Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 164


__ADS_3

"Sayang, ayo kita pulang," ajak Adit langsung menarik jemari Sang Istri yang tengah asik menyantap makanan enak di hadapannya.


"Ih bentar, Sayang. Dikit lagi abis," Xena menepis tangan Sang Suami dan kembali fokus pada makanannya. Sedangkan para tamu yang juga tengah makan menatap Adit heran kala melihat kemejanya yang berlumuran darah segar.


"Tuan, anda terluka parah," imbuh pengawal yang berdiri di hadapannya. Mendengar ucapan pengawal yang menjaganya, Xena terlihat diam. Xena menatap jemarinya yang juga ada bercak darah. Perlahan, Xena menaikkan pandangannya.


"Sayang!" teriak Xena kaget kala melihat darah segar menetes dari tangan Adit.


"Aku baik-baik saja, Sayang. Ayo pulang sekarang!" Adit langsung menyeret Xena hingga menuju parkiran, sedangkan pengawal yang tadinya menjaga Xena, bergerak sigap memberikan peringatan kepada para tamu untuk tidak menyebarkan gambar yang mereka ambil. Para tamu yang ketakutan, tentu tidak akan berani berbuat sembarangan karena mereka sudah tahu siapa pria tadi.


Tiba di mobil, Adit duduk di kursi belakang bersama dengan Xena yang kini tengah menangis histeris kala melihat ada banyak luka di punggung Suaminya.


"Aku tidak baik-baik saja, Sayang. Tidak usah khawatir," bujuk Adit melepaskan kemejanya dengan perlahan, Xena turut membantu melepaskan dengan tangan yang bergetar.


"Apa Pak Aldri yang melakukannya?" tanya Xena disela-sela tangisannya.


"Kalau iya, kamu mau melakukan apa padanya?" tanya Adit malah menyunggingkan senyumnya.


"Akan aku habisi dia, kamu juga tidak usah sok kuat di hadapanku, aku tahu kamu kesakitan," Xena menangis semakin histeris. Setelahnya, pengawal tiba dan langsung masuk ke dalam mobil tepatnya di kursi kemudi.

__ADS_1


"Om Pengawal, cepatlah tancap gas! Kita ke rumah sakit sekarang!" titah Xena kesulitan bicara lantaran masih terisak.


"Tidak, pulang ke rumah saja," ralat Adit yang langsung pulang dan tidak ingin ke rumah sakit.


"Kamu ini bagaimana?" bentak Xena.


"Obati di rumah saja, Sayang. Ini hanya luka kecil, tidak dalam sama sekali. Hanya tergores dan tidak perlu jahitan," jelas Adit kepada Xena yang tak kunjung berhenti menangis.


"Tapi Sayang—"


"Sudah tidak apa-apa, lebih baik kamu ambil kotak p3k di bawah kursimu dan bantu aku bersihkan punggungku dari darah itu," ujar Adit dan Xena langsung mengambil kotak p3k yang tersembunyi di bawa tempat duduknya. Adit pun membalikkan tubuhnya, sedangkan Xena mulai menuangkan alkohol ke kapas dan segera membersihkan luka yang cukup banyak di punggung Adit.


"Katakan padaku kalau sakit, aku akan melakukannya pelan-pelan," imbuh Xena membersihkan luka itu masih dengan tangannya yang bergetar.


"Sayang," panggil Adit lengkap dengan ringisan di wajahnya.


"Hem," jawab Xena berkonsentrasi penuh mengoleskan obat merah ke sekujur luka di punggung Adit.


"Misal ada laki-laki lain yang menyukaimu, kamu akan melakukan apa?" tanya Adit dengan suara pelan hampir tak terdengar.

__ADS_1


"Biasa saja, dari dulu juga banyak yang menyukaiku. Tapi, yang aku suka cuma kamu," jawab Xena tanpa menoleh dan mulai membalut punggung Adit dengan kain kasa. Mendengar jawaban Sang Istri, Adit menyunggingkan senyuman puasnya.


"Selesai, sekarang kemarikan tanganmu," pinta Xena dan Adit pun berbalik badan lalu mengulurkan tangan kirinya yang terluka kepada Sang Istri tercinta untuk di obati.


"Sayang, ini lukanya dalam. Bagaimana? Bukankah perlu dijahit?" tanya Xena bergidik ngeri melihat luka di punggung tangan Adit yang cukup parah.


"Bersihin saja, Sayang. Sampai rumah ada yang akan menjahitnya."


"Benarkah?"


"Hem."


Beberapa menit kemudian, mobil pun terparkir di halaman Mansion keluarga Jonason. Adit dan Xena keluar dari mobil dan langsung masuk menuju kamar. Seorang pengawal yang pandai menjahit luka pun ikut bersama.


Pengawal itu menjahit luka Adit dengan baik dan rapi, setelah urusannya selalu, pengawal itu pun langsung keluar dari kamar Tuannya. Adit berbaring menyamping agar tak menghimpit lukanya.


"Apa ada yang bisa aku lakukan untukmu, Sayang?" tanya Xena duduk di pinggir ranjang.


"Ada," jawab Adit dengan raut wajah mencurigakan. Jika ekspresinya begitu, tampak dia ingin mengerjai Xena.

__ADS_1


"Apa?"


"Aku mau ....


__ADS_2