Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 102


__ADS_3

"Yang luka, kan, kakimu sayang. Bukan yang ini."


"Aaahhhh ...."


"Lo-lan ahh ... Ra-ranjangnya?" tanya Ziva saat Lolan mulai menyingkap gaunnya.


"Akan aku lakukan perlahan," jawab Lolan yang kini beralih menyingkirkan sedikit cd pink itu, hingga mendapatkan sedikit ruang.


"Awalnya saja, lama-lama juga ahhhh ...."


Lolan mengelus bagian inti Ziva perlahan, memberikan sensasi menggilakan bagi Ziva, aliran darahnya tiba-tiba berdesir.


"Kamu sudah basah, langsung saja, ya?" Lolan membuka separuh celananya, langsung mengarahkan dan memposisikan senjata miliknya yang memang sudah bangun sedari tadi.


"Pelan-pelan, Lo-lan ahhhh ..." lenguh Ziva saat Lolan mulai melakukan penyatuan. Kali ini, Lolan menepatinya janjinya, dia menyatukan tubuhnya dan Ziva dengan begitu perlahan. Ziva yang masih menyamping, hanya menggenggam erat selimut untuk melampiaskan kenikmatan yang tiada tara kala senjata pusaka milik Lolan sudah masuk setengahnya.


"Sial, kenapa masuk saja sempit!" umpat Lolan terus menakan. Meski geram, tapi Lolan tetap melakukannya secara perlahan agar Ziva tidak lagi merasa sakit.


"Arrrgh!" Lolan langsung menutup mulut Ziva, ketika Istrinya itu berteriak kala tubuh mereka mulai menyatu sepenuhnya.


"Tidak sakit, kan, Sayang?" tanya Lolan masih belum menggerakkan tubuhnya, dia masih menikmati sensasi pijatan di bawah sana, membuat tubuh Ziva terus bergetar tak terkendali.


"Sa-kit ahh," lenguh Ziva ketika Lolan mulai bermain di bawah sana, membuatnya kembali merasa terbang di udara. Malam panas antara keduanya kembali terjadi untuk yang kedua kalinya. Selanjutnya, hanya suara pelan keduanya yang terdengar samar-samar, beruntung Xena di bawa Bibi Aslin ke kamarnya. Jadi, Xena tidak akan lagi menggangu.


***

__ADS_1


"Sayang, apa masih belum bangun?" tanya Lolan santai sambil mengancingkan bajunya, dia telah selesai mandi dan sudah berpakaian rapi. Sementara Ziva masih bergelung dalam selimutnya.


"Tubuhku remuk," sahut Ziva dengan mata yang masih terpejam.


"Sudah siang, Sayang. Bibi Aslin dan Xena pasti sudah menunggu di ruang makan," jelas Lolan mendekat.


"Memangnya jam berapa?" Ziva mulai mengusap pelan matanya.


"Jam tujuh tiga puluh."


"Oh, jam tuju tiga puluh," balas Ziva pelan sambil menarik kembali selimutnya.


"Kenapa tidur lagi?"


"Sudah tidak ada lagi waktu, Sayang," Lolan menyibakkan selimut tebal yang menutupi tubuh polos Ziva, dan langsung mengangkat tubuh mungil itu menuju kamar mandi.


"Lolan lepaskan aku! Kakiku terluka, bagaimana mungkin aku mandi? Aku tidak mau mandi," sesungguhnya Ziva sangat ingin membersihkan tubuhnya yang lengket. Tapi, Ziva lebih memilih tidak mandi daripada mandi, karena bila tubuhnya wangi, kemungkinan Lolan akan melahapnya akan sangat besar.


"Yang luka kakimu, Sayang. Bukan tubuhmu," Lolan meletakkan Ziva perlahan ke dalam buthub yang sudah dia isi dengan air hangat dan sabun cair aroma mawar.


"Mandilah, aku tidak akan mengganggu", Lolan keluar dari kamar mandi, lalu memilih duduk di pinggir ranjang yang tepat menghadap ke arah kamar mandi yang sudah tidak memiliki pintu.


"Tidak menggangu, tapi hanya menontonku. Dasar Suami mesum!" umpat Ziva dalam hati.


***

__ADS_1


"Kak Ziva kenapa lama, sih? Ibu tidak mengizinkan aku sarapan sebelum Kakak datang," keluh Xena yang sudah siap untuk segera menyantap sarapannya.


"Maaf, Xena. Karena kaki Kakak sakit, jadi mandinya membutuhkan waktu yang lumayan lama," jawab Ziva beralasan. Lolan membantu Ziva untuk duduk di kursi.


"Oh iya. Ngomong-ngomong Kakak kenapa bisa terluka?" tanya Xena sambil melahap sarapannya.


"Hanya terpeleset saat sedang mandi, sekarang sudah lebih baik."


"Hati-hati Kakak. Apa Kakak tahu? Di Negera kita, setiap tahunnya ada sekitar 235 ribu orang di atas usia 15 mengunjungi ruang gawat darurat karena cedera yang diderita akibat jatuh di kamar mandi, dan hampir 14 persen dirawat di rumah sakit. Tidak hanya di rawat, juga ada yang meninggal dunia," jelas Xena bangga seakan menunjukkan bahwa dirinya sangatlah cerdas.


"Tumben Adikmu cerdas?" tanya Lolan meledek.


"Adikku memang cerdas dan hebat," puji Ziva seraya mengelus kepala Xena lembut.


"Haha ... Sebenarnya aku hanya membaca berita itu saja," ujar Xena sambil menunjuk ke arah televisi yang sedang memberitakan seorang model yang meninggal dunia karena jatuh di kamar mandi.


"Pantas," Bibi Aslin yang hampir saja percaya jika anaknya itu banar-benar cerdas.


"Dokter Adit sudah menunggu di depan. Aku berangkat duluan. Dadah semuanya."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2