Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 123


__ADS_3

Pagi itu, Adit bangun lebih dulu, dia meregangkan otot-otot tubuhnya yang sakit akibat tak biasa tidur di sofa. Adit melihat Xena yang masih bergelung dalam selimutnya, setelah puas menatap Xena yang hanya terlihat rambutnya, barulah Adit melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Tuan, saya sudah membawa pakaian kotor Tuan. Setelan kerja Tuan sudah saya siapkan di atas sofa," kata seorang pelayan di luar sana.


"Baik, sekalian cuci juga alas Sofanya!" Adit berteriak dari dalam.


"Baik, Tuan," jawab pelayan itu langsung menuju sofa, melepaskan sprei putih di sana, kemudian menggantikannya dengan yang baru, tapi masih dengan warna dan corak yang sama.


Pelayan itu memasang alas sofa sambil melirik ke arah Xena yang masih terlelap di atas ranjang. "Kasihan Nona Xena, Tuan pasti sangat kasar semalam hingga dia tidak juga bangun sampai hampir siang begini," ucap pelayan itu menatap Xena kasihan.


"Kalau sudah selesai, kau boleh pergi!" usir Adit yang terlihat cemburu karena pelayan perempuan paruh bayah itu terus menatap Calon Istrinya.


"Baik, Tuan," pelayan itu pergi dengan terburu-buru karena takut akan amukan Tuannya.


"Hanya aku yang boleh memandangnya lama," batin Adit sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Kecemburuan ada di tingkat yang paling tinggi. Bahkan, dia tidak membiarkan pelayan wanita menatap Calon Istrinya lama. Sungguh di luar nalar.


"Xena, apa kamu tidak akan bangun?" Adit bertanya seraya memasangkan pakaian ke tubuh atletisnya.

__ADS_1


"Uhh, jam berapa sekarang?" tanya Xena hanya mengeluarkan suara tanpa ada pergerakan tubuh sedikit pun.


"Jam delapan pagi," jawab Adit cepat.


"Oh, jam delapan pagi," Xena kembali menarik selimutnya.


Beberapa detak kemudian ....


"Jam depalan pagi!" teriaknya langsung berlari terbirit-birit menuju kamar mandi, saat baru mengingat gerbang sekolahnya akan tertutup otomastis di jam itu.


"Untuk apa terburu-buru, kau juga sudah terlambat!" teriak Adit agar Xena mendengarnya.


"Tetap saja gerbang sudah di tutup, kau tidak akan bisa masuk ke kelas," sahut Adit membuat Xena kembali membuka pintu kamar mandi, saat ini dia tengah mencuci wajahnya dengan sabun khusus.


"Aku bisa manjat pagarnya."


"Tidak usah ke luar dari kamar mandi, kau bisa terpeleset," oceh Adit tidak suka dengan tingkah ceroboh Xena.

__ADS_1


"Iya-iya," ketus Xena kembali masuk ke dalam kamar mandi sambil mengoceh tak jelas, membuat lengkungan senyum di bibir Adit kala merasa gemas dengan tingkah imut Calon Istrinya itu.


Beberapa menit kemudian, Xena keluar dari kamar mandi, masih dengan menggunakan baju tidur milik Adit. Adit yang telah rapi dengan setelan kerjanya, kembali menelan saliva ketika melihat tubuh seksi Xena yang lagi-lagi menonjol karena dia tidak menggunakan bra maupun cd.


"Seragam sekolahku bagaimana?" tanya Xena panik karena dia tidak membawa seragam sekolahnya sama sekali.


"A—"


Tok, tok, tok ....


Ketukan pintu memotong ucapan Adit, Xena berlari kecil menuju pintu dan segera membukanya.


"Mommy," sambut Xena pada Calon Mommy Mertunya.


"Masuklah, Mommy," ajak Xena dan Mommy Adna pun langsung masuk ke dalam kamar sambil menatap Xena, Adit dan ranjang dengan ekspresi kecewa. Mommy Adna kecewa lantaran Adit belum menyentuh Menantunya. Xena juga tidak memakai lingerie, pasti Adit yang melarangnya. Pikir Mommy Adna.


"Kenapa Mommy, kenapa wajah Mommy terlihat sedih?" tanya Xena penasaran.

__ADS_1


"Mommy sedih karena kalian berdua belum cetak Cucu untuk Mommy."


__ADS_2