Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 112


__ADS_3

Perusahaan SON GRUP.


"Apa katamu? Bagaimana mungkin tidak ada!" bentak Adit murka kala mendengar ucapan supirnya yang sebelumnya dia tugaskan untuk menjemput Xena.


"Iya, Tuan. Saya menunggu hingga gerbang sekolah di tutup," jawabnya di sebarang sana.


"Bodoh!" bentak Adit langsung memutuskan panggilan, kemudian terus menelpon ke nomor Xena, tapi nomor Xena tidak aktif. Hal itu sukses membuat Adit merasa panik dan khawatir. Setelahnya, Adit membuat panggilan dengan Bibi Aslin, Calon Mertuanya.


Adit mengepalkan tangannya murka, kala Bibi Aslin juga mengatakan hal yang sama seperti Supirnya. Adit langsung menyambar jas dan kunci mobil akan pergi untuk mencari keberadaan Xena.


***


Tak peduli akan teriakan Xena yang mampu memekakan telinga, Ana tetap menyeret Xena keluar dari rumahnya. Suara-suara baku tembak begitu nyaring di telinga keduanya. Bala bantuan datang begitu tepat, hingga musuh-musuh berjatuhan sebelum sempat menyerang Ana dan Xena yang terus berlari menuju jalan raya.


"Aakh!" Xena tak henti berteriak ketika peluru terus menerus menghujam ke arah mereka. Meski bantuan datang untuk menyerang musuh, tidak dapat dipungkiri ada banyak musuh lainnya yang bersembunyi di balik pohon-pohon besar dan tempat lainnya, mereka menembak dari jauh. Beruntung Ana dan Xena terus berlari kencang hingga mereka pun kesulitan menembak tepat sasaran.


Ana terus menyeret Xena sambil menembak ke sembarang arah, sedangkan Xena malah membuang senjata yang diberikan Ana karena alasan berat.


Keduanya merasa begitu lega saat tiba di jalan raya. Ana dan Xena masuk ke dalam mobil sedan yang sudah menunggu lama.


Ana mendorong Xena masuk ke dalam mobil sedan itu, tepatnya di kursi belakang, setelahnya barulah giliran Ana yang masuk mengambil posisi duduk di samping Xena.

__ADS_1


Saat mobil mulai tancap gas, barulah Xena menyadari siapa yang duduk di kursi depan samping kemudi. Pria paruh baya itu mendongak kebelakang, menatap Xena dengan senyuman kecil.


"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya pria itu lembut membuat Xena tercengang.


"Da-daddy," ucap Xena terbata karena kaget dengan kehadiran Mertuanya. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Daddy Jonas bisa bersama dengannya?


Flashback On.


"Hallo," sapa Ana.


"Apa kamu mencari Ibumu?" tanya seseorang di seberang sana.


"Siapa kamu? Apa maumu? Di mana Ibuku?" tanya Ana dengan tubuh bergetar hebat, karena begitu yakin bahwa dirinya sedang berbicara dengan pelaku pencurian Ibunya. Sadar akan hal itu, dengan sigap Ana merekam obrolannya.


"Apa maumu?"


"Bunuh sahabatmu, Xena."


"Siapa kamu? Kenapa memintaku untuk membunuh Xena?" tanya Ana berusaha untuk tetap tenang.


"Kamu tidak perlu tahu siapa aku, yang perlu kamu tahu adalah keadaan Ibumu saat ini. Bila kamu menolak keinginanku, maka salahkan dirimu sendiri karena tidak mengikuti keinginanku," ancamnya, Ana mengepalkan tangannya membentuk tinjuan, dari raut wajahnya terlihat emosi yang sudah memuncak.

__ADS_1


"Baik, akan aku lakukan apa pun demi Ibuku. Katakan di mana kamu sekarang?" sahut Ana berpura-pura. Sebejat-bejatnya dia, pantang bagi Ana mengkhianati sebuah persahabatan, apalagi sampai harus membunuh.


Musuh salah menilainya, dari penampilan memang Ana terlihat adalah gadis yang licik. Tapi, hatinya tidak seperti itu, hanya keadaan yang memaksanya untuk menetap dalam kubangan lumpur yang begitu dalam hingga menghitamkan penampakannya. Hanya penampilannya yang hitam, tapi hatinya adalah putih dan bening seperti kristal.


"Tidak semudah itu untukmu mengambil alih Ibumu. Rencana sukses, maka Ibumu akan kuberikan."


Ana berdecih dalam hati, apakah dia terlibat sebodoh itu. Memang usianya baru delapan belas tahun, tapi pengalaman hidup yang berat, menempanya menjadi wanita kuat yang tidak takut dengan apa pun.


"Baik. Kirimkan alamatmu," ujar Ana dan orang misterius itu langsung memutuskan panggilan.


Ana mengeratkan genggaman pada ponselnya, raut wajahnya tampak begitu mengerikan seperti siap akan memakan orang hidup-hidup.


Ana menatap gedung kantor polisi di hadapannya, Ana menghela napas berat. Setelahnya, Ana langsung membalikkan badan karena akan langsung pergi ke tempat yang orang misterius itu titahkan.


Ana tercengang dengan mulutnya yang mengangga kala kaget dengan seorang pria paruh baya yang berdiri tegap di hadapannya.


"Om Jonas."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2