
Di malam itu tepat dihadapan Sang Istri, Lolan Baldev terpaksa makan makanan mentah yang tidak disukainya yaitu Sushi. Dengan tatapan mata tajam serta raut wajah murkanya, akhirnya Lolan dapat kembali bernapas kala berhasil menghabiskan makanan mentah itu.
"Puas, Sayang?" tanya Lolan menekan kalimatnya. Namum, Lolan tetap berusaha untuk menahan emosinya.
"Ah, aku sangat mengantuk. Aku ingin tidur saja," ujar Ziva langsung merebahkan tubuhnya dengan santai dan tanpa dosa. Sedangkan Lolan terus menatap Ziva tak suka.
"Mau ke mana?" tanya Ziva saat Lolan turun dari ranjangnya.
"Ke kamar mandi, Sayang. Apa tidak boleh?" tanya Lolan ketus.
"Tidak boleh," tegas Ziva membuat Lolan kaget. Lolan tahu Istrinya tengah hamil, tapi apa harus bersikap begitu berlebihan. Walau kesal, tapi Lolan tetap berusaha menahan emosinya agar tak khilaf.
Lolan menghela napas berat, lalu mendekat dan merebahkan tubuhnya di samping Sang Istri. "Baiklah, Sayang. Aku tidak akan ke mana-mana. Bukankah tadi kamu bilang mengantuk, sekarang istirahatlah," Lolan mengelus lembut kening Ziva, merapikan anak rambutnya yang berantakan.
__ADS_1
"Mau mandi, ya?" tanya Ziva yang baru menyadari kesalahannya.
"Iya, Sayang. Tapi, aku tidak akan mandi bila kamu melarangku, aku akan menemanimu hingga tertidur," ujar Lolan dengan suara yang begitu lembut.
"Mandinya nanti saja saat aku sudah tidur," pinta Ziva dan Lolan pun mengangguk cepat sambil tersenyum manis.
Ziva juga tersenyum manis membalas senyuman Sang Suami. Bukan tanpa alasan Ziva melarang Lolan mandi. Ziva takut, takut tergoda seperti sebelumnya.
Ziva takut malam sebelumnya terulang lagi. Malam di mana Ziva begitu candu akan wangi Lolan yang baru selesai mandi, mencium aroma wangi tubuh Lolan yang selesai mandi, membuat Ziva merasa sangat menginginkan untuk disentuh oleh Sang Suami.
Tanpa sadar Ziva memeluk Lolan erat dengan manjanya, sungguh Ziva tidak bisa menahan diri. Tubuhnya bergerak seakan ada pihak lain yang juga menguasainya. Apakah itu perbuatan bayi yang ada dalam kandungannya kini. Entahlah, Ziva tidak ingin terlalu memikirkannya, yang penting dia hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh pikiran dan perasaannya.
Walau kekesalan masih menyelimuti Lolan, tapi kekesalan itu luntur seketika saat Ziva memeluknya dengan erat. Lolan juga membalas pelukan Sang Istri tak kala eratnya, salah satu tangannya bergerak hingga mendarat di perut datar Sang Istri, Lolan menyingkap baju itu, kemudian mengelus perut datar itu dengan penuh cinta.
__ADS_1
Ziva merasa begitu nyaman akan hal itu, dia langsung terlelap dengan nyenyaknya saat itu juga. Usapan lembut Sang Suami bagaikan obat tidur yang membuat matanya begitu berat.
Setelah memastikan Sang Istri tidur dengan nyenyak, barulah Lolan menyingkir dengan perlahan agar Sang Istri tak terbangun. Lolan menghela napas lega saat berhasil lepas dari pelukan Sang Istri. Setelah itu Lolan langsung turun dari ranjang, menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dengan terburu-buru.
Selesai membersihkan tubuhnya, Lolan langsung kembali ke atas ranjang dan memeluk erat Sang Istri. Karena merasa sudah sangat mengantuk, Lolan pun terlelap menyusul Sang Istri yang telah lebih dulu mengarungi dunia mimpi.
Pukul 04:15
Lolan terbangun kala mendengar suara tangisan Ziva yang membuatnya begitu panik. "Sayang, apa yang terjadi?" tanya Lolan khawatir.
"Panas dan sesak," tutur Ziva disela-sela tangisannya. Lolan langsung mendaratkan pandangannya ke arah AC.
"Sayang, AC-nya full, kamu merasa panas kenapa, Sayang?" tanya Lolan heran, jelas diirinya sama sekali tidak merasa kepanasan. Karena khawatir, Lolan mendaratkan salah satu telapak tangannya di kening Sang Istri. Namun, Lolan tak merasa hangat sama sekali, artinya Sang Istri baik-baik saja dan tidak demam seperti perkiraannya.
__ADS_1
"Aku merasa sesak, kamu pindah tidur di sofa saja." usir Ziva.