
"Kak Ziva, gimana malam pertamanya? Apa enak?" tanya Xena sambil menghamburkan tubuh seksinya ke dalam pelukan Sang Kakak.
"Xena, jaga bicaramu! Ayo Ziva, Lolan, duduk dulu," Bibi Aslin murka kala malu dengan kelakukan Sang Putri. Sedangkan Dokter Adit yang duduk di sofa hanya dapat menggelengkan kepala kala mendengar pertanyaan aneh Calon Istrinya.
"Ibu kenapa, sih? Kan aku cuma nanya aja?" oceh Xena duduk tepat di sebelah Dokter Adit.
"Pertanyaan-mu terlalu vulgar. Lima hari lagi kamu juga akan merasakannya," papar Dokter Adit karena gemes dan langsung menjitak pelan kening Xena, Xena pun merasa keningnya yang tidak merasakan sakit sama sekali.
"Merasakan apa? Dokter sudah dua kali masuk, aku sudah tidak perawan lagi!" ketus Xena kesal.
"Separuh, Xena. Cuma separuh, tidak masuk semuanya!" balas Dokter Adit mulai emosi.
"Sudah-sudah. Adit, kenapa kamu jadi ketularan Xena?" celetuk Lolan yang geram dengan kelakuan pasangan itu. Keduanya diam sambil mengalihkan pandangan masing-masing.
"Persiapan pernikahan-mu bagaimana, Xena?" tanya Ziva memecah lenggang.
"Tidak ada persiapan apa pun, Kak. Pernikahannya tertutup, bahkan Dokter Adit melarangku untuk mengundang teman-temanku," Xena semakin kesal kala kembali mengingat perdebatan sebelumnya.
"Bagus kalau begitu, Sayang. Sekolahmu akan aman, tidak usah ceritakan hal ini kepada Ana dan Cristi," sahut Ziva membuat Xena memandangnya cemberut.
__ADS_1
"Mereka berdua teman dekatku, Kak. Mana mungkin aku menyembunyikan kabar membahagiakan ini kepada mereka berdua. Sebajat-bejatnya mereka berdua, mereka adalah sahabatku yang selalu setia," jelas Xena keukeuh ingin memberitahu Ana dan Cristi tentang pernikahannya.
"Apa kamu tidak takut mereka akan membocorkan pernikahanmu? Kamu bisa dikeluarkan dari sekolah. Tanggung, Xena. Sekolahmu hanya tinggal menghitung bulan," sahut Ziva.
"Mereka berdua temanku, Kak."
"Temanmu itu punya teman, temannya itu juga punya teman lagi."
Xena diam lalu menghela napasnya cepat. "Baiklah, aku tidak akan memberitahu dan juga tidak akan mengundang mereka berdua," jawab Xena pada akhirnya mengalah. Dokter Adit mengembangkan senyumnya karena senang kala Ziva berhasil membuat Xena mengalah.
"Luka bekas operasimu bagaimana? Apa masih sakit?" tanya Ziva lagi.
"Kakak juga sudah tidak sakit lagi," jawab Ziva tersenyum kecil.
"Kalau yang itu, apa masih sakit?" tunjuk Xena ke arah pangkal paha Kakaknya.
"Xena!" Pekik Dokter Adit dan Bibi Aslin bersamaan.
***
__ADS_1
Setelah drama di ruang tamu. Kini, Ziva dan Xena tengah berada di dapur, sedang menyiapkan makan siang.
"Dokter Adit suka makan apa, Xena?" tanya Ziva membuka kulkas yang berisi beragam macam sayuran seger, daging, ikan, ayam, seafood dan jenis bahan makanan lainnya yang selalu disiapkan oleh orang suruhan Mommy Adna.
"Hem ... Suka makan apa, ya? Oh iya, Dokter Adit suka makan aku, kak. Haha ..." tawa Xena menggelegar kala merasa lucu dengan jawabannya sendiri. Sedangkan Ziva hanya menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan kelakuan Xena yang semakin menjadi-jadi.
"Kakak serius, Xena," kesal Ziva.
"Aku nggak tahu, Kakak Sayang. Memangnya Kakak tahu makanan apa yang Kakak ipar sukai?" tanya balik Xena membuat Ziva terdiam, Ziva baru sadar bahwa dirinya juga tidak tahu makanan apa yang Lolan sukai.
"Tuhkan, Kakak juga nggak tahu. Jadi, sekarang kita masak apa?"
"Masak semuanya saja, steak daging, sup ikan, dan tumis sayuran lainnya," jawab Ziva mengeluarkan beberapa bahan makanan dari kulkas.
"Salad juga, Kak. Aku mau diet, beratku naik tiga kilogram. Takutnya nanti setelah menikah, pas malam-malam aku disuruh di atas, Dokter Adit bisa remuk. Haha ...."
.
.
__ADS_1
.