
Setelah selesai menyuapi Sang Istri makan. Adit pun segera naik ke atas ranjang, Adit baring di samping Xena, mengusap perut datar itu agar nyeri yang dirasa dapat sedikit berkurang.
"Tidurlah, bukankah besok kamu harus sekolah?" tanya Adit bermaksud mengingatkan.
"Loh, masak iya pengantin baru harus sekolah. Nggak mau ah, pokoknya besok libur," keukeuh Xena menyampingkan tubuhnya.
"Besok kamu ujian, Sayang."
Seketika Xena membalikkan badannya hingga menatap wajah tampan Sang Suami. "Jadi, kalau malam ini kamu jadi melahapku. Maka, besok aku akan ke sekolah dengan—"
"Jangan banyak berpikir, sekarang tidurlah," Adit menarik pinggang ramping Xena, mendekapnya dengan penuh cinta. Sementara Xena memposisikan tangan itu hingga berada di bawah perutnya. "Usap lagi," pinta Xena dan Adit pun langsung memutar-mutarkan tangannya di perut Sang Istri hingga Xena pun terlelap karena merasa begitu nyaman.
Begitu Xena benar-benar telah tidur nyenyak, Adit pun berniat akan turun ke bawah untuk mengisi perutnya yang terasa lapar. Ketika membuka pintu kamarnya, Adit dibuat kaget dengan kehadiran Sang Mommy yang menguping di daun pintu kamarnya.
"Mommy, Mommy ngapain?" tanya Adit mengerutkan aslinya.
__ADS_1
"Akhirnya kamu keluar juga, ayo ikut Mommy," ajak Mommy Adna langsung menyeret Sang Putra turun ke lantai bawah, tepatnya di ruang tamu. Di sana sudah ada Daddy Jason dan Bibi Aslin yang sedang berkumpul duduk dengan rapi. Sedangkan pesta pernikahan telah bubar sedari tadi.
"Ada apa ini? Ada acara apa?" tanya Adit heran.
"Duduklah dulu," ujar Mommy Adna memaksa Adit untuk duduk.
"Begini Adit, Ibu Mertuamu tidak ingin Xena hamil dulu. Sedangkan Mommy-mu sangat menantikan kehadiran seorang Cucu. Bagaimana pendapatmu?" tutur Daddy Jason menjelaskan.
"Kenapa Ibu tidak mengizinkan Xena hamil? Apa Ibu masih tidak percaya kepadaku? Ibu, aku serius mencintai Putrimu, aku berjanji akan menjaganya dengan nyawaku," tegas Adit serius.
"Apa?" tanya semua orang bersamaan.
"Kalian tahu bagaimana tingkah polos Xena dan—"
"Nyonya, saya juga tak kalah polos dan bodohnya dari Xena. Tapi, saya bisa hamil melahirkan hingga menghasilkan Adit yang jenius," potong Mommy Adna mengakui kebodohannya.
__ADS_1
"Sayang, kamu itu tidak bodoh," Daddy Jonas merangkul Sang Istri tercinta.
"Tapi unik, apa bedanya," kesal Mommy Adna.
"Bukan hanya itu yang saya cemaskan, Nyonya. Saya tidak ingin Xena hamil karena usianya yang masih muda dan lagi dia masih sekolah. Di usinya yang masih belia, saya takut terjadi sesuatu kepadanya. Adit, Ibu mohon tunggulah sebentar lagi. Setidaknya, hingga usia Xena benar-benar matang. Ibu tidak ingin terjadi apa-apa kepada Xena, Ibu tidak merawatnya dengan baik, ibu juga tidak melakukan tugas sebagai seorang Ibu kepadanya. Ibu baru menyadari semua itu ketika dia sudah beranjak remaja, tapi Ibu tetap tidak bisa merawatnya karena sudah ada kalian yang akan merawatnya. Ibu tidak ingin tejadi apa-apa kepadanya," terang Bibi Aslin panjang kali lebar.
Tapi, sepertinya Mommy Adna, Daddy Jonas dan juga Adit, terlihat menunjukkan ekspresi sedihnya Karen mereka juga mengkhawatirkan kondisi Xena yang masih begitu muda untuk hamil serta melahirkan.
"Baiklah, saya akan menundanya," tegas Adit memecah lenggang, keputusan yang berat Adit ambil. Dari raut wajahnya tersirat begitu besar kesedihan, begitu pun Mommy Adna yang tak kuasa menahan tangisnya. Walau berhasil menikahkan Putranya, tapi dia tetap masih harus menunggu lama untuk mendapatkan seorang Cucu.
"Terima kasih, Adit. Dan maaf."
"Tidak apa-apa, Ibu. Kamu mengerti perasaanmu."
Tanpa mereka semua sadari, ada sepasang mata dan telinga yang melihat dan mendengar semua diskusi empat orang di ruang tamu itu.
__ADS_1