
"Aku akan membunuhmu!"
"Arrrgh!" teriak Lolan kesakitan saat Ziva menendang sel*ngkangannya dengan sekuat tenaga.
Lolan menjatuhkan tubuhnya ke samping dengan kedua tangan Membekap bagian terlarangnya guna meminimalisir rasa sakit. Melihat Lolan yang tak berdaya, Ziva segera berlari keluar dari Club dengan perasaan bersalah karena telah menendang senjata milik Lolan.
Walau merasa bersalah. Tapi, Ziva tetap berlari karena takut Lolan akan mengejarnya. Saat merasa sudah aman, Ziva berhenti di pinggir jalan sambil membungkukkan tubuhnya yang bergetar, dengan kedua telapak tangan di paha agar tubuhnya tetap seimbang.
Ziva menghirup udara agar dapat kembali bernapas dengan baik. "A-apakah dia a-kan baik sa-ja?" tanya Ziva pada dirinya sendiri seraya mengatur napasnya.
"Astaga, Xena bagaimana?" Ziva panik saat mengingat Xena.
Xena, Xena masih berada di Club itu. Ziva merasa panik karena khawatir pada keponakannya Xena yang masih berada di dalam Club. Tapi, tidak mungkin Ziva kembali ke sana. Pasti pria itu mencarinya saat ini, Ziva bingung harus melakukan apa.
Namum, bagaimana pun dia harus membawa Xena pulang karena Bibi Aslin sudah menitipkan Xena kepadanya. Walau Xena adalah keponakan yang semena-mena, tapi Ziva tetap menyayangi Xena.
Ziva begitu mengerti bagaimana sifat Xena. Xena adalah gadis baik yang berubah karena salah pergaulan. Ziva tau betul hal itu, Ziva tau dua sahabat yang dekat dengan Xena bukanlah perempuan baik-baik. Ana dan Cristi, keduanya pasti tidak akan menyerah untuk memberikan pengaruh buruk kepada Xena. Sifat Xena yang gampang terpengaruh, dimanfaatkan oleh kedua sahabatnya itu untuk membawa Xena mengikuti jalur sesat mereka.
__ADS_1
Tidak punya pilihan lain, Ziva harus kembali ke tempat tadi. Tempat di mana dirinya bertemu dengan pria yang hampir saja akan membunuhnya. Ziva sangat khawatir, Ziva tidak ingin terjadi apa-apa kepada Xena. Bila terjadi sesuatu, maka dirinyalah yang akan disalahkan.
Ziva menghirup napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, begitu merasa tentang serta yakin, Ziva pun membalikkan badan, berputar arah, kembali berjalan maju ke tempat yang tadinya dia hindari. Kali ini, Ziva sangat berhati-hati. Setiap ada sinar lampu motor atau sinar lampu mobil yang lewat, Ziva langsung bersembunyi.
***
"Om Dokter, tiduri aku!" teriak Xena sambil memeluk tubuh kekar Dokter Adit erat.
"Maaf, Nona. Sepertinya Nona salah orang, lepaskan saya!" pinta Dokter Adit melepaskan tangan Ziva yang memeluknya begitu erat.
"Lepaskan saya, atau saya akan—"
"Akan apa? Ayolah Dokter, aku berjanji tidak akan meminta uang apalagi status, aku hanya ingin tidur bersamamu, aku ingin Dokter yang menjadi laki-laki pertama bagiku, aku mohon tiduri aku. Tidak apa-apa bila aku dijadikan Sugar Baby," Dokter Adit membulatkan matanya sempurna, bukan karena ucapan gadis aneh yang kini masih menempel di tubuhnya. Melainkan, karena tangan nakal Xena di bawah sana, sudah meremas senjata miliknya, membuat benda perkasa itu berdiri begitu saja.
Dokter Adit langsung mendorong Xena hingga Xena terhentak di lantai dengan meringis kesakitan. Dokter Adit begitu kaget akan kelakukan tangan nakal Xena, hingga membuatnya tanpa sadar telah melukai gadis aneh itu.
Dokter Adit membalikkan badannya, mencoba mengabaikan ocehan Xena yang membuatnya merasa bersalah. Tak peduli, Dokter Adit yang emosi berjalan meninggalkan Xena di sana.
__ADS_1
"Akhh, lepaskan! Aku tidak mau dengan kalian, lepaskan aku!" Teriak Xena kala diganggu oleh tiga orang pria mabuk.
"Nona sudah di tolak oleh Dokter Adit, bersama kita saja, ya? Kita bertiga akan memberikan pengalaman pertama yang begitu mengesankan bagi Nona, bagaiamana?" bujuk seorang pria kurus dengan rambut ikalnya.
"Benar, Nona. Kami akan memberikan pelayan terbaik untuk Nona," sambung lainnya seraya mengeryangi tubuh semok Ziva.
Aaarrrgghh ....
.
.
.
__ADS_1