Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 167


__ADS_3

Keesokan paginya, seperti biasa Adit yang lebih dulu bangun dari Sang Istri. Perlahan Adit bangkit dari posisi nyamannya yang semula memeluk Xena erat.


Awalnya Adit ingin membangunkan Xena untuk meminta bantuan kepada Sang Istri. Namun, hal itu urung Adit lakukan kala tak tega melihat Xena yang tertidur begitu pulasnya.


Adit mengecup kening Xena lembut, lalu dia segera turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hanya beberapa menit Adit di dalam kamar mandi, setelahnya dia langsung keluar karena merasa lukanya cukup perih ketika terkena cipratan air. padahal, Adit sudah berusaha melindungi lukanya, tapi tetap saja ada bagian yang tak sengaja terciprat.


Walau perih melanda lukanya, tapi Adit masih dapat tersenyum senang kala melihat wajah polos Xena yang masih terlelap. Tanpa memasang pakaian terlebih dahulu, Adit lebih memilih duduk di ranjang dan membelakangi Xena.


Adit melepaskan perban yang menutupi lukanya, terutama luka ditangan kirinya karena luka di sanalah yang paling parah. Setelah itu, Adit kembali membalut luka di tangannya dengan perban yang baru.


"Sayang," panggil Xena lembut.


"Iya, Sayang. Sudah bangun?"


"Belum, masih rebahan." jawab Xena setengah sadar. Xena meliuk-liukan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, mengusap matanya perlahan, kemudian berulah dapat memandang di sekitar dengan jelas.


"Kamu ngapain, Sayang?" tanya Xena langsung bangkit.

__ADS_1


"Cuma bersihin luka," jawab Adit yang telah selesai menutup luka di tangannya.


"Ih, kenapa enggak bangunin aku, Sayang. Kan aku bisa bantuin." oceh Xena langsung mengambil alih perban dari tangan Adit yang masih membelakanginya.


"Ya sudah, kamu bantu ganti perban di punggungku," kata Adit dan Xena melakukan tugasnya dengan baik. Hingga Menganti perban luka Adit dengan sempurna.


"Oh iya, Sayang. Kamu belum menceritakan kepadaku tentang luka yang kamu dapatkan ini. Semalam kamu langsung tidur setelah aku mandi," tagih Xena meminta Adit untuk menceritakan kepadanya tentang apa yang terjadi antara Sang Suami dan Gurunya Pak Aldri.


"Apa Guru bejat itu masih menolak untuk bertanggung jawab?" lanjut Xena bertanya serius.


"Hem, dia tidak mengakui kalau anak yang sahabatmu kandung adalah darah dagingnya. Tapi, kamu tenang saja, kita bisa melakukan test DNA antara mereka. Tapi, test DNA itu baru bisa dilakukan di usia 3 bulan kandungan. Jadi, kita masih harus menunggu 12 minggu lagi untuk mendapatkan bukti," terang Adit detail.


"Kamu punya rencana apa, Sayang?" tanya Adit penasaran, siapa tahu Istrinya yang kurang se-on itu menyimpan kecerdasan tersembunyi di otaknya, hingga punya rencana yang lebih menarik dari rencana yang dia buat.


"Tidak ada rencana," jawab Xena masih dengan ekspresi wajahnya yang menakutkan. Sedangkan Adit lemas seketika saat mendengar ucapan Sang istri yang ternyata tidak punya rencana sama sekali.


"Lalu, kamu mau melakukan apa, Sayang?" tanya Adit sambil menghela napas berat.


"Mencincang tubuhnya menjadi beberapa bagian," jawab Xena dengan ekspresi seriusnya. Bahkan, Adit sampai bergidik ngeri, tumben Istrinya menunjukkan tingkah menyeramkan itu. Sepertinya, Xena benar-benar murka kepada Aldri.

__ADS_1


Adit merasa lega, dengan begitu, setidaknya Xena tidak akan tertarik bila saja Aldri menggodanya. Dan Adit tak perlu khawatir karena selamanya Xena akan tetap menjadi Istrinya tercinta.


Adit pun bangkit dari duduknya, membuka lemari dan mencari setelan kerjanya seorang diri.


Sedangkan Xena langsung masuk ke dalam kamar mandi. Adit menggelengkan kepalanya melihat Xena yang tidak menyadari ada banyak bercak darah yang berceceran di atas ranjang. Setelah memasang pakaian, Adit segera melepaskan alas kasurnya.


Tak lama, seorang pelayan masuk ke dalam kamar dan memasang alas kasur yang baru. Adit lebih memilih duduk di sofa dan berselancar di atas laptopnya.


Beberapa menit kemudian.


"Sayang, kenapa tidak pakai seragam sekolahmu?" tanya Adit melihat Xena yang telah rapi dengan gaun berwarna pink muda yang sederhana.


"Aku nggak sekolah. Aku mau jengukin Cristi untuk hari ini," jawab Xena mendekat dan duduk di samping Adit.


"Baiklah, ayo berangkat," ajak Adit dan keduanya pun segera pergi setelah sarapan bersama dengan Mommy Adna dan Daddy Jonas yang telah pulang.


"Telpon aku bila ingin pulang, aku akan menjemputmu," pesan Adit sebelum pergi, setelahnya Adit langsung berangkat ke kantor dengan terburu-buru karena ada meeting penting pagi itu.


Xena melambaikan tangannya melepas kepergian Sang Suami. Setelah mobil itu menjauh, barulah Xena membalikan badannya untuk masuk ke dalam rumah Cristi.

__ADS_1


"Pak Aldri."


__ADS_2