu Xena akan merasa nyaman bila menyentuhnya apalagi menciumnya. Untuk itulah Dokter Adit membolehkan Xena untuk menyentuh tubuhnya, tapi tidak dengan mencium tubuhnya.


Xena tak peduli, bahkan dia memukul tangan Dokter Adit yang memegang ponsel, hingga ponsel seharga puluhan juta itu terlempar cukup keras ke sisi badan mobil dan berakhir menyedihkan di lantai mobil.

__ADS_1


"Xena Berhenti! Kita bisa mati jika kamu begini!" Dokter Adit benar-benar kualahan, tapi syukurnya dia telah tiba di Apartemen. Tanpa turun dari mobil, Dokter Adit pindah ke kursi belakang, tiba di sana dia langsung di serang oleh Xena.


Dokter Adit meraih gaun Xena, berusaha memasangkan gaun itu ke tubuh Xena. Dokter Adit bersusah payah memasang gaun itu kala Xena menolak untuk dia pasangkan. Namun, usahanya tak sia-sia saat gaun itu berhasil menutup kembali tubuh seksi Xena.


"Panas Dokter panas!" bentak Xena murka.


"Diam-lah," Dokter Adit menggendong Xena, membawa Xena masuk ke dalam Apartemennya. Tiba di kamar, Dokter Adit langsung meletakkan Xena ke atas ranjang. Melihat Xena yang kembali ingin membuka pakaian, Dokter Adit langsung melepaskan dasinya kemudian mengikat kedua tangan Xena dengan dasi itu. Xena pun tak lagi dapat berbuat banyak, selain hanya mengeluhkan semua yang dia rasakan.


"Dokter panas, aku ingin disentuh, dipeluk, diraba. Dokter Ayo tidurlah denganku," mohon Xena terisak karena hasrat yang terus membuncah membuat benar-benar tak tahan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2